Tampilkan postingan dengan label heru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label heru. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

FASIES

Fasies

Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di sekelilingnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan James, 1992).
Menurut Silley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen, yang merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya :
1. Geometri :
a) regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi, reef dan chanel)
b) intra-reservoir dari wireline log ( ketebalan dan distribusi reservoir )
2. Litologi : dari cutting, dan core ( glaukonit, carboneous detritus ) dikombinasi dengan log sumur (GR dan SP)
3. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side wall core.
4. Struktur sedimen : dari core

Model Fasies ( Facies Model )
Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model fasies adalah suatu model umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus ( Walker , 1992).
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan sebagai ukuran yang bertujuan untuk membandingkan framework dan sebagai penunjuk observasi masa depan. model fasies memberikan prediksi dari situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan, menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang diperoleh secara acak.
Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :
a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga dimensi, dan bentuk lain ilustrasi grafik dasar pengendapan framework.
b) Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan deposisi oleh waktu .
c) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple, analisis trend permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk mengetahui beberapa parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi respon dari suatu elemen dengan elemen lain dalam sebuah proses respon model.
2.4.2 Facies Sequence
Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional ( sea level change ). Sekuen analog dengan litostratigrafi, hanya ada perbedaan sudut pandang. sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
1. membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
2. terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
3. mempunyai suatu nilai dalam kronostratigrafi.
4. selaras yang berurutan dalam kronostratigrafi.
5. batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening upward.
2.4.3 Asosiasi Fasies
Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu lapisan atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan karakteristik litologi, geometri dan sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh batuan dalam berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses dimana fasies-fasies itu terbentuk.
Sekelompok asosiasi fasies endapan fasies digunakan untuk mendefinisikan lingkungan sedimen tertentu. Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di sebuah fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan bersama-sama untuk menentukan fasies fluvial asosiasi.
Pembentukan dibagi menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas. Litologi sedimen ini menggambarkan lingkungan yang didominasi oleh braided stream berenergi tinggi.
a. Asosiasi fasies 1
Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintas-stratifikasi, tinggi energi braided stream yang membentuk dataran outwash sebuah sistem aluvial. Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.
b. Asosiasi fasies 2
Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini kadang-kadang terganggu oleh lensa dari FA1 sedimen. Bed berada di seluruh tipis, planar dan disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk tebal 2 meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang membentuk litologi dominan fasies ini.
Sudut rendah (<20 °), lintas-bentuk batu pasir berlapis unit hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-kadang mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini adalah ke arah selatan timur - hingga lereng - dan memperkuat interpretasi mereka sebagai eolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan padat berisi fosil jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang mungkin terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan hosting mungkin pencipta jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa, alih-alih acara musiman, kadang-kadang innundation didasarkan pada peristiwa-peristiwa tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda tabel, dan mengubah aliran kursus.
c. Asosiasi fasies 3
Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan clastic terwakili dalam rekor sedimen tdk halus, diurutkan buruk, fining upward ( menjadi semakin halus ke arah atas ), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal. Jejak fosil langka. Braided stream disimpulkan sebagai kontrol dominan pada sedimentasi di fasies ini.
d. Asosiasi fasies 4
Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah lingkungan di pinggiran laut. Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki) hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada unit dasar arus overlain oleh riak. Baik shale batu pasir dan batugamping juga ada. Unit atas sangat bioturbated, dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya ditemukan di lingkungan laut.

Hubungan Antara Fasies, Proses Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan
Lingkungan pada semua tempat di darat atau di bawah laut dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia yang berlaku dan organisme yang hidup di bawah kondisi itu pada waktu itu. Oleh karena itu suatu lingkungan pengendapan dapat mencirikan proses-proses ini. Sebagai contoh, lingkungan fluvial (sungai) termasuk saluran ( channel ) yang membawa dan mengendapkan material pasiran atau kerikilan di atas bar di dalam channel.
Ketika sungai banjir, air menyebarkan sedimen yang relatif halus melewati daerah limpah banjir ( floodplain ) dimana sedimen ini diendapkan dalam bentuk lapis-lapis tipis. Terbentuklah tanah dan vegetasi tumbuh di daerah floodplain. Dalam satu rangkaian batuan sedimen channel dapat diwakili oleh lensa batupasir atau konglomerat yang menunjukkan struktur internal yang terbentuk oleh pengendapan pada bar channel. Setting floodplain akan diwakili oleh lapisan tipis batulumpur dan batupasir dengan akar-akar dan bukti-bukti lain berupa pembentukan tanah.
Dalam deskripsi batuan sedimen ke dalam lingkungan pengendapan, istilah fasies sering digunakan. Satu fasies batuan adalah tubuh batuan yang berciri khusus yang mencerminkan kondisi terbentuknya (Reading & Levell 1996). Mendeskripsi fasies suatu sedimen melibatkan dokumentasi semua karakteristik litologi, tekstur, struktur sedimen dan kandungan fosil yang dapat membantu dalam menentukan proses pembentukan. Jika cukup tersedia informasi fasies, suatu interpretasi lingkungan pengendapan dapat dibuat. Lensa batupasir mungkin menunjukkan channel sungai jika endapan floodplain ditemukan berasosiasi dengannya. Namun bagaimanapun, channel yang terisi dengan pasir terdapat juga di dalam setting lain, termasuk delta, lingkungan tidal dan lantai laut dalam. Pengenalan channel yang terbentuk bukanlah dasar yang cukup untuk menentukan lingkungan pengendapan.
Fasies pengendapan batuan sedimen dapat digunakan untuk menentukan kondisi lingkungan ketika sedimen terakumulasi. Lingkungan sedimen telah digambarkan dalam beberapa variasi yaitu :
1. Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang menunjukkan sifat khas dari setting pengendapan [Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun [Krumbein dan Sloss, 1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika, kimia, dan biologi dari daerah yang berdekatan [Selley, 1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan mempengaruhi pertumbuhan sedimen secara konstan untuk membentuk pengendapan yang khas [Shepard dan Moore, 1955].
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan.

