<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566</id><updated>2012-02-23T04:14:20.724-08:00</updated><category term='jaman purba'/><category term='pleistosen'/><category term='sondir'/><category term='evolusi geologi'/><category term='jam'/><category term='geologi'/><category term='krismiin'/><category term='MINERAL'/><category term='puisi'/><category term='haryadi'/><category term='heru'/><category term='g\'/><category term='langit'/><category term='nafas'/><category term='kamera'/><category term='evolusi'/><category term='batubara'/><category term='BENTUK TUBUH BATUAN BEKU'/><category term='geologi teknik'/><category term='pembentukan batubara'/><category term='vulkanik'/><category term='minyak bumi'/><category term='batuan beku'/><category term='kristal'/><category term='klasifikasi tanah'/><category term='perminyakan'/><category term='lingkungan pengendapan'/><category term='fasies'/><category term='SMR'/><category term='mineralogi'/><category term='heru haryadi'/><category term='praktikum'/><category term='migas'/><category term='RMR'/><category term='undip'/><category term='jaman es'/><category term='titik hitam'/><category term='geologi sejarah'/><title type='text'>Heru Haryadi</title><subtitle type='html'>berita akan cuaca hati, cerita dari suasana saat bernafas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-9091266428914556641</id><published>2011-06-17T09:57:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T10:00:31.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan pengendapan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fasies'/><title type='text'>FASIES</title><content type='html'>Fasies&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di bawah, atas dan di sekelilingnya. &lt;br /&gt;Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan James, 1992).&lt;br /&gt;Menurut Silley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen, yang merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya :&lt;br /&gt;1. Geometri :&lt;br /&gt;a) regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi,        reef dan chanel)&lt;br /&gt;b) intra-reservoir dari wireline log ( ketebalan dan distribusi reservoir )&lt;br /&gt;2. Litologi : dari cutting, dan core ( glaukonit, carboneous detritus ) dikombinasi dengan log sumur (GR dan SP)&lt;br /&gt;3. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side wall core.&lt;br /&gt;4. Struktur sedimen : dari core&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Fasies ( Facies Model )&lt;br /&gt;Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model fasies adalah suatu model umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus ( Walker , 1992).&lt;br /&gt;Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan sebagai ukuran yang bertujuan untuk membandingkan framework dan sebagai penunjuk observasi masa depan. model fasies memberikan prediksi dari situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan, menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang diperoleh secara acak. &lt;br /&gt;Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga dimensi, dan bentuk lain ilustrasi grafik dasar pengendapan framework.&lt;br /&gt;b) Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan deposisi oleh waktu .&lt;br /&gt;c) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple, analisis trend permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk mengetahui beberapa parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi respon dari suatu elemen dengan elemen lain dalam sebuah proses respon model.&lt;br /&gt;2.4.2 Facies Sequence&lt;br /&gt;Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya regional ( sea level change ). Sekuen analog dengan litostratigrafi, hanya ada perbedaan sudut pandang. sekuen berdasarkan genetically unit.&lt;br /&gt;Ciri-ciri sequence boundary :&lt;br /&gt;1. membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.&lt;br /&gt;2. terbentuk secara relatif sangat cepat (&lt;10.000 tahun).&lt;br /&gt;3. mempunyai suatu nilai dalam kronostratigrafi.&lt;br /&gt;4. selaras yang berurutan dalam kronostratigrafi.&lt;br /&gt;5. batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening                upward.&lt;br /&gt;2.4.3 Asosiasi Fasies&lt;br /&gt;Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu lapisan atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan karakteristik litologi, geometri dan sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh batuan dalam berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses dimana fasies-fasies itu terbentuk.&lt;br /&gt;Sekelompok asosiasi fasies endapan fasies digunakan untuk mendefinisikan lingkungan sedimen tertentu. Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di sebuah fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan bersama-sama untuk menentukan fasies fluvial asosiasi. &lt;br /&gt;Pembentukan dibagi menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas. Litologi sedimen  ini menggambarkan lingkungan yang didominasi oleh braided stream berenergi tinggi.&lt;br /&gt;a.       Asosiasi fasies 1&lt;br /&gt;Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintas-stratifikasi,  tinggi energi braided stream yang membentuk dataran outwash sebuah sistem aluvial.  Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.  &lt;br /&gt;b.      Asosiasi fasies 2&lt;br /&gt;Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini kadang-kadang terganggu oleh lensa dari FA1 sedimen.  Bed berada di seluruh tipis, planar dan disortir dengan baik.  Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk tebal 2 meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang membentuk litologi dominan fasies ini.&lt;br /&gt;Sudut rendah (&lt;20 °), lintas-bentuk batu pasir berlapis unit hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-kadang mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini adalah ke arah selatan timur - hingga lereng - dan memperkuat interpretasi mereka sebagai eolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan padat berisi fosil jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang mungkin terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan hosting mungkin pencipta jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa, alih-alih acara musiman, kadang-kadang innundation didasarkan pada peristiwa-peristiwa tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda tabel, dan mengubah aliran kursus. &lt;br /&gt;c.       Asosiasi fasies 3&lt;br /&gt;Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan clastic terwakili dalam rekor sedimen tdk halus, diurutkan buruk, fining upward ( menjadi semakin halus ke arah atas ), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal. Jejak fosil langka. Braided stream disimpulkan sebagai kontrol dominan pada sedimentasi di fasies ini. &lt;br /&gt;d.      Asosiasi fasies 4&lt;br /&gt;Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah lingkungan di pinggiran laut. Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki) hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada unit dasar arus overlain oleh riak. Baik shale batu pasir dan batugamping juga ada. Unit atas sangat bioturbated, dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya ditemukan di lingkungan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Antara Fasies, Proses Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan&lt;br /&gt;Lingkungan pada semua tempat di darat atau di bawah laut dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia yang berlaku dan organisme yang hidup di bawah kondisi itu pada waktu itu. Oleh karena itu suatu lingkungan pengendapan dapat mencirikan proses-proses ini. Sebagai contoh, lingkungan fluvial (sungai) termasuk saluran ( channel ) yang membawa dan mengendapkan material pasiran atau kerikilan di atas bar di dalam channel.&lt;br /&gt;Ketika sungai banjir, air menyebarkan sedimen yang relatif halus melewati daerah limpah banjir ( floodplain ) dimana sedimen ini diendapkan dalam bentuk lapis-lapis tipis. Terbentuklah tanah dan vegetasi tumbuh di daerah floodplain. Dalam satu rangkaian batuan sedimen channel dapat diwakili oleh lensa batupasir atau konglomerat yang menunjukkan struktur internal yang terbentuk oleh pengendapan pada bar channel. Setting floodplain akan diwakili oleh lapisan tipis batulumpur dan batupasir dengan akar-akar dan bukti-bukti lain berupa pembentukan tanah.&lt;br /&gt;Dalam deskripsi batuan sedimen ke dalam lingkungan pengendapan, istilah fasies sering digunakan. Satu fasies batuan adalah tubuh batuan yang berciri khusus yang mencerminkan kondisi terbentuknya (Reading &amp; Levell 1996). Mendeskripsi fasies suatu sedimen melibatkan dokumentasi semua karakteristik litologi, tekstur, struktur sedimen dan kandungan fosil yang dapat membantu dalam menentukan proses pembentukan. Jika cukup tersedia informasi fasies, suatu interpretasi lingkungan pengendapan dapat dibuat. Lensa batupasir mungkin menunjukkan channel sungai jika endapan floodplain ditemukan berasosiasi dengannya. Namun bagaimanapun, channel yang terisi dengan pasir terdapat juga di dalam setting lain, termasuk delta, lingkungan tidal dan lantai laut dalam. Pengenalan channel yang terbentuk bukanlah dasar yang cukup untuk menentukan lingkungan pengendapan.&lt;br /&gt;Fasies pengendapan batuan sedimen dapat digunakan untuk menentukan kondisi lingkungan ketika sedimen terakumulasi. Lingkungan sedimen telah digambarkan dalam beberapa variasi yaitu : &lt;br /&gt;1. Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang menunjukkan sifat khas dari setting pengendapan [Gould, 1972].&lt;br /&gt;2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun [Krumbein dan Sloss, 1963].&lt;br /&gt;3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika, kimia, dan biologi dari daerah yang berdekatan [Selley, 1978].&lt;br /&gt;4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan mempengaruhi pertumbuhan sedimen secara konstan untuk membentuk pengendapan yang khas [Shepard dan Moore, 1955].&lt;br /&gt;Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-9091266428914556641?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/9091266428914556641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/fasies.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/9091266428914556641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/9091266428914556641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/fasies.html' title='FASIES'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-2518316278566030696</id><published>2011-06-17T09:54:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T09:57:21.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perminyakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='evolusi geologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='migas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minyak bumi'/><title type='text'>MINYAK BUMI</title><content type='html'>Minyak bumi (Crude Oil) dan gas alam merupakan senyawa hidrokarbon. Rantai karbon yang menyusun minyak bumi dan gas alam memiliki jenis yang beragam dan tentunya dengan sifat dan karakteristik masing-masing. Sifat dan karakteristik dasar minyak bumi inilah yang menentukan perlakuan selanjutnya bagi minyak bumi itu sendiri pada pengolahannya. Hal ini juga akan mempengaruhi produk yang dihasilkan dari pengolahan minyak tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan model OWEM (OPEC World Energy Model), permintaan minyak dunia pada periode jangka menengah (2002-2010) diperkirakan meningkat sebesar 12 juta barel per hari (bph) menjadi 89 juta bph atau tumbuh rata-rata 1,8% per tahun. Sedangkan pada periode berikutnya (2010-2020), permintaan naik menjadi 106 juta bph dengan pertumbuhan sebesar 17 juta bph. &lt;br /&gt;Pengetahuan tentang minyak bumi dan gas alam sangat penting untuk kita ketahui, mengingat minyak bumi dan gas alam adalah suatu sumber eneri yang tidak dapat diperbaharui, sedangkan penggunaan sumber energi ini dalam kehidupan kita sehari-hari cakupannya sangat luas dan cukup memegang peranan penting atau menguasai hajat hidup orang banyak. Sebagai contoh minyak bumi dan gas alam digunakan sebagai sumber energi yang banyak digunakan untuk memasak, kendaraan bermotor, dan industri, kedua bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa-sisa organisme sehingga disebut bahan bakar fosil.