MINYAK BUMI

Minyak bumi (Crude Oil) dan gas alam merupakan senyawa hidrokarbon. Rantai karbon yang menyusun minyak bumi dan gas alam memiliki jenis yang beragam dan tentunya dengan sifat dan karakteristik masing-masing. Sifat dan karakteristik dasar minyak bumi inilah yang menentukan perlakuan selanjutnya bagi minyak bumi itu sendiri pada pengolahannya. Hal ini juga akan mempengaruhi produk yang dihasilkan dari pengolahan minyak tersebut.
Berdasarkan model OWEM (OPEC World Energy Model), permintaan minyak dunia pada periode jangka menengah (2002-2010) diperkirakan meningkat sebesar 12 juta barel per hari (bph) menjadi 89 juta bph atau tumbuh rata-rata 1,8% per tahun. Sedangkan pada periode berikutnya (2010-2020), permintaan naik menjadi 106 juta bph dengan pertumbuhan sebesar 17 juta bph.
Pengetahuan tentang minyak bumi dan gas alam sangat penting untuk kita ketahui, mengingat minyak bumi dan gas alam adalah suatu sumber eneri yang tidak dapat diperbaharui, sedangkan penggunaan sumber energi ini dalam kehidupan kita sehari-hari cakupannya sangat luas dan cukup memegang peranan penting atau menguasai hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh minyak bumi dan gas alam digunakan sebagai sumber energi yang banyak digunakan untuk memasak, kendaraan bermotor, dan industri, kedua bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa-sisa organisme sehingga disebut bahan bakar fosil.
Minyak bumi ( bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin: petrus ) , dijuluki juga sebagai emas hitam adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan yang mati sekitar 150 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa organisme tersebut mengendap di dasar lautan, kemudian ditutupi oleh lumpur. Lapisan lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di atasnya. Sementara itu, dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa jasad renik tersebut dan mengubahnya menjadi minyak dan gas.
Proses pembentukan minyak bumi dan gas ini memakan waktu jutaan tahun. Minyak dan gas yang terbentuk meresap dalam batuan yang berpori seperti air dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke daerah lain, kemudian terkosentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap. Walupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber minyak bumi yang terdapat di daratan. Hal ini terjadi karena pergerakan kulit bumi, sehingga sebagian lautan menjadi daratan.
2.2 Teori Pembentukan Minyak Bumi
2.2.1. Teori Anorganik (Abiogenesis)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain.
Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada proses kimia, yaitu :
a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)
Reaksi yang terjadi:
alkali metal + CO2 karbida
karbida + H2O ocetylena
C2H2 C6H6 komponen-komponen lain
Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.
b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)
Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak cukup banyak karbida di alam.
2.2.2.Teori Organik (Biogenesis)
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang per¬manen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).
P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:
- Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi.
- Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb.
- Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen.
- Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.

Senin, 06 Juni 2011

nafas

Sungguh …
Bidadari ini nyata memberi hidup padaku
Memberi darah pada nadi, detak pada hidup

Kata mungkin tak mengungkap
Bahwa dia bahwa ia
Membuat nafas mencapai dasar dada
Membuatku hidup

Kata yang bertemu kata
dari perangkai kata
yang tak lagi bisa
berkata-kata

indah yang mengalir pada nafas
bahagia yang berhembus bersama darah
hinggga lidah terbata
tak mampu berkata

demi nama dari bulan cinta
aku meraih mimpi bersamamu
merangkai kata dengan lidahmu
aku mencintaimu


sungguh…
menginginkan berhenti bernafas
saat kepala bersandar padamu
merebahkan raga disisimu
aku ingin mati mendahuluimu … maaf

Sabtu, 12 Februari 2011

titik hitam

ini kisah ttg gembala yg sdg galau
memberi gambaran pada langit akan harapan
tapi menatapnya saja tak kuat ...
slalu saja seperti ini

aku tak mngerti kenepa kedewasaan yg kudefinisikan selalu berbeda
entah rasa dari caira pengisi otakku yang berbeda
atau memang aku bukanlah manusia seperti mereka

ini adalah hati dari kehati-hatian penjaga hati
yang membiarkan laut mengisi daratan dan samudra semakin luas

ini adalah gambaran warna hitam
cerita bertinta merah darah

inilah aku yang bercerita pada senja
menulis di kertas hitam
mencoba memaknai perputaran jarum jam
putaran kekanan yg tak kumengerti

slalu penuh tanya kenapa jarum jam terus berputar kekanan

aku bertanya, mencoba memakna
aku terus ingin hidup !!!

Jumat, 14 Januari 2011

BATUBARA

II.1. Materi Pembentuk Batubara
Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
• Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Hasil endapan batubara dari periode ini sangat sedikit.
• Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari periode ini.
• Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tumbuh-tumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
• Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
• Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

II.2. Proses Pembentukan Batubara
Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:
• Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit (batubara lunak) terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
• Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit (kelas batubara tertinggi).
Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.

Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based)
(Sumber: Sekitan no Kisou Chishiki)

II.3. Tektonik Lempeng dan Pengendapan
Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan batuan.
Kecepatan pengendapan erat kaitannya dengan pengangkatan pada daerah tektonik aktif. Umumnya pada daerah tektonik aktif kecepatan pengangkatan lebih besar dibandingkan kecepatan erosi, sehingga terbentuk morfologi tinggi. Jadi sedimen diendapkan di laut, diubah menjadi batuan, menempel pada benua dan terangkat sampai tinggi, oleh gaya tektonik.
Ada beberapa endapan yang sangat tebal yang berkaitan dengan kerangka tektonik yang spesifik, misalnya dimana benua terpisah pada pusat pemekaran perlahan-lahan terakumulasi sediment tebal sepanjang tepi benua sebagai endapan yang terbawa arus mengisi cekungan laut yang berkembang, seperti yang terjadi di atlantik, Amerika utara. Di bawah paparan benua dijumpai tumpukan tebal batuan sediment laut dangkal. hal ini dapat terjadi karena pada saat akumulasi cekungannya perlahan-lahan menurun.
Pada zona tumbukan dalam (collission) benua dijumpai akumulasi sediment kasar yang tebal hasil rombakan pegunungan yang terangkat. Diendapkan sebagai endapan aliran sungai berupa konglomerat dan batupasir kasar, seperti yang dijumpai pada bagian selatan pegungan Himalaya. Sediment halusnya diendapkan di laut, di teluk Benggala sejak pengangkatan mulai.

II.4. Idetifikasi Faktor Geotektonik
Cara terbentuknya batubara merupakan proses yang kompleks. Terdapat serangkaian faktor geotektonik yang diperlukan dalam pembentukan batubara yaitu:
1. Posisi Geoteknik
Merupakan suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik lempeng. Dalam pembentukan cekungan batubara, posisi geoteknik merupakan faktor yang dominan karena akan mempengaruhi iklim lokal dan morfologi cekungan pengendapan batubara maupun kecepatan penurunannya. Pada fase yang terakhir, posisi geoteknik mempengaruhi proses metamorfosa organik dan struktur dari lapangan batubara melalui masa sejarah setelah pengendapan akhir.
2. Topografi (Morfologi)
Morfologi dari cekungan saat pembentukan gambut sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa dimana batubara terbentuk. Topografi memiliki efek yang terbatas terhadap iklim dan keadaannya bergantung pada posisi geoteknik.
3. Penurunan
Penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik. Jika penurunan dan pengendapan gambut seimbang maka akan menghasilkan endapan batubara tebal. Pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi pertumbuhan flora dan pengendapannya yang menyebabkan adanya infiltrasi material dan mineral yang mempengaruhi mutu dari batubara yang terbentuk.
4. Umur geologi
Proses geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai macam tumbuhan. Semakin tua umur batuan maka makin dalam penimbunan yang terjadi, sehingga terbentuk batubara yang bermutu tinggi. Akan tetapi pada batubara yang memiliki umur geolgi lebih tua selalu ada resiko mengalami deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau patahan pada lapisan batubara. Faktor erosi dapat merusak semua bagian dari endapan batubara.
5. Iklim
Kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan batubara. Selain itu merupakan faktor pengontrol pertumbuhan flora pada kondisi yang sesuai. Iklim tergantung pada posisi geografi dan posisi geoteknik.