&lt;br /&gt;Minyak bumi ( bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin:             petrus ) , dijuluki juga sebagai emas hitam adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan yang mati sekitar 150 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa organisme tersebut mengendap di dasar lautan, kemudian ditutupi oleh lumpur. Lapisan lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh tekanan lapisan di atasnya. Sementara itu, dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa jasad renik tersebut dan mengubahnya menjadi minyak dan gas.&lt;br /&gt;Proses pembentukan minyak bumi dan gas ini memakan waktu jutaan tahun. Minyak dan gas yang terbentuk meresap dalam batuan yang berpori seperti air dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke daerah lain, kemudian terkosentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap. Walupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber minyak bumi yang terdapat di daratan. Hal ini terjadi karena pergerakan kulit bumi, sehingga sebagian lautan menjadi daratan.&lt;br /&gt;2.2 Teori Pembentukan Minyak Bumi&lt;br /&gt;2.2.1. Teori Anorganik (Abiogenesis)&lt;br /&gt;Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev (1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain. &lt;br /&gt;Berdasarkan teori anorganik, pembentukan minyak bumi didasarkan pada proses kimia, yaitu :&lt;br /&gt;a. Teori alkalisasi panas dengan CO2 (Berthelot)&lt;br /&gt;Reaksi yang terjadi:&lt;br /&gt;alkali metal + CO2 karbida&lt;br /&gt;karbida + H2O ocetylena&lt;br /&gt;C2H2 C6H6 komponen-komponen lain&lt;br /&gt;Dengan kata lain bahwa didalam minyak bumi terdapat logam alkali dalam keadaan bebas dan bersuhu tinggi. Bila CO2 dari udara bersentuhan dengan alkali panas tadi maka akan terbentuk ocetylena. Ocetylena akan berubah menjadi benzena karena suhu tinggi. Kelemahan logam ini adalah logam alkali tidak terdapat bebas di kerak bumi.&lt;br /&gt;b. Teori karbida panas dengan air (Mendeleyef)&lt;br /&gt;Asumsi yang dipakai adalah ada karbida besi di dalam kerak bumi yang kemudian bersentuhan dengan air membentuk hidrokarbon, kelemahannya tidak cukup banyak karbida di alam.&lt;br /&gt;2.2.2.Teori Organik (Biogenesis)&lt;br /&gt;Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena                    adanya kebocoran kecil yang per¬manen dalam siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Pada arah pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme fotosintetik darat dan laut. Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme).&lt;br /&gt;P.G. Mackuire yang pertama kali mengemukakan pendapatnya bahwa minyak bumi berasal dari tumbuhan. Beberapa argumentasi telah dikemukakan untuk membuktikan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik yaitu:&lt;br /&gt;- Minyak bumi memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi,ini disebabkan oleh adanya kolesterol atau zat lemak yang terdapat dalam darah, sedangkan zat organik tidak terdapat dalam darah dan tidak dapat memutar bidang polarisasi.&lt;br /&gt;-  Minyak bumi mengandung porfirin atau zat kompleks yang       terdiri dari hidrokarbon dengan unsur vanadium, nikel, dsb.&lt;br /&gt;-  Susunan hidrokarbon yang terdiri dari atom C dan H sangat mirip dengan zat organik, yang terdiri dari C, H dan O. Walaupun zat organik menggandung oksigen dan nitrogen.&lt;br /&gt;- Hidrokarbon terdapat di dalam lapisan sedimen dan merupakan bagian integral sedimentasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-2518316278566030696?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/2518316278566030696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/minyak-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/2518316278566030696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/2518316278566030696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/minyak-bumi.html' title='MINYAK BUMI'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-6910551943085130479</id><published>2011-06-06T08:07:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T10:21:15.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nafas'/><title type='text'>nafas</title><content type='html'>Sungguh …&lt;br /&gt;Bidadari ini nyata memberi hidup padaku&lt;br /&gt;Memberi darah pada nadi, detak pada hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mungkin tak mengungkap&lt;br /&gt;Bahwa dia bahwa ia&lt;br /&gt;Membuat nafas mencapai dasar dada&lt;br /&gt;Membuatku hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang bertemu kata&lt;br /&gt;dari perangkai kata&lt;br /&gt;yang tak lagi bisa&lt;br /&gt;berkata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indah yang mengalir pada nafas&lt;br /&gt;bahagia yang berhembus bersama darah&lt;br /&gt;hinggga lidah terbata&lt;br /&gt;tak mampu berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demi nama dari bulan cinta&lt;br /&gt;aku meraih mimpi bersamamu&lt;br /&gt;merangkai kata dengan lidahmu&lt;br /&gt;aku mencintaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sungguh…&lt;br /&gt;menginginkan berhenti bernafas&lt;br /&gt;saat kepala bersandar padamu&lt;br /&gt;merebahkan raga disisimu&lt;br /&gt;aku ingin mati mendahuluimu … maaf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-6910551943085130479?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/6910551943085130479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/nafas.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/6910551943085130479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/6910551943085130479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/06/nafas.html' title='nafas'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-8750763879305093303</id><published>2011-02-12T00:46:00.000-08:00</published><updated>2011-06-06T10:23:57.838-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='titik hitam'/><title type='text'>titik hitam</title><content type='html'>ini kisah ttg gembala yg sdg galau&lt;br /&gt;memberi gambaran pada langit akan harapan&lt;br /&gt;tapi menatapnya saja tak kuat ...&lt;br /&gt;slalu saja seperti ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak mngerti kenepa kedewasaan yg kudefinisikan selalu berbeda&lt;br /&gt;entah rasa dari caira pengisi otakku yang berbeda&lt;br /&gt;atau memang aku bukanlah manusia seperti mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah hati dari kehati-hatian penjaga hati &lt;br /&gt;yang membiarkan laut mengisi daratan dan samudra semakin luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini adalah gambaran warna hitam&lt;br /&gt;cerita bertinta merah darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah aku yang bercerita pada senja&lt;br /&gt;menulis di kertas hitam&lt;br /&gt;mencoba memaknai perputaran jarum jam&lt;br /&gt;putaran kekanan yg tak kumengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;slalu penuh tanya kenapa jarum jam terus berputar kekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bertanya, mencoba memakna&lt;br /&gt;aku terus ingin hidup !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-8750763879305093303?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/8750763879305093303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/02/titik-hitam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8750763879305093303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8750763879305093303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/02/titik-hitam.html' title='titik hitam'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-9204766018602268064</id><published>2011-01-14T21:43:00.003-08:00</published><updated>2011-01-14T21:43:55.834-08:00</updated><title type='text'>TEKNIK PRESENTASI</title><content type='html'>Apa perbedaan antara presentasi yang baik dan yang buruk? Memberikan presentasi yang baik adalah mudah bila anda mengetahui karakteristik yang memisahkan antara presentasi yang baik dan presentasi yang buruk. Bandingkan karakteristik di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Energi dan penuh semangat&lt;br /&gt;* Kontak mata dengan audiens&lt;br /&gt;* Berbicara dengan jelas dan cukup keras&lt;br /&gt;* Sesekali bergerak saat berbicara&lt;br /&gt;* Menggunakan anekdot dan humor yang sesuai&lt;br /&gt;* Mengenakan pakaian yang serasi&lt;br /&gt;* Argumen-argumen terstruktur dengan baik&lt;br /&gt;* Slide dapat dibaca&lt;br /&gt;* Tipe slide bervariasi&lt;br /&gt;* Tidak lebih dari 1 slide per menit&lt;br /&gt;* Variasi teknologi lain, misalnya video&lt;br /&gt;* Selesai tepat waktu dan sediakan waktu untuk Tanya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi yang buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tujuan tidak jelas&lt;br /&gt;* Postur tubuh kurang baik, tidak ada kontak mata, dan berbicara dengan suara yang monoton&lt;br /&gt;* Pengulangan yang tidak perlu (dalam presentasi atau dari pembicara sebelumnya)&lt;br /&gt;* Kurang persiapan&lt;br /&gt;* Terlalu rumit/sederhana bagi audiens&lt;br /&gt;* Terlalu banyak slide&lt;br /&gt;* Slide tidak dapat dibaca&lt;br /&gt;* Penggunaan efek-efek teknis Power Point yang berlebihan&lt;br /&gt;* Penggunaan warna yang buruk pada slide&lt;br /&gt;* Pengunaan peralatan teknis yang keliru&lt;br /&gt;* Melebihi waktu yang dialokasikan untuk presentasi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;komponen-komponen dari presentasi yang baik&lt;br /&gt;Suatu presentasi dapat dibagi menjadi tiga bagian, dengan masing-masing kumpulan pertanyaan yang harus Anda tanyakan pada diri Anda sendiri sebelum saat presentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bagaimana cara Anda membina hubungan dengan audiens?&lt;br /&gt;* Bagaimana cara Anda menangkap perhatian audiens? Akankah Anda menggunakan kutipan, gambar, fakta atau kisah?&lt;br /&gt;* Apa maksud presentasi Anda dan bagaimana anda akan menyatakannya dengan jelas di awal pembicaraan sehingga audiens tahu apa yang akan disampaikan pada mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Isi presentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Apakah urutan logis untuk topik yang ingin Anda cakup dan dapatkah Anda membuat alur atau cerita untuk membantu audiens memahami arah presentasi anda?&lt;br /&gt;* Apa 3-5 butir kunci yang ingin Anda sampaikan dan bagaimana cara Anda menggunakan data atau ilustrasi untuk menyampaikan butir-butir tersebut pada audiens?&lt;br /&gt;* Bagaimana cara Anda meringkas butir-butir Anda, dan kemudian beralih ke bagian berikutnya dari presentasi Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Ringkasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ringkas semua butir kunci.&lt;br /&gt;* Ilhami audiens untuk menggunakan informasi yang Anda sampaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-9204766018602268064?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/9204766018602268064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/teknik-presentasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/9204766018602268064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/9204766018602268064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/teknik-presentasi.html' title='TEKNIK PRESENTASI'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-3534615480420763974</id><published>2011-01-14T02:06:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T02:08:32.733-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vulkanik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='evolusi geologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='geologi sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='evolusi'/><title type='text'>VOLKANISME DAN EVOLUSI GEOLOGI</title><content type='html'>VOLKANISME DAN EVOLUSI GEOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Distribusi batuan beku&lt;br /&gt;Gunungapi adalah fenomena utama yang menyertai evolusi kulit bumi. Hal ini merupakan hasil nyata dapat dijumpai dalam seluruh waktu geologi. Mengambil konsep kevulkanikan dalam arti luas, sebagai sebuah proses internal maupun eksternal yang menyeluruh merupakan faktor utama dalam evolusi kerak bumi. &lt;br /&gt;Kepulauan Indonesia merupakan reprasentasi singkat dari penjelasan ini. Sejumlah busur orogen dapat dicirikan dengan baik sejak zaman Paleosoikum sampai Resen. Sebagian besar diikuti oleh intrusi dan ekstrusi batuan beku dari berbagai umur. Pencirian dapat  dibuat oleh batuan beku pra orogen, ofiolit hasil geosinklin, batuan hasil geantiklin berafinitas Pasifik, variasi orogen akhir dari batuan berafinitas Mediteran serta ekstrusi basal olivin pasca orogen.