JAMAN PLEISTOSEN

PLEISTOSEN

Pada tahun 1839, charles lyell memberikan nama pleistosen untuk jaman geologi yang mengikuti jaman pliosen. Jaman ini dimulai dari awal kuarter hingga kira-kira 11.000 tahun yang lalu. Jaman pleitosen didefinisikan dengan dasar bahwa lapisan sedimen mengandung 90% hingga 100% dari fauna yang masih hidup.
Gunung tengah atlantik masih terus mekar dengan kecepatan 2 cm pertahun pada jama ini. Karena pendeknya waktu pleistosen, tektonik yang terjadi belum banyak merubah morfologi dan struktur bumi. Namun demikian perubahan tektonik yang terjadi yang terkait dengan perkembangan dan pencairan lempeng es di daerah kutub telah sangat berpengaruh pada perubahan muka laut yang menyertainya.
Pada kala pleistosen, zona penujaman jawa pindah ke selatan, kearah samudera india. Mulai terbentuk gunungapi kuarter, termasuk merapi, merbabu, lawu, ungaran, yang sebagian masih hingga holosen. Susut laut yang mulai terjadi sejak pliosen terus berlangsung hingga pertengahan pleistosen awal. Dijawa tengan susut laut ini disertai dengan pengangkatan dari pegunungan kendeng. Akibatnya laut yang terletak diantara kendeng dan pegunungan selatan ( yang telah terangkat sejak pliosen ) dimana daerah sangiran terletak berubah menjadi lautan tertutup dan kemudian menjadi daerah rawa. Pengangkatan yang terus berlangsung segera diikuti oleh erosi, dan hasil erosi tersebuit masuk ke cekungan rawa tersebut diatas yang kemudian menghadilkan endapan lempung hitam ( formasi pucangan ). Pengisian terus menerus dari rawa tersebut berakibat daerah tersebut menjadi daratan dengan sungai yang mengalir diatasnya (Sartono, 1976). Pengangkatan kendeng tersebut juga berakibatterbentuknya endapan teras yang bertingkat-tingkat sepanjang lembah sungai, misalnya aliran Bengawan Solo diantara Ngawi dan Cepu (Sartono, 1976).
Pada masa jaman es, karena suhu udara rata-rata lebih rendah dari sebelumnya, hal ini mengakibatkan bahwa zona vegetasi bumi belahan utara berpindah keselatan lebihdari 2000 km dari posisi pra jaman es. Di eropa selatan, daerah tundra yang sangat luas yang dialasi permafrost ( tanah yang beku secara permanen), melempar jauh kearah selatan lempengan es hingga sejauh tepian dari laut tengah. Pada daerah seperti itu berkembang pesat fauna daerah dingin seperti rusa kutub (reindeer), mammoth dan badak berbulu lebat.
Selama Pleistosen, perkembangan golongan mamalia sangat pesat, mungkin akibat tersedianya relubg ekologi yang tepat. Muncul golongan baru misalnya mammoth, badak berbulu tebal dan harimau bergigi pedang. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa muncul golongan hominid yang terwakili oleh homo erectus, homo habilis dan akhirnya homo sapiens. Kondisi iklim yang tidak terlalu basah pada pleistosen menyukarkan pertumbuhan hutan lebat. Hutan yang ada bukan merupakan hutan rimba, tetapi steppa. Kondisi seperti ini berakibat berkembang pesatnya mamalia darat golongan gajah yang berukuran besar seperti Stegodon trigonocephalus, mastodon, mammoth. Golongan hominid mulai menggunakan peralatan batu, mulai bberburu dan berakibat punahya beberapa hewan perburuan.

RMR & SMR

Metode Rock Mass Rating (RMR) dari Bieniawski (1989) sebagai sistem klasifikasi massa batuan untuk keteknikan sebagai metode untuk perencanaan tambang bawah permukaan. Ada enam parameter yang diperhitungkan dalam sistem pengkelasan RMR, yaitu kekuatan batuan, Rock Quality Designation (RQD), spasi diskontinuitas, kondisi permukaan diskontinuitas, kondisi keairan, dan koreksi kemiringan (dip) diskontinuitas. Keenam faktor tersebut memiliki nilai yang dijumlahkan untuk mendapatkan total nilai (Rating). Kualitas massa batuan di daerah penelitian menurut metode RMR dari Bieniawski (1992) dibagi menjadi empat kelas, yaitu baik, cukup, buruk, dan sangat buruk.
Di dalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang pertama diperkenalkan sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk terowongan dengan penyanggaan menggunakan penyangga baja. Kemudian klasifikasi dikembangkan untuk penyangga non-baja untuk terowongan, lereng, dan pondasi. 3 pendekatan desain yang biasa digunakan untuk penggalian pada batuan yaitu: analitik, observasi, dan empirik. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah pendekatan desain dengan menggunakan metode empiric.
Klasifikasi massa batuan dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang timbul di lapangan secara cepat dan tidak ditujukan untuk mengganti studi analitik, observasi lapangan, pengukuran, dan engineering judgement.


Tujuan dari klasifikasi massa batuan adalah untuk:
• Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan/sifat massa batuan.
• Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan sifat dan kualitas.
• Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas massa batuan.
• Menghubungkan berdasarkan pengalaman kondisi massa batuan di suatu tempat dengan kondisi massa batuan di tempat lain.
• Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik.
• Menyediakan dasar acuan untuk komuniukasi antara geologist dan engineer.

Keuntungan dari digunakannya klasifikasi massa batuan:
• Meningkatkan kualitas penyelidikan lapangan berdasarkan data masukan sebagai parameter klasifikasi.
• Menyediakan informasi kuantitatif untuk tujuan desain.
• Memungkinkan kebijakan teknik yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif pada suatu proyek.

Dikarenakan kompleknya suatu massa batuan, beberapa penelitian berusaha untuk mencari hubungan antara desain galian batu dengan parameter massa batuan. Banyak dari metode-metode tersebut telah dimodifikasi oleh yang lainnya dan sekarang banyak digunakan untuk penelitian awal atau bahkan untuk desain akhir. Beberapa klasifikasi massa batuan yang dikenal saat ini adalah:

1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load)
2. Klasifikasi stand-up time
3. Rock Quality Designation (RQD)
4. Rock Structure Rating (RSR)
5. Rock Mass Rating (RMR)
6. Q-system

1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load)
Metode ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1946. Merupakan metode pertama yang cukup rasional yang mengevaluasi beban batuan untuk desain terowongan dengan penyangga baja. Metode ini telah dipakai secara berhasil di Amerika selama kurun waktu 50 tahun. Akan tetapi pada saat ini metode ini sudah tidak cocok lagi dimana banyak sekali terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan penyangga beton dan rockbolts.

2. Klasifikasi Stand-up time
Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958. Dasar dari metode ini adalah bahwa dengan bertambahnya span terowongan akan menyebabkan berkurangnya waktu berdirinya terowongan tersebut tanpa penyanggaan. Metode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi massa batuan selanjutnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stand-up time adalah: arah sumbu terowongan, bentuk potonganmelintang, metode penggalian, dan metode penyanggaan.

3. Rock Quality Designation (RQD)
RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung walaupun mempunyai panjang lebih dari 10cm. Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saan ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan RMR dan Q-system
RQD didefinisikan sebagai:

Walaupun metode penghitungan dengan RQD ini sangat mudah dan cepat, akan tetapi metode ini tidak memperhitung factor orientasi bidang diskontinu, material pengisi, dll, sehingga metode ini kurang dapat menggambarkan keadaan massa batuan yang sebenarnya.

4. Rock Structure Rating (RSR)
RSR diperkenalkan pertama kali oleh Wickam, Tiedemann dan Skinner pada tahun 1972 di AS. Konsep ini merupakan metode kuantitatif untuk menggambarkan kualitas suatu massa batuan dan menentukan jenis penyanggaan di terowongan. Motode ini merupakan metode pertama untuk menentukan klasifikasi massa batuan yang komplit setelah diperkenalkannyaklasifikasi massa batuan oleh Terzaghi 1946.

Konsep RSR ini selangkah lebih maju dibandingkan konsep-konsep yang ada sebelumnya. Pada konsep RSR terdapat klasifikasi kuantitatif dibandingkan dengan Terzaghi yang hanya klasifikasi kulitatif saja. Pada RSR ini juga terdapat cukup banyak parameter yang terlibat jika dibandingkan dengan RQD yang hanya melibatkan kualitas inti terambil dari hasil pemboran saja. Pada RSR ini juga terdapat klasifikasi yang mempunyai data masukan dan data keluaran yang lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya menyajikan datakeluaran yang berupa stand-up time dan span.

RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter pembentuknya yang terdiri dari 2 katagori umum, yaitu:
• Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, jenis bidang lemah, sesar, geseran, dan lipatan, sifat material; pelapukan, dan alterasi.
• Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah penggalian, metode penggalian

RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga rock bolt dan beton.

5. Rock Mass Rating (RMR)
Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa batuan yang disebut Klasifikasi Geomekanika atau lebih dikenal dengan Rock Mass Rating (RMR). Setelah bertahun-tahun, klasifikasi massa batuan ini telah mengalami penyesuaian dikarenakan adanya penambahan data masukan sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating pada parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa batuan tersebut. Pada penelitian ini, klasifikasi massa batuan yang digunakan adalah klasifikasi massa batuan versi tahun 1989 (Bieniawski, 1989). 6 Parameter yang digunakan dalam klasifikasi massa batuan menggunakan Sistim RMR yaitu:
1. Kuat tekan uniaxial batuan utuh.
2. Rock Quality Designatian (RQD).
3. Spasi bidang dikontinyu.
4. Kondisi bidang diskontinyu.
5. Kondisi air tanah.
6. Orientasi/arah bidang diskontinyu.