&lt;br /&gt;Paparan Sunda membentuk tepi kontinen yang kurang stabil, dikelilingi oleh sistem busur vulkanik Sunda. Ini dikonsolidasikan oleh orogenesa yang terjadi di daerah ini pada Palaesoikum Muda – Mesosoikum Tua. Siklus diatrofisma ini berawal di kepulauan Anambas dan menyebar ke arah timur laut ke Natuna dan ke arah barat daya ke kepulauan Riau dan Bangka Beliton. Di kepulauan Anambas batuan beku basa (gabro, gabro porfiri, diabas dan andesit) merupakan kelompok batuan tua yang diintrusi oleh batolit granit berumur Permo Trias. Kelompok batuan  ini sebanding dengan batuan Permokarbon Pulu Melayu di Kalimantan Barat.  &lt;br /&gt; Di kepulauan Natuna batuan tertua terdiri dari batuan beku basal (gabro, diorit, diabas, norit, ampibolit, serpentinit dan tufa) yang berasosiasi dengan rijang radiolaria. Ini merupakan tipikal asosiasi  ofiolit radiolaria yang dapat  dikorelasikan dengan batuan berumur Permokarbon bagian dari Formasi Danau (Molengraff) di bagian utara Kalimantan Barat. Seri yang lebih muda terdiri dari serpih dan konglomerat dengan batuan vulkanik basa berhubungan dengan  batuan berumur Trias bagian atas di Kalimantan Barat dan di daerah paparan Sunda. Batuan ini diintrusi oleh batolit granit pasca  Trias.  Pulau Midai yang sangat kecil  di barat daya kepulau Natuna merupakan vulkanik basal sub resen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan di Kepulauan Riau-Lingga &lt;br /&gt;Batuan vulkanik dapat  disebandingkan dengan batuan gunugapi seri Pahang di Malaysia. Mereka sebagian merupakan batuan berumur Permokarbon dan Trias. Intrusi granit kemungkinan terjadi antara zaman Permokarbon dan Trias Atas. Batolit granit di daerah ini sebagian besar berumur pasca  Trias, atau mungkin Yura. Cebakan timah di daerah ini berhubungan dengan granit pasca Trias.  Cebakan timah jarang dijumpai di sebelah timur (Bintan dan Lingga) dan banyak dijumpai di sebelah barat (Karimun, Kundur, Singkep). Jalur timah ini meluas ke tenggara sampai Bangka dan Biliton. Pulau ini terdiri dari serpih dan kuarsit yang dapat disamakan dengan batuan berumur Trias Atas di kepulauan Riau-Lingga, sebagai busur yang diintrusi oleh batolit granit yang mengandung timah. Batolit granit yang sekarang tersingkap, kemungkinan merupakan merupakan batuan dasar (basement) regional  dari batuan plutonik granit. Karakter kulit bumi paparan Sunda sangat berhubungan dengan intrusi granit pasca  Trias (atau intra Yura), dan pengaruh ikutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi Jalur Vulkanisme Kalimantan&lt;br /&gt;Evolusi geologi jalur utara Kalimantan barat dimulai dengan adanya penurunan geosinklin setelah pembentukan batuan dasar sekis kristalin Pra  Karbon. Kegiatan ini diikuti intrusi batuan basa (gabro) dan ekstrusi (batuan basalan dan basalan andesit dari Seri Molengraaff’s Pulau Melayu). Fase awal dari perlipatan Permotrias, diikuti oleh penempatan batolit, terutama tonalitik. Setelah denudasi kuat sehingga batolit-batolit  tersingkap, terjadi proses transgresi  Trias Atas. Sedimentasi berlanjut di bagian barat jalur ini sampai Lias, dan diikuti oleh volkanisme asam sampai menegah. Fasa kedua adalah perlipatan kuat pada zaman Yura. Transgresi Yura atas dan Kapur di daerah Seberuang berumur Kapur (Zeylmans Van Emmichoven, 1939) menunjukkan adanya interkalasi lava asam dan tufa asam. Pelipatan lemah terjadi akibat tekanan intrusi diorit pada zaman Kapur Atas. Intrusi berlanjut sebagai intrusi hipabisal dan ekstrusi batuan vulkanik Oligomiosen (terutama andesit hipersten horblenda, dengan berbagai verietas asam lainnya). &lt;br /&gt;Di bagian Tersier  bawah Cekungan Ketunggan juga merupakan diorit holokristalin seperti dikemukakan Zeylmans Van Emmichoven  (1939). Pada zaman Kwarter, batuan basal muncul di seputar  andetis horblena Niut, sehingga dapat dikomparasikan dengan erupsi efusif basal Sukadana di Sumatra.Batuan plutonik “Schwaner Zona” merupakan bagian terdalam yang tersingkap di Kalimantan Barat. Di sini, dari timur ke barat membentuk pusat sumbu sistem pegunungan Palezoikum muda sampai Mezosoikum tua  Kalimantan Barat. Evolusi daerah ini dimulai dari pembentukan kompleks batuan dasar sekis kristalin dan geneis. Transgresi terjadi pada Permokarbon yang menghasilkan fasies pelitik dan psamitik dan sebagian endapan batugamping. Pada Permo Trias terjadi intrusi plutonik yang dimulai dengan gabro dan diakhiri batuan lebih asam yang kebanyakan tonalit, batuan beku dalam, dengan lampopir, aplit dan pegmatit. Setelah batuan plutonik tersingkap, pengendapan  pelitik dan psamitik terjadi pada zaman Trias Atas. Tidak ada fasies vulkanik  Trias Atas yang ditemukan di Zona Schwaner.  Selanjutnya terjadi perlipatan yang diikuti oleh alterasi hidrotermal epimagmatik.  Pengangkatan berlangsung sampai sekarang dengan disisipi intrusi selama  Tersier .&lt;br /&gt;Bagian selatan Zona Schwaner ini terdapat tiga kelompok batuan utama, yaitu batuan plutonik, batuan vulkanik Komplek Matan dan batuan sedimen klastik Komplek Ketapang. Bagian dari batuan komplek Matan dan Ketapang teralterasi oleh intrusi batolit granit. Batuan metamorf dari komplek Matan dapat dikorelasikan dengan batuan gunugapi seri Pahang di Malaysia dan Kompleks  Ketapang berumur  Trias Atas. Batuan non metamorf di komleks tersebut diasumsikan sebanding dengan endapan  Tersier  Bawah dan batuan vulkanik di jalur sebelah utaranya. Di Kalimantan Tenggara terbentang Pegunungan Meratus berumur Pra Tersier berarah utara – selatan. Di Meratus perkembangan batuan beku relatif  lebih muda dibanding dengan Kalimantan Barat. Kompleks batuan dasar sekis kristalin di sini berumur Mesosoikum akhir. Orogenesa di Zona Meratus baru terjadi ketika proses pembentukan pegunungan di Kalimantan Barat akan selesai.  Zaman Yura geosinklin terbentuk, berikut pengendapan ofiolit dan radiolaria dari Formasi Alino. Kemungkinan Formasi Alino berumur Yura di Kalimantan Tenggara sama dengan batuan Permokarbon Formasi Danau di jalur utara Kalimantan Barat. Formasi Alino dan Paniungan dari zona Meratus diintrusi oleh batuan plutonik. Intrusi yang pertama ini merupakan variasi batuan plutonik asam  yang sangat beragam (dunit, peridodit) yang diakhiri dengan batuan granit plagioklas dan porfirtik.  Setelah pengangkatan pertama batuan non-vulkanik ini Zona Meratus mengalami penurunan kembali. &lt;br /&gt;Pada zaman  Kapur tengah sampai atas terjadi pengendapan dari hasil erosi kuat batuan berumur Yura yang terlipat serta masa batuan plutonik peridotit dan granit.  Kapur terdiri dari fasies vulkanik dan non-vulkanik. Pada akhir Kapur Zona Meratus mengalami pengangkatan kedua, dan aktivitas vulkanik berlangsung sampai  Tersier  Bawah. Pengangkatan kedua ini menutup aktivitas siklus orogenesa Zona Meratus. Zona Meratus merupakan contoh baik untuk siklus pembentukan pegunungan. &lt;br /&gt;Pada zaman Yura dimulai dengan penurunan geosinklin yang diikuti dangan vulkanik bawah laut dengan proses ofiolitnya, sebagai awal mulainya pembentukan batuan plutonik basa dan ultrabasa. Penurunan geosinklin ini disertai dengan dua kali pengangkatan. Geantiklin pertama terjadi pada zaman Kapur Bawah. Ini didominasi batuan non-vulkanik, berupa batolit granit yang diintrusikan ke pusat geantiklin. Pengangkatan kedua merupakan aktivitas vulkanik dengan inti magmatik dari geantiklin sampai ke permukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maluku Utara&lt;br /&gt;Evolusi geologi Maluku Utara dan aktivitas magmatisme kawasan ini sama dengan di Filipina.  Penurunan geosinklin mulai terjadi pada Mesosoikum awal. Transgresi di kelompok Halmahera kemungkinan terjadi setelah  kepulauan Sula dan Obi. Batuan abisal di kelompok Halmahera secara umum terdiri aas gabro, norit, peridotit tersepentinitsasi, diorit, kuarsa dan granodiorit. Ofiolit basa dan ultrabasa diitrusi selama penurunan geosinklin. Ada jeda stratigrafi antara Eosen dan Neogen. Pada endapan Neogen dan Kwarter hadir batuan vulkanik menengah sampai asam.  Aktivitas vulkanik hadir di Halmahera utara, Ternate dan pulau-pulau kecil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulawesi&lt;br /&gt;Batuan beku dari berbagai komposisi menyusun pulau ini.  Bagian utara dan barat Sulawesi disusun oleh batuan beku alkali  kapur  berumur Tersier. Sepanjang pantai barat sampai lengan selatan dari vulkanik terdiri dari batuan beku alkali-kapur yang melampar luas. Terpisah dengan batuan ini terdapat dilengan utara. &lt;br /&gt;Di Sulawesi timur dan tenggara peridotit dan batuan ofiolit lainnya tersingkap luas, dengan batuan vulkanik dan granitit hampir tidak ada. Di Sulawesi utara, barat dan tengah hanya didapatkan ampibol granit. Di Sulawesi terdapat intrusi pada ofiolit berupa batuan beku basa (peridodit dan serpentinit), gabro dan basal (splite). Ofiolit banyak terdapat di Sulawesi utara, barat dan tengah, tetapi tidak tersingkap di lengan timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maluku Utara dan Busur Banda &lt;br /&gt;Kepulauan ini merupakan ujung yang terpisah dari Sistem Pegunungan Sunda. Pada Mesosoikum jalur orogen kawasan ini masih merupakan satu kesatuan dengan Sistem Pegunungan Circum-Australia. Pada Paleozoikum akhir, orogenesa dimulai dengan penurunan geosinklin di Cekungan Banda bagian tengah. Daerah ini merupakan pusat diatrofisma. Dari sini deformasi menyebar ke arah utara (Sistem Seram) dan selatan  (Sistem Tanimbar), yang di dihubungkan oleh sektor Kai dan busur Banda yang hadir sampai Tersier. &lt;br /&gt;Evolusi busur banda ini secara umum sesuai dengan proses pembentukan pegunungan dari Kepulauan Indonesia.Saat ini Sistem usur Banda mempunyai anomali isostatik negatif yang kuat. Ini menunjukkan bahwa pada jalur ini terdapat energi potensial yang  diperkirakan merupakan busur inti dan kerak batuan sialik dengan densitas rendah. Busur ini belum terkonsolidasi dengan kuat, mempunyai temperatur tinggi, dan banyak mengandung gas dengan kekentalan rendah. Kondisi ini menunjukkan adanya magma aktif yang memberikan gaya vertikal jika kondisi memungkinkan.&lt;br /&gt;Kepulauan Sunda Kecil merupakan bagian dari Sistem Pegununggan Sunda. Evolusi orogenesa di kawasan berhubungan dengan Busur Banda. Ada dua deret jenis batuan beku dalam sistem ini (Roevei, 1940). Batuan tertua di Timor berumur Perm, berupa kelompok basal trakit yang mempunyai karakter Atlantik lemah. Batuan vulkanik ini dierupsikan pada awal pembentukan geosinklin. Setelah itu Sistem Orogenesa Timor berkembang. Seri lain berupa komplek ofiolit – split, yang berumur Pra Miosen. Batuan ini merupakan  bagian dalam dari geosinklin, yang juga dapat dijumpai secara luas lingkaran luar Busur Banda. Batuan beku ini mempunyai karakter Mediteran yang kontras dengan seri Atlantis. Seri Mediteran bersifat potasik, dierupsikan pada saat akhir siklus orogenesa, di bagian dalam busur vulkanik. Contoh dari batuan ini adalah lava yang mengandung leusit dari erupsi G. Batu Tara, Tambora dan Soromandi. Tipe lain di bagian dalam busur vulkanik  Kepulauan Sunda Kecil dibentuk oleh granodiorit  Tersier. Di Flores terdapat bantuan berumur intra Miosen, sedang di Lirang maupun Wetar yang diduga berumur Neogen. Di dalam busur vulkanik ini terdapat tiga siklus aktivitas vulkanik: Neogen Tua, Neogen muda dan Kwarter sampai Resen. Dua siklus tertua didorong oleh intrusi batolit granodiorit yang naik sampai beberapa kilometer di bawah permukaan.  Pengangkatan terakhir terjadi pada Plio-Plistosen disebabkan oleh  pengaktifan kembali vulkanik yang akan padam. Ini merupakan tipikal pembentukan gunungapi di Maluku yang merupakan jalur vulkanik di luar cekungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa&lt;br /&gt;Jawa merupakan bagian dalam dari busur vulkanik Sistem Pegunungan Sunda. Pada zaman Mesosoikum jalur ini berada di bagian geantiklin yang jauh di sebelah utara.  Di sini ofiolit bercampur dengan sedimen Pra  Tersier, misalnya di daerah Luk Ulo dan Ciletuh, Jawa Barat.  