Pada penggunaan sistim klasifikasi ini, massa batuan dibagi kedalam daerah struktural yang memiliki kesamaan sifat berdasarkan 6 parameter di atas dan klasifikasi massa batuan untuk setiap daerah tersebut dibuat terpisah. Batas dari daerah struktur tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan kerapatan kekar, dan perubahan jenis batuan. RMR ini dapat digunakan untuk terowongan. lereng,dan pondasi.

6. Q-system
Q-system diperkenalkan oleh Barton et al pada tahun 1974. Nilai Q didefinisikan sebagai:

jam dan kamera

BAB SATU
03.05 pagi , begitulah si biru bundar didinding berkata padaku. Dengan lelah karna lengannya harus terus berputar sepanjang usia, dia seolah memberi isyarat bahwa ini bukan lagi jam normal bagi seorang manusia untuk beraktifitas. Tapi apa urusannya? Aku memang bukanlah seorang yang hidup dalam kenormalan dunia.
Ada tiga macam benda yang sedang merasukiku malam ini. Cangkir putih dengan ampas hitam yang kutahu telah 3 jam mengering karena dingin malam, tapi tetap saja kutarik kebibir seolah masih ada yang bisa diminum. Sebuah bentuk balok dengan tombol numerik 0-9 bersekutu dengan lambang-lambang alfabet yang dari tadi tak hentinya bergetar diatas permukaan meja kayu ini. Memberikan pola nada indah yang sedikit menciptakan warna diotakku. Lalu benda persegi ditelapak tangan yang terus kugenggam beberapa hari ini. Sebuah benda yang orang-orang menyebutnya dengan digital camera. Yang sungguh ingin kunyalakan untuk melihat seluruh gambar yang tersimpan didalamnya.
Begitu besar keinginanku, begitu dalam pula rasa takut yang menghadang. Memberi efek getar yang jauh melebihi getaran handphone yang semalam ini terus mendapat panggillan yang aku tak tertarik sedikitpun untuk melihat, apalagi mengangkatnya. Sungguh kasihan sekali, handphone dengan usia sangat uzur yang kudapat dari pasar maling di bantaran kali. Ya... meski tak seprihatin diriku, berkaca kedalam diri yang sungguh tak lebih dari seekor ayam tak berbulu. Kedinginan dibawah terik derita malam ini. Dingin... sepi dan beku.
Sebenarnya kenapa dan bagaimana pertanyaan itu mendatangi kepala malang ini? Aku sudah menghabiskan hampir tiga kali matahari terbit untuk mencoba mencari jawabannya. Hasil yang kudapat hanyalah sebuah rasa takut yang meski tanpa benang,tapi kuat menyelimutiku, mengikat dalam jiwa. Entah gambaran apa yang terekam, tapi pasti merupakan hal yang kan mengubah hidupku kedepan.
Namaku langit, sebuah nama yang mewakili harapan ayahku dahulu hingga kini. Meski kini beliau tiada lagi bisa meraba keangkuhanku secara langsung. Karena batas dunia itu. Ternyata selain harapan dan kegigihan yang terwakilkan oleh doa dalam nama ini, sifat angkuh dan ketidakpercayaanku pada hal selain diriku juga menjadi sifat dasar dari nama ini. Entah itu salah sang nama yang tinggi bergantung disana, atau memang diriku saja yang tak mau dipersalahkan oleh keadaanku yang aku sendiri mengakui kebenarannya. Begitulah... saat kebenaran ada didepanku, maka aku akan menggenggamnya dengan sangat kuat dan mempertaruhkan apapun untuk tidak melepasnya.
Suatu ketika, saat raga rapuh ini masih berseragam putih merah. Aku nyaris saja memutuskan jari pak Kades. Ya terang saja, si bapak tua renta itu dengan sangat lantang meneriaki ibu dengan panggilan “jalang” didepan seluruh wali murid yang hadir pada saat pembagian rapor. Pantaskah? Hal ini berawal dari ibuku yang terus mengkritik kinerja dan perhatian si bapak “tua” Kades terhadap satu-satunya SD yang ada didesa kecil kami itu. Merasa disudutkan si bapak “tua” kades tersebut malah mencaci maki ibuku dan menyebut ibuku sebagai wanita tak pantas yang penuh dengan kehinaan. Sekali lagi pantaskah? Didepan belasan murid kelas lima yang mungkin belum mengerti kosakata yang dipergunakan si bapak “tua” yang kini tanpa kades lagi.