Batuan Pra  Tersier  di Luh Ulo terdiri dari sepertinit, gabro dan diabas (Harloff, 1933). Batuan Pra  Tersier  di Ciletuh juga mengandung batuan beku basa dan asam yang termetamorfosakan (gabro, peridotit dan serpentinit) dengan sekis klorit dan filit. &lt;br /&gt;Pada akhir geantiklin Mesosoikum terjadi proses pengangkatan. Pengangkatan pertama bukan merupakan aktivitas non-vulkanik. Akhir  Tersier  merupakan perioda penurunan. Endapan non-vulkanik berumur Eosen diendapkan secara trangresi di atas komplek batuan dasar Pra  Tersier. Selanjutnya pada akhir Paleogen magma sampai permukaan, dan perioda vulkanik kuat dimulai, dengan beberapa menunjukkan karakter bawah laut (Andesit tua, siklus awal dari vulkanik Pasifik).Pada Miosen tengah jalur vulkanik Jawa didorong oleh batolit granit sampai granodiorit, sehingga menghasilkan vulkanik-vulkanik Andesit Tua yang sangat basa. Batuan beku holokristalin Intra Miosen sekarang tersingkap di Merawan, Jiwo, Luh Ulo, Tenjo Laut, Cilaju, Bayah dan lainnya (misalnya tufa dasit atau dasit di Genteng, selatan Tenjolaut) yang mengakhiri siklus vulkanik berafinitas Pasifik.Siklus vulkanik kedua terjadi pada zaman Neogen akhir, yang diakhiri oleh pengngkatan kedua dari busur vulkanik. Selanjutnya siklus ketiga berlangsung terus sejak Kwarter sampai sekarang. Kenampakan khas dari siklus kedua dan ketiga vulkanik ini adalah intrusi dan ekstrusi sepanjang tepi selatan geantiklin Jawa yang menunjukkan keanekaragaman batuan-batuan alkali. Intrusi Neogen akhir di Zona Bogor (Jawa Barat) dan Pegunungan Serayu Selatan di Jawa Tengah menunjukkan karakter essexitic. Pada zaman Kwarter gunungapi yang menghasilkan leusit hadir di timur laut Jawa yang merupakan sisi dalam geantiklin vulkanik (Muria, Ringgit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumatra&lt;br /&gt;Bukit Barisan di Sumatra dibentuk dengan cara seperti geantiklin Jawa Selatan. Selama Mesosoikum jalur ini merupakan bagian muka busur dari geantiklin yang berukuran lebih luas dari Bukit Barisan saat ini. Endapan di geosinklinal terlipat kuat membetuk isoklin dengan arah gerak dari timur laut ke barat daya. Proto Barisan masih terdapat batuan non-vulkanik. Sepanjang lereng timur dari geantiklin Barisan berumur Kapur masih terdapat granit yang telah mengalami perlipatan kuat. Busur ini dimulai dari pulau Berhala di selat Malaka utara, meluas di sepanjang  Suligi-Lipat Kain dan Lisun-Kuantan, serta melipat kuat sampai sebelah timur danau Singkarak dan Jambi. Umur granit  di bagian utara jalur (pada granit pembawa timah di Berhala dan Suligi-Lipat Kain) diperkirakan Yura. Di bagian lebih selatan berumur  Karbon dan Permokarbon, dan sebagian pasca  Trias. Kemungkinan granit di Lampung yang mengintrusi sekis kristalin dan geneis dari komplek batuan dasar tua merupakan bagian dari lipatan ini.&lt;br /&gt;Seperti halnya busur vulkanik Pulau Jawa dan Sunda Kecil, pulau Sumatra mengalami tiga siklus aktivitas vulkanisma. Siklus pertama terjadi pada akhir Paleogen dan diakhiri oleh pengangkatan intra Miosen. Pengangkatan ini diikuti oleh intrusi batolit granodiorit, yang menjadi dasar dari batuan vulkanik Andesit tua. Di permukaan kenaikan magma granit ini diikuti oleh erupsi paroksismal dari letusan Katmaian yang mengeluarkan aliran tufa asam dengan jumlah yang sangat besar.&lt;br /&gt;Sepanjang Neogen atas, siklus kedua aktivitas vulkanik Pasifik terbentuk dan diakhiri oleh pengangkatan Plio-Plistosen. Selanjutnya erupsi paroksismal itu ditutup oleh letusan magma batolit granit yang berada di dekat permukaan (Semangko, Ranau, Toba). Demikian juga tufa asam Lampung di Sumatra selatan dan tufa Bantam di Jawa Barat dan di selat Sunda dierupsikan pada periode ini. Akhirnya siklus ketiga terbentuk, menumbuhkan kerucut-kerucut vulkanik di sepanjang Bukit Barisan. Sedikit berbeda terdapat pada erupsi efusif basal olivin resen yang terjadi di Sukadana Lampung. Irupsi celah ini terdapat di tepi perisai kontinen Dataran Sunda, dan dapat disebandingkan dengan erupsi efusif basal di Midai, Niut - Karimun Jawa.&lt;br /&gt;Kepulauan barat Sumatra memberi gambaran yang berbeda dari busur luar Sistem Pegunungan Sunda.  Selama  zaman Tersier  jalur ini merupaka palung busur dari Zona Barisan. Pada zaman Eosen, intrusi basa dan ultrabasa yang terserpentinitisasi hadir. Pada zaman Kwarter pembentukan busur geantiklin pada jalur ini dimulai, dan berlanjut sampai saat ini. Anomali isostatik negatif pada jalur ini menandakan adanya energi potensial yang mmungkin muncul. Pengangkatan pertama dari palung busur ini seluruhnya batuan non-vulkanik, dan sesuai dengan aturan umum dari evolusi orogen di Kepulauan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Evolusi Magmatik dan Orogenesa &lt;br /&gt;Tinjauan terhadap hubungan antara orogenesa dan aktivitas batuan beku di kepulauan Indonesia akan mengikuti kecenderungan aturan umum. &lt;br /&gt;• Batuan-batuan dengan afinitas Atlantik berada di luar jalur orogen. Erupsi  akan terjadi selama tahap awal proses penurunan cekungan geosinklin, sebagai awal pembentukan pegunungan.&lt;br /&gt;• Siklus pembentukan pegunungan dimulai dengan penurunan geosinklin. Pada pusat geosinklin diatrofisma terbentuk. Orogenesis memencar secara radial sebagai gelombang permukaan yang besar (Anambas, Banda).&lt;br /&gt;• Batuan-batuan ofiolit dengan komposisi basa dan ultrabasa dierupsikan dari cekungan muka busur dari gelombang permukaan tersebut. Gunungapi bawah laut ini berasosiasi dengan rijang radiolaria dan endapan-endapan laut dalam.&lt;br /&gt;• Setelah perioda penurunan geosinklin berlangsung (dalam jutaan atau puluhan juta tahun) muka busur melengkung ke atas membentuk struktur geantiklin. Secara umum beberapa peristiwa pengangkatan terjadi, dan disisipi oleh fase penurunan yang tenang. &lt;br /&gt;• Pengangkatan geantiklin jalur orogen secara umum menghadirkan batuan non-vulkanik, yang selanjutnya diikuti oleh aktifitas vulkanik orogen dengan  batuan-batuan alkali-kapur dari afinitas Pasifik. Hanya geantiklin termuda dari Sistem Pegunungan Sunda dan Filipina yang menunjukkan cekungan samudra selama terjadi pengangkatan. Tahap akhir dari evolusi jalur orogen selalu menghadirkan batuan beku potasik dengan afinitas Mediteran. &lt;br /&gt;• Setelah melewati beberapa fase diatrofisma dengan berbagai pengaruh intrusi dan ekstrusi batuan beku, jalur orogen terkonsolidasikan menjadi kerak yang kaku seperti karakter kontinen. Fokus diatrofisma yang asli akhirnya terkonsolidasikan ke blok kerak yang kaku, yaitu pada jalur  orogen yang telah menyebar radial setahap demi setahap ke seluruh busur. &lt;br /&gt;• Jalur orogen ini, yang berada di sekitar daerah diatrofisma tua yang telah terkonsolidasi, dapat dibedakan dari busur dalam vulkanik dan busur luar non-vulkanik  melalui struktur lipatan sentrifugal. Daerah yang terkonsolidasikan dapat membentuk peneplain di bawah permukaan, atau berada di bawah kerak utama sehingga mencapai kedalaman beberapa kilometer di bawah permukaan laut. &lt;br /&gt;• Di sepanjang tepi Sistem Dataran Sunda basal olivin dierupsikan pada zaman Kwarter (Midai, Niut, Murai, Beluh, Karimunjawa, Sukadana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Asal Batuan beku&lt;br /&gt;Sulit menguraikan hubungan timbal balik antara berbagai gejala tektonogenesis, vulkanik, anomali gravitasi dan gempabumi, apabila tidak mempunyai hipotesis kerja tentang asal mula magma. Penting melalukan penafsiran evolusi dan merekontruksi hubungannya agar mampu mempunyai konsep yang umum mengenai asal mula batuan beku, yang selaras dengan semua hal yang berhubungan dengan geologi, vulkanologi dan geofisika. Sebagian besar teori geotektonik yang diusulkan di masa lalu melalaikan sisi ini. Nampaknya evolusi geokimia bumi mempunyai arti penting bagi evolusi orogen ( van Bemmelen, 1948)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal Berbagai Variasi Magma Di Indonesia&lt;br /&gt;Di Indonesia terdapat berbagai rangkaian batuan beku. Hubungan satu dengan yang lainnya dapat dicermati.Tahap pra orogen berupa pembentukan suatu cekungan geosinklin di selama Palaesoikum. Proses ini termasuk yang terjadi di Timor oleh erupsi traki basal dari seri Lautan Atlantik (De Roever, 1940). Tahapan ini diikuti oleh suatu evolusi orogen di dalam geosinklin selama Mesosoikum, Tersier dan Kwarter sebagai proses pembentukan jalur geantiklin dan cekungan geosinklin. Secara bertahap jalur orogen ini menyebar keluar pusat cekungan geosinklin. Foredeep melengkung atas ke dalam suatu geantiklin dan bergeser keluar lebih jauh. &lt;br /&gt;Selanjutnya pada dasar cekungan orogen, ofiolit basa sampai ultrabasa mengalami ekstrusi dan intrusi dari asosiasi ofiolit radiolaria dan intrusi peridotit dan serpentinit. Selama proses pembentukan geantiklin batuan ofiolit bercampur dengan naiknya migmatit sehingga dasar tubuh batolit granit terjadi. Biasanya terdapat tiga atau lebih gerakan pengangkatan pada setiap jalur orogen. Pengangkatan pertama masih  bukan batuan volkanik, pengangkatan kedua kedua  proses erupsi lava basa, menengah maupun asam, dari seri lava Pasifik, dan langkah ketiga vulkanik padam. Masing-masing pengangkatan diikuti oleh intrusi batuan plutonik berkomposisi menegah dan asam. &lt;br /&gt;Tahap lanjut dari evolusi jalur orogen ini adalah hadirnya erupsi batuan tipe Mediteran. Akhirnya tahap akhir orogen sebagai tahap pembentukan kontinen terbetuk. Dataran Sunda telah dikonsolidasikan oleh tahap diastrofisme Mesosoikum Tua, sedang proses pembentukan pegunungan berlanjut bergeser ke keluar membentuk orogen jalur Sunda saat ini.  Pusat Datara  Sunda sekarang membentuk baselevel sebagai suatu peneplain khas. Pada akhir Kwarter di sepanjang tepi blok yang terkonsolidasi ini terjadi aliran lava basal olivine.Cakupan batuan beku begitu luas dan sangat berkaitan dengan evolusi kerak bumi. Ini memberi kesan  bahwa peristiwa yang berkaitan dengan proses yang terjadi pada pembentukan batuan beku merupakan hal penting dalam proses pembentukan pegunungan. Pertanyaan selanjutnya, dengan demikian, sebenarnya adalah, dalam hal ini  mana magma juvenile dan mana magma induk? Kelihatannya hanya erupsi awal basal trakitik yang dapat diperlakukan seperti itu. Pra kondisi kerak bumi berkomposisi sialik berumur Perm harus diikuti oleh kekar dan patahan utama agar magma di bawah permukaan dapat hadir ke permukaan. Steinmann, Kossmat, dkk mempertimbangkan ophiolites berasal dari magma juvenil. &lt;br /&gt;Tetapi peridotites, di Sulawesi Timur  mengalir ke permukaan dengan tenang dan menggantikan seluruh komplek batuan dasar yang kristalin. Dia tidak diproduksi oleh diferensiasi kristalisasi dari intrusi basal yang sangat besar, sebab mereka secara langsung ditimpali oleh endapan bawah laut berumur Kapur yang berumur sama dengan intrusi tersebut. Di Seram Barat, Manipa dan Kellang  bagian intrusi tersingkap. Situasi yang sama ditemukan di Kawasan Meratus, ketika  tubuh peridotit secara berturut-turut diintrusi dan digantikan (replace) oleh gabro, diorit, diorit kuarsa dan granit plagioklas. Situasi ini justru kebalikan dari apa yang seharusnya terjadi  pada kasus diferensiasi kristalisasi dan fragsinasi. Batuan menjadi lebih asam dengan terus bertambahnya kedalaman. Anomali isostatik negatif di Sulawesi Timur dan Seram menunjukkan bahwa peridotit menandakan adanya masa peridotit yang sekarang mendasari kaki pegunungan granit.Situasi ini mendorong ke arah pemikiran bahwa pada seri batuan basa sampai ultrabasa dari geosinklin berukuran sangat besar, bagian permukaannya merupakan akumulasi magma asam (granit). Ini merupakan hasil berbagai proses evolusi kimia di bagian permukaan kerak bumi.  &lt;br /&gt;Proses hypo-differentiation tersebut merupakan hasil gangguan keseimbangan lapisan tengah basal tectonosphere karena penurunan  cekungan. Penurunan cekungan menyebabkan terjadinya pembebasan tekanan akibat relief, sekaligus terjadi peningkatan gradien geotermal di lapisan dasar dan menengah. Dengan proses hypo-differentiation tersebut, dalam waktu berjuta-juta tahun, kerak basal akan terbagi-bagi menjadi batuan ultrabasa (anti root) dan granit (mountain-root).&lt;br /&gt;Mengenai gunungapi strato dapat dipahami sebagai konsentrasi saluran-saluran dari  peningkatan pancaran  dalam jumlah yang besar dari bagian magma yang mudah menguap. Gunungapi itu merupakan cerobong di atas intrusi batolit. Kita tidak bisa bayangkan pernah magma juvenil bisa naik menerobos astenolit dan membuat zona migmatit selama tahapan evolusi geantiklin dari suatu jalur orogen. Kedalaman intrusi dari batolit granodiorit Tersier Tengah pasti tidak lebih dari 2 km, dan granodiorit Tersier Akhir di Wetar dan Lirang mungkin lebih tinggi. Pada kasus erupsi paroksismal Kwarter Ranau dan Toba di Sumatra, bagian puncak intrusi granit diledakkan. Oleh karena itu magma palingenic Pacific mungkin dibentuk dekat di bawah permukaan. Intrusi dangkal ini berasimilasi dengan batugamping Tersier, sehingga menyebabkan menyimpang dari kebiasaan (menghasilkan produk letusan Mediteran. Akhirnya, setelah konsolidasi dari kerangka batuan beku jalur orogen ini, kekar utama memotong kerak bumi sampai ke lapisan magma. Erupsi efusif basal olivine dari Daratan Sunda  lekat menyerupai batuan basal dari  jalur orogen. Mereka dicemari oleh material kerak. Oleh karena itu magma induk riil mungkin lebih banyak trakit basal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-3534615480420763974?