Darahku telah sampai diubun-ubun, kulempar kertas rapor bayangan dengan seluruh nilai 9 yang tersenyum diatasnya. Dengan berlari keluar ku cari – cari sesuatu yang bisa menjadi alat pelampias kemarahanku. Di gudang sebelah Toilet kutemukan benda tersebut. Kembali kuberlari, kali ini dengan emosi yang semakin menjadi dan telah membutakan mata serta pemikiranku. Tepat didepan kelas pembagian rapor. Sebuah parang tajam mendarat di jari-jari tangan renta si bapak “tua” kades . Tanpa sedikitpun kata yang keluar dari mulutku. Diam sediam dan heningnya kelas yang tadinya hiruk pikuk oleh teriak caci maki si bapak “tua” kades.
Dalam lamunan keringatku mengucur. Pikirku ini sudah terlalu pagi untuk mengantuk dan tertidur, tapi mata ini ternyata sangat pembangkang, begitu berat kurasa. Hingga meja kayu ini terasa sangat hangat untukku melelalapkan raga lelah ini.
Terik kurasa, kali ini benar-benar terik matahari yang menerpa pipi. Keringat mengalir hingga leher. Sibiru bundar membuat kuberanjak dari tumpuan lelapku dimeja kayu, ia menghardikku dengan menunjuk angka 10. Pagi jam 10 hari selasa kedua dibulan oktober. Berjalan kebelakang kucoba mencari gelas dan air putih. Kerongkongan ini terasa sangat kering. Butuh tiga gelas air putih hingga ku benar-benar yakin kerongkonganku telah normal kembali. Kemudian, kurasa aku harus mencari air dengan jumlah yang lebih banyak. Mungkin bisa kutemukan dibelakang pintu bewarna coklat itu. Sebuah kamar mandi kotor dengan ubin hijau bermotif daun di lantai dan dindingnya. Kulit tipis kusam ini terasa sangat lengket dan telah menebar aroma yang sangat tidak bersahabat ke udara.
Darah yang mengalir di nadi ini terasa menurun temperaturnya setelah seluruh badan bertemu air. Sungguh sedikit menurunkan kadar ketidaknormalan pada tubuhku. Hal yang telah tiga hari tak kurasakan. Begitulah.. ini kali pertama aku mandi setelah mendapat kamera digital itu. Mudah-mudahan setelah ini keberanianku muncul untuk melihat isinya. Dan kemudian memutuskan langkah hidupku kedepan. Keberanian yang memang harus kubangkitkan. Karena hanya ada dua pilihan bagiku yang jatuh kelubang ini. Bangkit untuk berdiri dan beranjak, atau tetap berbaring lemah disini mencium tanah basah yang kotor.
Setelah merasa sangat bersih dan segar diraga. Kuambil tas hitam lusuh yang tergantung dibelakang pintu hijau tua disebelah tempat tidurku. Tas kecil pemberian seorang teman wanita, yang aku sendiri hingga kini tak tahu harus memanggilnya teman, sahabat atau siapalah. Ada sebuah rasa aneh yang kunikmati bertahun belakangan. Yang buat ku takut saat malam tapi jadi sangat sumringah saat mentari datang menjelang. Masih kuingat saat Dian, nama yang membekas hingga kini karena keramahan dan kehangatan tawa serta cerita yang datang bertubi dari mulutnya datang menyodorkan tangan dihari pertamaku berseragam putih abu-abu. Tak terlupa sedikitpun baik kata mapun tawanya yang khas olehku. Sebuah jenis tawa yang sangat aneh menurutku, karena harus melibatkan seluruh tubuhnya. Mulutnya yang kecil itu tak terlalu keras mengeluarkan suara tawa. Tapi tubuhnya yang juga kecil seakan ikut terbahak dengan lelucon garing yang terus buatku terpingkal. Diana Pramudani si kecil yang setia duduk disebelahku 3 tahun selama SMA.
Kamera digital tadi kumasukkan kedalam kantong dan kusimpan didalam tas. Selain itu, tas hitam ukuran menengah juga kuisi dengan beberapa pakaian. Setelah merasa cukup. Kusandang tas tadi dan melangkah keluar kamar kontrakan. Pada langkah ketiga kuingat ternyata ada satu benda yang kulupa. Benda malang yang tak mungkin tak kubawa saat bepergian. Si balok bertombol malang yang semalaman bergetar dimeja. Kuraih handphone yang kumaksud dan segera memasukkannya kedalam saku jeans hitam lusuh kebanggaanku. Karena ini jean paling layak kondisinya dari 3 buah jeans yang kupunya, paling tidak hingga kondisinya menyamai rekan-rekan terdahulu karena terlalu sering dipakai tapi terlalu jarang dicuci.