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/3534615480420763974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/volkanisme-dan-evolusi-geologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3534615480420763974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3534615480420763974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/volkanisme-dan-evolusi-geologi.html' title='VOLKANISME DAN EVOLUSI GEOLOGI'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-6638605026490134140</id><published>2011-01-14T02:05:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T02:06:35.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batubara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembentukan batubara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='praktikum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='undip'/><title type='text'>BATUBARA</title><content type='html'>II.1. Materi Pembentuk Batubara&lt;br /&gt;Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Hasil endapan batubara dari periode ini sangat sedikit. &lt;br /&gt;• Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari periode ini. &lt;br /&gt;• Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tumbuh-tumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat. &lt;br /&gt;• Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika. &lt;br /&gt;• Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2. Proses Pembentukan Batubara&lt;br /&gt;Proses perubahan sisa-sisa tanaman menjadi gambut hingga batubara disebut dengan istilah pembatubaraan (coalification). Secara ringkas ada 2 tahap proses yang terjadi, yakni:&lt;br /&gt;• Tahap Diagenetik atau Biokimia, dimulai pada saat material tanaman terdeposisi hingga lignit (batubara lunak) terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut. &lt;br /&gt;• Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit (kelas batubara tertinggi).&lt;br /&gt;Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini ditunjukkan contoh analisis dari masing --masing unsur yang terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tabel 1. Contoh Analisis Batubara (daf based) &lt;br /&gt;(Sumber: Sekitan no Kisou Chishiki)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.3. Tektonik Lempeng dan Pengendapan&lt;br /&gt;Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya dislokasi (perubahan letak) patahan dan retakan pada kulit bumi dan batuan.&lt;br /&gt;Kecepatan pengendapan erat kaitannya dengan pengangkatan pada daerah tektonik aktif. Umumnya pada daerah tektonik aktif kecepatan pengangkatan lebih besar dibandingkan kecepatan erosi, sehingga terbentuk morfologi tinggi. Jadi sedimen diendapkan di laut, diubah menjadi batuan, menempel pada benua dan terangkat sampai tinggi, oleh gaya tektonik.&lt;br /&gt;Ada beberapa endapan yang sangat tebal yang berkaitan dengan kerangka tektonik yang spesifik, misalnya dimana benua terpisah pada pusat pemekaran perlahan-lahan terakumulasi sediment tebal sepanjang tepi benua sebagai endapan yang terbawa arus mengisi cekungan laut yang berkembang, seperti yang terjadi di atlantik, Amerika utara. Di bawah paparan benua dijumpai tumpukan tebal batuan sediment laut dangkal. hal ini dapat terjadi karena pada saat akumulasi cekungannya perlahan-lahan menurun.&lt;br /&gt;Pada zona tumbukan dalam (collission) benua  dijumpai akumulasi sediment kasar yang tebal hasil rombakan pegunungan yang terangkat. Diendapkan sebagai endapan aliran sungai berupa konglomerat dan batupasir kasar, seperti yang dijumpai pada bagian selatan pegungan Himalaya. Sediment halusnya diendapkan di laut, di teluk Benggala sejak pengangkatan mulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.4. Idetifikasi Faktor Geotektonik&lt;br /&gt;Cara terbentuknya batubara merupakan proses yang kompleks. Terdapat serangkaian faktor geotektonik yang  diperlukan dalam pembentukan batubara yaitu:&lt;br /&gt;1. Posisi Geoteknik&lt;br /&gt;Merupakan suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik lempeng. Dalam pembentukan cekungan batubara, posisi geoteknik merupakan faktor yang dominan karena akan mempengaruhi iklim lokal dan morfologi cekungan pengendapan batubara maupun kecepatan penurunannya. Pada fase yang terakhir, posisi geoteknik mempengaruhi proses metamorfosa organik dan struktur dari lapangan batubara melalui masa sejarah setelah pengendapan akhir.  &lt;br /&gt;2. Topografi (Morfologi)&lt;br /&gt;Morfologi dari cekungan saat pembentukan gambut sangat penting karena menentukan penyebaran  rawa-rawa dimana batubara terbentuk. Topografi  memiliki efek yang terbatas terhadap iklim dan keadaannya bergantung pada posisi geoteknik.&lt;br /&gt;3. Penurunan&lt;br /&gt;Penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya-gaya tektonik. Jika penurunan dan pengendapan gambut seimbang maka akan menghasilkan endapan batubara tebal. Pergantian transgresi dan regresi mempengaruhi pertumbuhan flora dan pengendapannya yang menyebabkan adanya infiltrasi material dan mineral yang mempengaruhi mutu dari batubara yang terbentuk.&lt;br /&gt;4. Umur geologi&lt;br /&gt;Proses geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai macam tumbuhan. Semakin tua umur batuan maka makin dalam penimbunan yang terjadi, sehingga terbentuk batubara yang bermutu tinggi. Akan tetapi pada batubara yang memiliki umur geolgi lebih tua selalu ada resiko mengalami deformasi tektonik yang membentuk struktur perlipatan atau patahan pada lapisan batubara. Faktor erosi dapat merusak semua bagian dari endapan batubara. &lt;br /&gt;5. Iklim&lt;br /&gt;Kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan batubara. Selain itu merupakan faktor pengontrol pertumbuhan flora pada kondisi yang sesuai. Iklim tergantung pada posisi geografi dan posisi geoteknik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-6638605026490134140?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/6638605026490134140/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/batubara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/6638605026490134140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/6638605026490134140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/batubara.html' title='BATUBARA'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-2647620013842558961</id><published>2011-01-14T02:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T02:04:32.455-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jaman purba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pleistosen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jaman es'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haryadi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='geologi sejarah'/><title type='text'>JAMAN PLEISTOSEN</title><content type='html'>PLEISTOSEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1839, charles lyell memberikan nama pleistosen untuk jaman geologi yang mengikuti jaman pliosen. Jaman ini dimulai dari awal kuarter hingga kira-kira 11.000 tahun yang lalu. Jaman pleitosen didefinisikan dengan dasar bahwa lapisan sedimen mengandung 90% hingga 100% dari fauna yang masih hidup.&lt;br /&gt;Gunung tengah atlantik masih terus mekar dengan kecepatan 2 cm pertahun pada jama ini. Karena pendeknya waktu pleistosen, tektonik yang terjadi belum banyak merubah morfologi dan struktur bumi. Namun demikian perubahan tektonik yang terjadi yang terkait dengan perkembangan dan pencairan lempeng es di daerah kutub telah sangat berpengaruh pada perubahan muka laut yang menyertainya.&lt;br /&gt;Pada kala pleistosen, zona penujaman jawa pindah ke selatan, kearah samudera india. Mulai terbentuk gunungapi kuarter, termasuk merapi, merbabu, lawu, ungaran, yang sebagian masih hingga holosen. Susut laut yang mulai terjadi sejak pliosen terus berlangsung hingga pertengahan pleistosen awal. Dijawa tengan susut laut ini disertai dengan pengangkatan dari pegunungan kendeng. Akibatnya laut yang terletak diantara kendeng dan pegunungan selatan ( yang telah terangkat sejak pliosen ) dimana daerah sangiran terletak berubah menjadi lautan tertutup dan kemudian menjadi daerah rawa. Pengangkatan yang terus berlangsung segera diikuti oleh erosi, dan hasil erosi tersebuit masuk ke cekungan rawa tersebut diatas yang kemudian menghadilkan endapan lempung hitam ( formasi pucangan ). Pengisian terus menerus dari rawa tersebut berakibat daerah tersebut menjadi daratan dengan sungai yang mengalir diatasnya (Sartono, 1976). Pengangkatan kendeng tersebut juga berakibatterbentuknya endapan teras yang bertingkat-tingkat sepanjang lembah sungai, misalnya aliran Bengawan Solo diantara Ngawi dan Cepu (Sartono, 1976).&lt;br /&gt;Pada masa jaman es, karena suhu udara rata-rata lebih rendah dari sebelumnya, hal ini mengakibatkan bahwa zona vegetasi bumi belahan utara berpindah keselatan lebihdari 2000 km dari posisi pra jaman es. Di eropa selatan, daerah tundra yang sangat luas yang dialasi permafrost ( tanah yang beku secara permanen), melempar jauh kearah selatan lempengan es hingga sejauh tepian dari laut tengah. Pada daerah seperti itu berkembang pesat fauna daerah dingin seperti rusa kutub (reindeer), mammoth dan badak berbulu lebat.&lt;br /&gt;Selama Pleistosen, perkembangan golongan mamalia sangat pesat, mungkin akibat tersedianya relubg ekologi yang tepat. Muncul golongan baru misalnya mammoth, badak berbulu tebal dan harimau bergigi pedang. Satu hal yang sangat penting adalah bahwa muncul golongan hominid yang terwakili oleh homo erectus, homo habilis dan akhirnya homo sapiens. Kondisi iklim yang tidak terlalu basah pada pleistosen menyukarkan pertumbuhan hutan lebat. Hutan yang ada bukan merupakan hutan rimba, tetapi steppa. Kondisi seperti ini berakibat berkembang pesatnya mamalia darat golongan gajah yang berukuran besar seperti Stegodon trigonocephalus, mastodon, mammoth. Golongan  hominid mulai menggunakan peralatan batu, mulai bberburu dan berakibat punahya beberapa hewan perburuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-2647620013842558961?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/2647620013842558961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/jaman-pleistosen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/2647620013842558961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/2647620013842558961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/jaman-pleistosen.html' title='JAMAN PLEISTOSEN'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-3159659434240875755</id><published>2011-01-14T02:01:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T02:02:51.031-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SMR'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='geologi teknik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RMR'/><title type='text'>RMR &amp; SMR</title><content type='html'>Metode Rock Mass Rating (RMR) dari Bieniawski (1989) sebagai sistem klasifikasi massa batuan untuk keteknikan sebagai metode untuk perencanaan tambang bawah permukaan. Ada enam parameter yang diperhitungkan dalam sistem pengkelasan RMR, yaitu kekuatan batuan, Rock Quality Designation (RQD), spasi diskontinuitas, kondisi permukaan diskontinuitas, kondisi keairan, dan koreksi kemiringan (dip) diskontinuitas. Keenam faktor tersebut memiliki nilai yang dijumlahkan untuk mendapatkan total nilai (Rating). Kualitas massa batuan di daerah penelitian menurut metode RMR dari Bieniawski (1992) dibagi menjadi empat kelas, yaitu baik, cukup, buruk, dan sangat buruk.&lt;br /&gt;Di dalam geoteknik, klasifikasi massa batuan yang pertama diperkenalkan sekitar 60 tahun yang lalu yang ditujukan untuk terowongan dengan penyanggaan menggunakan penyangga baja. Kemudian klasifikasi dikembangkan untuk penyangga non-baja untuk terowongan, lereng, dan pondasi. 3 pendekatan desain yang biasa digunakan untuk penggalian pada batuan yaitu: analitik, observasi, dan empirik. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah pendekatan desain dengan menggunakan metode empiric.&lt;br /&gt;Klasifikasi massa batuan dikembangkan untuk mengatasi permasalahan yang timbul di lapangan secara cepat dan tidak ditujukan untuk mengganti studi analitik, observasi lapangan, pengukuran, dan engineering judgement.