xxx


BAB DUA

Adalah sangat bodoh jika kau diam dan tunduk akan situasi dimana kau harus mengambil sebuah pilihan. Itulah aku saat itu. Hanya diam menggenggam kado merah kecil setelah sengaja berlari melewati berkilo-kilo jalan tanah untuk bertemu dengannya. Kali pertama bertemu dengannya selama 1 bulan setelah liburan sekolah waktu itu. Kebodohan anak kecil pikirku saat itu. Sebuah coretan saat itu kutulis pada malam kala kedewasaan lahir dan membijaksakan semua insan. Semua ini karena kata-kata indah . Yang selalu kupinta saat hujan. Kata-kata manis yang menghangatkan batin. Membuatkku menahannya keluar dari pintu dan tetap bersandar dipundak ini. Tapi pengecut memang, karena semua itu hanya tulisan yang tak pernah terbaca. Karena aku mencintainya dalam hati. Tak pernah nyata. Terus berbisik mengharap cinta, sungguh laki-laki malang yang larut dalam ketidakwajaran.
Entah gundah atau bahagia yang terasa di tiga hari menuju 20 tahun. Haruskah ku begitu takut dengan seribu ancaman waktu akan masa depan. Atau malah bersantai seolah waktu tak pernah berputar dan tetep jalan ditempat. Memilih merupakan hal yang harus tapi sangat tidak kusuka dari dulu. Sungguh bukanlah cerminan baik seorang anak laki-laki pertama dalam keluarga yang tumbuh bersama tinta merah.
Pilihan berat saat ini adalah satu diantara pilihan paling gila menurutku. Memilih pergi untuk tak sakit dan bertemu realita hidup atau berdiam disini dengan seribu satu harapan kosong yang hanya berikan mimpi.
Hey, tua renta penjilat. Teriak dalam hati penakut ini. Apa tak ada lagi hal yang harus kau lakukan selain menghasut dan memperkeruh suasana . Apa hanya itu tujuan hidup yang seharusnya telah kau pelajari dan terus kau bangga – banggakan setiap detik dalam nafas. Semua tak mewakili bentuk kenyataan yang terekam kemudian tertampil di setiap gerak pola tinggah.
Entah kenapa mereka yang mengagungkan kebenaran mutlak dalam hidup terus menggerogoti. Bertingkah seolah sangat benar dan membenarkan satu saja patokan kebenaran dalam hidup. Memandang satu dari 3600 sisi pandang saja , tanpa menoleh atau berpindah haluan pandang . Bukankah begitu banyak sisi pandang yang bisa kita pakai untuk melihat dan menilai sesuatu . Sungguh merugi karena tak memanfaatkan limpahan nikmat dan membiarkannya sia-sia.
Sungguh membuat suasana hati menjadi remuk redam dan mengacaukan pola pikir sehat yang selama ini kupakai . Entah kenapa emosi manusia labil sepertiku terpancing sangat cepat . Seperti bahan bakar yang terpicu api, membakar daun-daun kering di hati .
Mungkin sudah terlalu dalam luka sayatan yang mereka tinggalkan padaku . Hingga tak ada sedikitpun rasa simpati akan apapun yang berhubungan dengan mereka. Meski itu baik sekalaipun. Akibat dari endapan rasa benci yang terkompaksi menjadi batuan dendam dalam cekungan hati . Setiap gerak mereka serasa selalu akan merugi menyakitkanku. Sungguh setan hitam sehitam hatiku.
Suatu ketika saat mata air panas berpindah ke ubun-ubunku tak lain karena melihat pola tingkah carut marut seenak perut mereka kembali kulihat . Kali ini dengan objek langsung yang kuperkirakan adalah diriku . Semalaman suntuk kurangkai strategi perang mendahului pagi datang . Harus ku lancarkan seranga sebelum mereka sadar . Harus ku luluh lantakkan sebelum mereka dahulu membinasakanku . Ah.. sungguh prasa kata berlebihan dari ku yang hanya pemimpi . Tapi sungguh penggambaran keberadaan diriku dalam lingkaran setan dendam saat itu . Dan akhirnya aku tetusuk panah dendam sendiri , menjadi sangat panik dan berkaca pada cermin seekor keledai . Berdiam beku bisu dengan sgala hal berupa resiko yang menumpuk dan memukul kepala bagai sebuah godam .
Dari semua itu . Sungguh aku hanya seorang bocah yang terus melihat kearah jam dinding dan terus bertanya kenapa jam itu dibuat berputar kearah kanan . Kenapa tidak kearah kiri dengan pola arah lingkaran yang terbalik dari sekarang . dan kenapa semua manusia di bumi bundar ini mengikuti keinginan si pembuat jam dengan mengikuti pola lingkaran jam kearah kanan itu . Kenapa tidak kekiri ? kenapa tidak kearah kekiri ? aku lebih suka arah kiri .
Berpikir tentang ku dan alasan kenapa marah menjadi salah satu bagian terbesar dalam diri. Mungkin karena memang aku datang dalam hidup sebagai seorang manusia yang berpikir dengan kencendrungan pemilihan emosi ketimbang logika . Berdasar kepa penciptaan manusia yang berbeda dalam rupa, pola tingkah dan jalan hidup . Lalu kenapa bannyak orang yang seolah ingin menjadi orag lain dan tak bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya . Berusaha berubah tingkah hingga paras , mencoba menjadi sosok seiingin mereka dan hidup bagai boneka .

...