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari klasifikasi massa batuan adalah untuk: &lt;br /&gt;• Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan/sifat massa batuan. &lt;br /&gt;• Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan sifat dan kualitas. &lt;br /&gt;• Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik setiap kelas massa batuan. &lt;br /&gt;• Menghubungkan berdasarkan pengalaman kondisi massa batuan di suatu tempat dengan kondisi massa batuan di tempat lain. &lt;br /&gt;• Memperoleh data kuantitatif dan acuan untuk desain teknik. &lt;br /&gt;• Menyediakan dasar acuan untuk komuniukasi antara geologist dan engineer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan dari digunakannya klasifikasi massa batuan: &lt;br /&gt;• Meningkatkan kualitas penyelidikan lapangan berdasarkan data masukan sebagai parameter klasifikasi. &lt;br /&gt;• Menyediakan informasi kuantitatif untuk tujuan desain. &lt;br /&gt;• Memungkinkan kebijakan teknik yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif pada suatu proyek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan kompleknya suatu massa batuan, beberapa penelitian berusaha untuk mencari hubungan antara desain galian batu dengan parameter massa batuan. Banyak dari metode-metode tersebut telah dimodifikasi oleh yang lainnya dan sekarang banyak digunakan untuk penelitian awal atau bahkan untuk desain akhir. Beberapa klasifikasi massa batuan yang dikenal saat ini adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load) &lt;br /&gt;2. Klasifikasi stand-up time &lt;br /&gt;3. Rock Quality Designation (RQD) &lt;br /&gt;4. Rock Structure Rating (RSR) &lt;br /&gt;5. Rock Mass Rating (RMR) &lt;br /&gt;6. Q-system&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode klasifikasi beban batuan (rock load) &lt;br /&gt;Metode ini diperkenalkan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1946. Merupakan metode pertama yang cukup rasional yang mengevaluasi beban batuan untuk desain terowongan dengan penyangga baja. Metode ini telah dipakai secara berhasil di Amerika selama kurun waktu 50 tahun. Akan tetapi pada saat ini metode ini sudah tidak cocok lagi dimana banyak sekali terowongan saat ini yang dibangun dengan menggunakan penyangga beton dan rockbolts. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klasifikasi Stand-up time &lt;br /&gt;Metode ini diperkenalkan oleh Laufer pada 1958. Dasar dari metode ini adalah bahwa dengan bertambahnya span terowongan akan menyebabkan berkurangnya waktu berdirinya terowongan tersebut tanpa penyanggaan. Metode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan klasifikasi massa batuan selanjutnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap stand-up time adalah: arah sumbu terowongan, bentuk potonganmelintang, metode penggalian, dan metode penyanggaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rock Quality Designation (RQD) &lt;br /&gt;RQD dikembangkan pada tahun 1964 oleh Deere. Metode ini didasarkan pada penghitungan persentase inti terambil yang mempunyai panjang 10 cm atau lebih. Dalam hal ini, inti terambil yang lunak atau tidak keras tidak perlu dihitung walaupun mempunyai panjang lebih dari 10cm. Diameter inti optimal yaitu 47.5mm. Nilai RQD ini dapat pula dipakai untuk memperkirakan penyanggaan terowongan. Saan ini RQD sebagai parameter standar dalam pemerian inti pemboran dan merupakan salah satu parameter dalam penentuan klasifikasi massa batuan RMR dan Q-system &lt;br /&gt;RQD didefinisikan sebagai: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun metode penghitungan dengan RQD ini sangat mudah dan cepat, akan tetapi metode ini tidak memperhitung factor orientasi bidang diskontinu, material pengisi, dll, sehingga metode ini kurang dapat menggambarkan keadaan massa batuan yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rock Structure Rating (RSR) &lt;br /&gt;RSR diperkenalkan pertama kali oleh Wickam, Tiedemann dan Skinner pada tahun 1972 di AS. Konsep ini merupakan metode kuantitatif untuk menggambarkan kualitas suatu massa batuan dan menentukan jenis penyanggaan di terowongan. Motode ini merupakan metode pertama untuk menentukan klasifikasi massa batuan yang komplit setelah diperkenalkannyaklasifikasi massa batuan oleh Terzaghi 1946. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep RSR ini selangkah lebih maju dibandingkan konsep-konsep yang ada sebelumnya. Pada konsep RSR terdapat klasifikasi kuantitatif dibandingkan dengan Terzaghi yang hanya klasifikasi kulitatif saja. Pada RSR ini juga terdapat cukup banyak parameter yang terlibat jika dibandingkan dengan RQD yang hanya melibatkan kualitas inti terambil dari hasil pemboran saja. Pada RSR ini juga terdapat klasifikasi yang mempunyai data masukan dan data keluaran yang lengkap tidak seperti Lauffer yang hanya menyajikan datakeluaran yang berupa stand-up time dan span. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RSR merupakan penjumlahan rating dari parameter-parameter pembentuknya yang terdiri dari 2 katagori umum, yaitu: &lt;br /&gt;• Parameter geoteknik; jenis batuan, pola kekar, arah kekar, jenis bidang lemah, sesar, geseran, dan lipatan, sifat material; pelapukan, dan alterasi. &lt;br /&gt;• Parameter konstruksi; ukuran terowongan, arah penggalian, metode penggalian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RSR merupakan metode yang cukup baik untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga baja tetapi tidak direkomendasikan untuk menentukan penyanggaan dengan penyangga rock bolt dan beton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rock Mass Rating (RMR) &lt;br /&gt;Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa batuan yang disebut Klasifikasi Geomekanika atau lebih dikenal dengan Rock Mass Rating (RMR). Setelah bertahun-tahun, klasifikasi massa batuan ini telah mengalami penyesuaian dikarenakan adanya penambahan data masukan sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating pada parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa batuan tersebut. Pada penelitian ini, klasifikasi massa batuan yang digunakan adalah klasifikasi massa batuan versi tahun 1989 (Bieniawski, 1989). 6 Parameter yang digunakan dalam klasifikasi massa batuan menggunakan Sistim RMR yaitu: &lt;br /&gt;1. Kuat tekan uniaxial batuan utuh. &lt;br /&gt;2. Rock Quality Designatian (RQD). &lt;br /&gt;3. Spasi bidang dikontinyu. &lt;br /&gt;4. Kondisi bidang diskontinyu. &lt;br /&gt;5. Kondisi air tanah. &lt;br /&gt;6. Orientasi/arah bidang diskontinyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penggunaan sistim klasifikasi ini, massa batuan dibagi kedalam daerah struktural yang memiliki kesamaan sifat berdasarkan 6 parameter di atas dan klasifikasi massa batuan untuk setiap daerah tersebut dibuat terpisah. Batas dari daerah struktur tersebut biasanya disesuaikan dengan kenampakan perubahan struktur geologi seperti patahan, perubahan kerapatan kekar, dan perubahan jenis batuan. RMR ini dapat digunakan untuk terowongan. lereng,dan pondasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Q-system &lt;br /&gt;Q-system diperkenalkan oleh Barton et al pada tahun 1974. Nilai Q didefinisikan sebagai:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-3159659434240875755?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/3159659434240875755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/rmr-smr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3159659434240875755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3159659434240875755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/rmr-smr.html' title='RMR &amp; SMR'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-5359538659026067249</id><published>2011-01-14T02:00:00.001-08:00</published><updated>2011-01-14T02:01:03.848-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='geologi teknik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sondir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='klasifikasi tanah'/><title type='text'>UJI SONDIR</title><content type='html'>Klasifikasi tanah dengan sondir telah banyak dilakukan oleh pakar , seperti Robertsonet .al (1983) yang membuat suatu diagram klasifikasi tanah yang sangat sederhana dan mudah digunakan . Cara ini menetapkan cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir, untuk memperoleh parameter-parameter perlawanan penetrasi lapisan tanah di lapangan, dengan alat sondir(penetrasi quasi statik). Parameter tersebut berupa perlawanan konus (qc), perlawanan geser (fs), angka banding geser (Rf), dan geseran total tanah (Tf), yang dapat digunakan untuk interpretasi perlapisan tanah yang merupakan bagian dari desain fondasi.&lt;br /&gt;Istilah dan definisi yang berkaitan dengan standar ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;angka banding geser (Rf)&lt;br /&gt;perbandingan antara perlawanan geser dan perlawanan konus (fs/qc), dinyatakan dalam persen.&lt;br /&gt;gigi dorong&lt;br /&gt;gigi yang mendorong penekan hidraulik melalui suatu roda gigi yang merupakan bagian dari alat ukur penetrasi.&lt;br /&gt;kekuatan geser tanah&lt;br /&gt;tahanan atau tegangan geser maksimum yang dapat ditahan oleh tanah pada kondisi pembebanan tertentu.&lt;br /&gt;konus&lt;br /&gt;ujung alat penetrasi yang berbentuk kerucut untuk menahan perlawanan tanah.&lt;br /&gt;penetrometer konus ganda&lt;br /&gt;alat penetrasi konus dengan sondir untuk mengukur komponen perlawanan ujung dan perlawanan geser lokal terhadap gerakan penetrasi.&lt;br /&gt;penetrometer konus tunggal&lt;br /&gt;alat penetrasi konus dengan sondir untuk mengukur komponen perlawana nujung terhadapgerakan penetrasi.&lt;br /&gt;penyondiran&lt;br /&gt;serangkaian pengujian penetrasi yang dilakukan di suatu lokasi dengan menggunakan alat penetrasi konus.&lt;br /&gt;perlawanan geser (fs)&lt;br /&gt;nilai perlawanan terhadap gerakan penetrasi akibat geseran yang besarnya sama dengan gaya vertikal, yang bekerja pada bidang geser dibagi dengan luas permukaan selimut geser; perlawanan ini terdiri atas jumlah geseran dan gaya adhesi.&lt;br /&gt;perlawanan konus atau perlawanan daya dukung (qc)&lt;br /&gt;nilai perlawanan terhadap gerakan penetrasi konus yang besarnya sama dengan gaya vertikal yang bekerja pada konus dibagi dengan luas ujung konus.&lt;br /&gt;selimut (bidang) geser&lt;br /&gt;bagian ujung alat ukur penetrasi ganda, tempat terjadinya perlawanan geser lokal.&lt;br /&gt;tegangan geser tanah&lt;br /&gt;perlawanan tanah terhadap deformasi bila diberi tegangan geser.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan alat sondir :&lt;br /&gt;a. Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.&lt;br /&gt;b. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan.&lt;br /&gt;c. Cukup baik untuk digunakan pada lapisan yang berbutir halus. &lt;br /&gt;d. Dengan rumus empiris hasilnya dapat digunakan untuk menghitung daya dukung tiang. &lt;br /&gt;Kekurangan Penggunaan Alat Sondir : &lt;br /&gt;a. Tidak dapat digunakan untuk lapisan yang berbutir kasar, terutama lapisan  yang mengandung butir kerikil dan batu. &lt;br /&gt;b. Tidak dapat diketahui tanah secarah langsung. &lt;br /&gt;c. Jika letak alat ini vertikal dan konis/bikonis tidak bekerja dengan baik, maka hasil yang diperoleh meragukan &lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan/diperiksa dalam pengunaan alat sondir : &lt;br /&gt;a.  Manometer yang akan dipergunakan masih dalam keadaan baik sesuai dengan standar yang berlaku . &lt;br /&gt;b.  Ukuran konis yang akan digunakan harus sesuai dengan ukuran standar seperti gambar&lt;br /&gt;c. Setiap tahap pemeriksaaan batang yang akan dimulai,harus dari manometer harus menunjukan angka nol.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-5359538659026067249?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/5359538659026067249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/uji-sondir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/5359538659026067249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/5359538659026067249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/uji-sondir.html' title='UJI SONDIR'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-227909677345973794</id><published>2011-01-14T01:56:00.001-08:00</published><updated>2011-01-14T01:56:44.654-08:00</updated><title type='text'>Bocah kecil , jarum jam itu berputar kekanan</title><content type='html'>Melihat kesekitar .. jauh kedepan .. hamparan padang ilalang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tua kian menguning warna padi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkaca pada keraguan egoku sendiri ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membahas teori konspirasi dengan iblis merah bersayap kupu-kupu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terlihat terang diawal kata ... aku tau ini adalah cerita hitam ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terlihat hitam diakhir kata .. aku tau ini adalah awal keindahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mengungkap dengan kata-kata nya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apalah daya ku yang tak hidup dan berpikir normal seperti seorang manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat subuh berkata lantang tak akan jatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi datang mulai mundur satu langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang menjelang meraih meminta ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja datang dengan satu kaki ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam hilang dengan ketakutan tadi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manusia dengan segala pilihan dan akibat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manusia yang belajar menulis di pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku laki-laki muda yang menatap tua dengan aksen cadel bocah kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil .. jarum jam itu berputar kekanan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-227909677345973794?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/227909677345973794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/bocah-kecil-jarum-jam-itu-berputar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/227909677345973794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/227909677345973794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/bocah-kecil-jarum-jam-itu-berputar.html' title='Bocah kecil , jarum jam itu berputar kekanan'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-1547646381607960106</id><published>2011-01-14T01:40:00.000-08:00</published><updated>2011-01-14T01:41:54.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='heru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kamera'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='langit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jam'/><title type='text'>jam dan kamera</title><content type='html'>BAB SATU&lt;br /&gt;03.05 pagi , begitulah si biru bundar didinding berkata padaku. Dengan lelah karna lengannya harus terus berputar sepanjang usia, dia seolah memberi isyarat bahwa ini bukan lagi jam normal bagi seorang manusia untuk beraktifitas. Tapi apa urusannya? Aku memang bukanlah seorang yang hidup dalam kenormalan dunia.&lt;br /&gt;Ada tiga macam benda yang sedang merasukiku malam ini. Cangkir putih dengan ampas hitam yang kutahu telah 3 jam mengering karena dingin malam, tapi tetap saja kutarik kebibir seolah masih ada yang bisa diminum. Sebuah bentuk balok dengan tombol numerik 0-9 bersekutu dengan lambang-lambang alfabet yang dari tadi tak hentinya bergetar diatas permukaan meja kayu ini. Memberikan pola nada indah yang sedikit menciptakan warna diotakku. Lalu benda persegi ditelapak tangan yang terus kugenggam beberapa hari ini. Sebuah benda yang orang-orang menyebutnya dengan digital camera. Yang sungguh ingin kunyalakan untuk melihat seluruh gambar yang tersimpan didalamnya.&lt;br /&gt;Begitu besar keinginanku, begitu dalam pula rasa takut yang menghadang. Memberi efek getar yang jauh melebihi getaran handphone yang semalam ini terus mendapat panggillan yang aku tak tertarik sedikitpun untuk melihat, apalagi mengangkatnya. Sungguh kasihan sekali, handphone dengan usia sangat uzur yang kudapat dari pasar maling di bantaran kali. Ya... meski tak seprihatin diriku, berkaca kedalam diri yang sungguh tak lebih dari seekor ayam tak berbulu. Kedinginan dibawah terik derita malam ini. Dingin... sepi dan beku.&lt;br /&gt;Sebenarnya kenapa dan bagaimana pertanyaan itu mendatangi kepala malang ini? Aku sudah menghabiskan hampir tiga kali matahari terbit untuk mencoba mencari jawabannya. Hasil yang kudapat hanyalah sebuah rasa takut yang meski tanpa benang,tapi kuat menyelimutiku, mengikat dalam jiwa. Entah gambaran apa yang terekam, tapi pasti merupakan hal yang kan mengubah hidupku kedepan.&lt;br /&gt;Namaku langit, sebuah nama yang mewakili harapan ayahku dahulu hingga kini. Meski kini beliau tiada lagi bisa meraba keangkuhanku secara langsung. Karena batas dunia itu. Ternyata selain harapan dan kegigihan yang terwakilkan oleh doa dalam nama ini, sifat angkuh dan ketidakpercayaanku pada hal selain diriku juga menjadi sifat dasar dari nama ini. Entah itu salah sang nama yang tinggi bergantung disana, atau memang diriku saja yang tak mau dipersalahkan oleh keadaanku yang aku sendiri mengakui kebenarannya. Begitulah... saat kebenaran ada didepanku, maka aku akan menggenggamnya dengan sangat kuat dan mempertaruhkan apapun untuk tidak melepasnya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, saat raga rapuh ini masih berseragam putih merah. Aku nyaris saja memutuskan jari pak Kades. Ya terang saja, si bapak tua renta itu dengan sangat lantang meneriaki ibu dengan panggilan “jalang” didepan seluruh wali murid yang hadir pada saat pembagian rapor. Pantaskah? Hal ini berawal dari ibuku yang terus mengkritik kinerja dan perhatian si bapak “tua” Kades terhadap satu-satunya SD yang ada didesa kecil kami itu. Merasa disudutkan si bapak “tua” kades tersebut malah mencaci maki ibuku dan menyebut ibuku sebagai wanita tak pantas yang penuh dengan kehinaan. Sekali lagi pantaskah? Didepan belasan murid kelas lima yang mungkin belum mengerti kosakata yang dipergunakan si bapak “tua” yang kini tanpa kades lagi. &lt;br /&gt;Darahku telah sampai diubun-ubun, kulempar kertas rapor bayangan dengan seluruh nilai 9 yang tersenyum diatasnya. Dengan berlari keluar ku cari – cari sesuatu yang bisa menjadi alat pelampias kemarahanku. Di gudang sebelah Toilet kutemukan benda tersebut. Kembali kuberlari, kali ini dengan emosi yang semakin menjadi dan telah membutakan mata serta pemikiranku. Tepat didepan kelas pembagian rapor. Sebuah parang tajam mendarat di jari-jari tangan renta si bapak “tua” kades . Tanpa sedikitpun kata yang keluar dari mulutku. Diam sediam dan heningnya kelas yang tadinya hiruk pikuk oleh teriak caci maki si bapak “tua” kades. &lt;br /&gt;Dalam lamunan keringatku mengucur. Pikirku ini sudah terlalu pagi untuk mengantuk dan tertidur, tapi mata ini ternyata sangat pembangkang, begitu berat kurasa. Hingga meja kayu ini terasa sangat hangat untukku melelalapkan raga lelah ini. &lt;br /&gt;Terik kurasa, kali ini  benar-benar terik matahari yang menerpa pipi. Keringat mengalir hingga leher. Sibiru bundar membuat kuberanjak dari tumpuan lelapku dimeja kayu, ia menghardikku dengan menunjuk angka 10. Pagi jam 10 hari selasa kedua dibulan oktober. Berjalan kebelakang kucoba mencari gelas dan air putih. Kerongkongan ini terasa sangat kering. Butuh tiga gelas air putih hingga ku benar-benar yakin kerongkonganku telah normal kembali. Kemudian, kurasa aku harus mencari air dengan jumlah yang lebih banyak. Mungkin bisa kutemukan dibelakang pintu bewarna coklat itu. Sebuah kamar mandi kotor dengan ubin hijau bermotif daun di lantai dan dindingnya. Kulit tipis kusam ini terasa sangat lengket dan telah menebar aroma yang sangat tidak bersahabat ke udara.&lt;br /&gt;Darah yang mengalir di nadi ini terasa menurun temperaturnya setelah seluruh badan bertemu air. Sungguh sedikit menurunkan kadar ketidaknormalan pada tubuhku. Hal yang telah tiga hari tak kurasakan. Begitulah.. ini kali pertama aku mandi setelah mendapat kamera digital itu. Mudah-mudahan setelah ini keberanianku muncul untuk melihat isinya. Dan kemudian memutuskan langkah hidupku kedepan. Keberanian yang memang harus kubangkitkan. Karena hanya ada dua pilihan bagiku yang jatuh kelubang ini. Bangkit untuk berdiri dan beranjak, atau tetap berbaring lemah disini mencium tanah basah yang kotor. &lt;br /&gt;Setelah merasa sangat bersih dan segar diraga. Kuambil tas hitam lusuh yang tergantung dibelakang pintu hijau tua disebelah tempat tidurku. Tas kecil pemberian seorang teman wanita, yang aku sendiri hingga kini tak tahu harus memanggilnya teman, sahabat atau siapalah. Ada sebuah rasa aneh yang kunikmati bertahun belakangan. Yang buat ku takut saat malam tapi jadi sangat sumringah saat mentari datang menjelang. Masih kuingat saat Dian, nama yang membekas hingga kini karena keramahan dan kehangatan tawa serta cerita yang datang bertubi dari mulutnya datang menyodorkan tangan dihari pertamaku berseragam putih abu-abu. Tak terlupa sedikitpun baik kata mapun tawanya yang khas olehku. Sebuah jenis tawa yang sangat aneh menurutku, karena harus melibatkan seluruh tubuhnya. Mulutnya yang kecil itu tak terlalu keras mengeluarkan suara tawa. Tapi tubuhnya yang juga kecil seakan ikut terbahak dengan lelucon garing yang terus buatku terpingkal. Diana Pramudani si kecil yang setia duduk disebelahku 3 tahun selama SMA.&lt;br /&gt;Kamera digital tadi kumasukkan kedalam kantong dan kusimpan didalam tas. Selain itu, tas hitam ukuran menengah  juga kuisi dengan beberapa pakaian. Setelah merasa cukup. Kusandang tas tadi dan melangkah keluar kamar kontrakan. Pada langkah ketiga kuingat ternyata ada satu benda yang kulupa. Benda malang yang tak mungkin tak kubawa saat bepergian. Si balok bertombol malang yang semalaman bergetar dimeja. Kuraih handphone yang kumaksud dan segera memasukkannya kedalam saku jeans hitam lusuh kebanggaanku. Karena ini jean paling layak kondisinya dari 3  buah jeans yang kupunya, paling tidak hingga kondisinya menyamai rekan-rekan terdahulu karena terlalu sering dipakai tapi terlalu jarang dicuci.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;xxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB DUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sangat bodoh jika kau diam dan tunduk akan situasi dimana kau harus mengambil sebuah pilihan. Itulah aku saat itu. Hanya diam menggenggam kado merah kecil setelah sengaja berlari melewati berkilo-kilo jalan tanah untuk bertemu dengannya. Kali pertama bertemu dengannya selama 1 bulan setelah liburan sekolah waktu itu. Kebodohan anak kecil pikirku saat itu. Sebuah coretan saat itu kutulis pada malam kala kedewasaan lahir dan membijaksakan semua insan. Semua ini karena kata-kata indah . Yang selalu kupinta saat hujan. Kata-kata manis yang menghangatkan batin. Membuatkku menahannya keluar dari pintu dan tetap bersandar dipundak ini. Tapi pengecut memang, karena semua itu hanya tulisan yang tak pernah terbaca. Karena aku mencintainya dalam hati. Tak pernah nyata. Terus berbisik mengharap cinta, sungguh laki-laki malang yang larut dalam ketidakwajaran. &lt;br /&gt;Entah gundah atau bahagia yang terasa di tiga hari menuju 20 tahun. Haruskah ku begitu takut dengan seribu ancaman waktu akan masa depan. Atau malah bersantai seolah waktu tak pernah berputar dan tetep jalan ditempat. Memilih merupakan hal yang harus tapi sangat tidak kusuka dari dulu. Sungguh bukanlah cerminan baik seorang anak laki-laki pertama dalam keluarga yang tumbuh bersama tinta merah.&lt;br /&gt;Pilihan berat saat ini adalah satu diantara pilihan paling  gila menurutku. Memilih pergi untuk tak sakit dan bertemu realita hidup atau berdiam disini dengan seribu satu harapan kosong yang hanya berikan mimpi.&lt;br /&gt;Hey, tua renta penjilat. Teriak dalam hati penakut ini. Apa tak ada lagi hal yang harus kau lakukan selain menghasut dan memperkeruh suasana . Apa hanya itu tujuan hidup yang seharusnya telah kau pelajari dan terus kau bangga – banggakan setiap detik dalam nafas. Semua tak mewakili bentuk kenyataan yang terekam kemudian tertampil di setiap gerak pola tinggah.&lt;br /&gt;Entah kenapa mereka yang mengagungkan kebenaran mutlak dalam hidup terus menggerogoti. Bertingkah seolah sangat benar dan membenarkan satu saja patokan kebenaran dalam hidup. Memandang satu dari 3600 sisi pandang saja , tanpa menoleh atau berpindah haluan pandang . Bukankah begitu banyak sisi pandang yang bisa kita pakai untuk melihat dan menilai sesuatu . Sungguh merugi karena tak memanfaatkan limpahan nikmat dan membiarkannya sia-sia.&lt;br /&gt;Sungguh membuat suasana hati menjadi remuk redam dan mengacaukan pola pikir sehat yang selama ini kupakai . Entah kenapa emosi manusia labil sepertiku terpancing sangat cepat . Seperti bahan bakar yang terpicu api, membakar daun-daun kering di hati . &lt;br /&gt;Mungkin sudah terlalu dalam luka sayatan yang mereka tinggalkan padaku . Hingga tak ada sedikitpun rasa simpati akan apapun yang berhubungan dengan mereka. Meski itu baik sekalaipun. Akibat dari endapan rasa benci yang terkompaksi menjadi batuan dendam dalam cekungan hati . Setiap gerak mereka serasa selalu akan merugi menyakitkanku. Sungguh setan hitam sehitam hatiku.&lt;br /&gt;Suatu ketika saat mata air panas berpindah ke ubun-ubunku tak lain karena melihat pola tingkah carut marut seenak perut mereka kembali kulihat . Kali ini dengan objek langsung yang kuperkirakan adalah diriku . Semalaman suntuk kurangkai strategi perang mendahului pagi datang . Harus ku lancarkan seranga sebelum mereka sadar . Harus ku luluh lantakkan sebelum mereka dahulu membinasakanku . Ah.. sungguh prasa kata berlebihan dari ku yang hanya pemimpi . Tapi sungguh penggambaran keberadaan diriku dalam lingkaran setan dendam saat itu . Dan akhirnya aku tetusuk panah dendam sendiri , menjadi sangat panik dan berkaca pada cermin seekor keledai . Berdiam beku bisu dengan sgala hal berupa resiko yang menumpuk dan memukul kepala bagai sebuah godam .&lt;br /&gt;Dari semua itu . Sungguh aku hanya seorang bocah yang terus melihat kearah jam dinding dan terus bertanya kenapa jam itu dibuat berputar kearah kanan . Kenapa tidak kearah kiri dengan pola arah lingkaran yang terbalik dari sekarang . dan kenapa semua manusia di bumi bundar ini mengikuti keinginan si pembuat jam dengan mengikuti pola lingkaran jam kearah kanan itu . Kenapa tidak kekiri ? kenapa tidak kearah kekiri ? aku lebih suka arah kiri .&lt;br /&gt;Berpikir tentang ku dan alasan kenapa marah menjadi salah satu bagian terbesar dalam diri. Mungkin karena memang aku datang dalam hidup sebagai seorang manusia yang berpikir dengan kencendrungan pemilihan emosi ketimbang logika . Berdasar kepa penciptaan manusia yang berbeda dalam rupa, pola tingkah dan  jalan hidup . Lalu kenapa bannyak orang yang seolah ingin menjadi orag lain dan tak bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya . Berusaha berubah tingkah hingga paras , mencoba menjadi sosok seiingin mereka dan hidup bagai boneka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-1547646381607960106?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/1547646381607960106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/jam-dan-kamera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1547646381607960106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1547646381607960106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2011/01/jam-dan-kamera.html' title='jam dan kamera'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-877517413247016042</id><published>2010-06-18T08:51:00.000-07:00</published><updated>2010-06-18T08:52:11.809-07:00</updated><title type='text'>PPS</title><content type='html'>Syndrome adalah serangkaian gejala yang terjadi pada manusia, dimana yang mencolok mungkin hanya satu gejala saja. Post Power Syndrome, yang kedepan nya akan saya tulis PPS banyak dialami oleh orang yang merasa kecewa, bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, ketergantungan, kekosongan dan kerinduan. Selain itu, harga dirinya juga menurun, merasa tidak dihormati lagi dan terpisah dari kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPS ini memang tidak pernah disadari oleh orang yang mengalaminya dan gejala ini terjadi pada orang yang mulanya memiliki kekuasaan atau jabatan dan ketika jabatan itu tidak lagi dipegang, muncullah beberapa gejala psikologis atau emosional yang sifatnya kurang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa gejalanya dapat dibagi atas 3 ranah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gejala Fisik, misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah,sakit- sakitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gejala Emosi, misalnya mudah tersinggung, pemurung, sering menarik diri dari pergaulan atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi, dan tak suka dibantah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gejala Perilaku, misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, dan menunjukkan kemarahan nya, baik di rumah ataupun tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab paling dominan dari PPS adalah berhentinya seseorang dari jabatan yang Ia pegang, bisa karena pilihan dia ataupun keharusan. Setelah jabatan itu selesai mereka emban, ada dua kemungkinan yang akan terjadi, ada yang bahagia karena berhasil, ataupun ada yang tidak puas dan kecewa karena gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syndrome ini bisa dialami baik oleh laki-laki maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor seperti ciri keperibadian, penghayatan terhadap makna dan tujuan kerja, pengalaman, pengaruh lingkungan dan budaya. PPS ini merupakan salah satu tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cirri kepribadian yang rentan terhadap PPS ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Mereka yang senang dihargai dan dihormati orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Suka mengatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· “Gila jabatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Menuntut agar permintaan nya dipenuhi orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Suka dilayani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas bisa kita sebut mereka adalah orang dengan Need of Power yang tinggi. Selain itu, ada pula mereka sebenarnya kurang kuat Percaya diri[PD] nya sehingga Ia membutuhkan pengakuan dari orang lain, melalui jabatannya dia merasa “aman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menghadapi orang yang terjangkit PPS ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengahadapi orang yang sudah terlanjur menderita memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Satu hal yang harus kita sadari, penderita tak akan pernah sadar bahwa Ia akan terjangkiti PPS ini. Tapi, dengan melawan ataupun menyadarkan mereka secara langsung juga tidak bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa meminta pihak ketiga. Yaitu orang yang mendapat respek dari orang yang bersangkuta [penderita PPS] untuk memberi sedikit wejangan. BIsa juga dibawa kea rah spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kita harus belajar penderita PPS apa adanya, tidak merespon kemarahan dengan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber inspirasi: Agustine Dwi Putri-Psikolog&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-877517413247016042?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/877517413247016042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2010/06/pps.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/877517413247016042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/877517413247016042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2010/06/pps.html' title='PPS'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-457342319792053118</id><published>2009-12-31T13:59:00.001-08:00</published><updated>2009-12-31T13:59:30.111-08:00</updated><title type='text'>dingin</title><content type='html'>Kdang dingin ini bwt q ragu,&lt;br /&gt;apa syaraf q msh brfungsi normal,&lt;br /&gt;dlm dtik lelah terucap&lt;br /&gt;memancar dlam stiap mata air perih&lt;br /&gt;tp knapa hanya lelah yg jd alasan?&lt;br /&gt;Mgkn mmang bnar syaraf ini tlah rusak,&lt;br /&gt;dibutakan rasa yg aq sndiri tak tw brawal dr mana &amp; akan brakhir kmna,&lt;br /&gt;mnggnggamny bwt rapuh,&lt;br /&gt;mlpasny bwt q gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia hadir&lt;br /&gt;dia datang&lt;br /&gt;dia membagi&lt;br /&gt;knp aq&lt;br /&gt;knp dia&lt;br /&gt;knp rasa ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pdhal wktu tak prnah bicara pada q,&lt;br /&gt;smesta tak brgming&lt;br /&gt;hingga nadi khidupan bwt q trus brtanya&lt;br /&gt;sderas hujan dibulan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q lelah&lt;br /&gt;lelah q&lt;br /&gt;brtanya&lt;br /&gt;tiada jawab&lt;br /&gt;hanya indah&lt;br /&gt;dlm perih&lt;br /&gt;dlm tasbih&lt;br /&gt;hanya q,aq &amp;rasaku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-457342319792053118?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/457342319792053118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/12/dingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/457342319792053118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/457342319792053118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/12/dingin.html' title='dingin'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-1444554344703527211</id><published>2009-11-16T07:34:00.000-08:00</published><updated>2011-06-06T10:26:38.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='krismiin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='geologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='g\'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mineralogi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MINERAL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kristal'/><title type='text'>MINERAL</title><content type='html'>MINERAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.1 Pengertian Mineralogi&lt;br /&gt;Mineralogi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari asal usul genesa mineral, sifat fisik dan kimianya serta klasifikasi dan pemanfaatannya. &lt;br /&gt;Minerologi terdiri dari kata mineral dan logos, dimana mengenai arti mineral mempunyai pengertian berlainan dan bahkan dikacaukan dikalangan awam. Sering diartikan sebagai bahan bukan organic ( Anorganik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.2 Pengertian Mineral&lt;br /&gt;Sedangkan mineral adalah suatu zat ( fasa ) padat yang terdiri dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk  secara alamiah oleh proses-proses anorganik, mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika tertentu  dan mempunyai penempatan atom-atom secara beraturan di dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal.&lt;br /&gt;Selain itu kata mineral juga mempunyai banyak arti, hal ini tergantung darimana kita meninjaunya. Mineral dalam arti farmasi lain dengan pengertian di bidang geologi. Istilah mineral dalam arti geologi adalah zat atau benda yang terbentuk oleh proses alam, biasanya bersifat padat serta tersusun dari komposisi kimia tertentu dan mempunyai sifat-sifat fisik yang tertentu pula. Mineral terbentuk dari atom-atom serta molekul-molekul dari berbagai unsur kimia, dimana atom-atom tersebut tersusun dalam suatu pola yang teratur. Keteraturan dari rangkaian atom ini akan menjadikan mineral mempunyai sifat dalam yang teratur. Mineral pada umumnya merupakan zat anorganik. ( Murwanto, Helmy, dkk. 1992 )&lt;br /&gt;Maka pengertian yang jelas dari batas mineral oleh beberapa ahli geologi perlu diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya. &lt;br /&gt;Definisi mineral menurut beberapa ahli :&lt;br /&gt; L.G. Berry dan B. Mason, 1959&lt;br /&gt;Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas – batas tertentu dan mempunyai atom – atom yang tersusun secara teratur.&lt;br /&gt; D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972&lt;br /&gt;Mineral adalah suatu bahan padat yang secara structural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.&lt;br /&gt; A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977&lt;br /&gt;Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas – batas dan mempunyai sifat – sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar mineral – mineral ini terdapat dalm keadaan padat, akan tetapi dapat juga berada dalam keadaan setengah padat, gas, ataupun cair. Mineral – mineral padat itu biasanya terdapat dalam bentuk – bentuk kristal, yang agak setangkup, dan yang pada banyak sisinya dibatasi oleh bidang – bidang datar. Bidang – bidang geometric ini memberi bangunan yang tersendiri sifatnya pada mineral yang bersangkutan. Minyak bumi misalnya adalah mineral dalam bentuk cair, sedangkan gas bumi adalah mineral dalam bentuk gas. Sebagian dari mineral dapat juga dilihat dalam bentuk amorf, artinya tidak mempunyai susunan dan bangunankristal sendiri. Pengenalan atau dterminasi mineral – mineral dapat didasarkan atas bebagai sifat dari mineral – mineral tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.3 Jenis Mineral&lt;br /&gt;  Mineral ada yang merupakan unsur bebas dan ada yang merupakan bentuk persenyawaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Silicates&lt;br /&gt;  Menyusun 95 % bagian litosfer dan mantel bumi bagian atas. Komposisi utamanya adalah Silicon ( Si )  dan  Oksigen ( O ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Framework silicates, yang paling berlimpah di alam adalah :&lt;br /&gt;Quartz&lt;br /&gt;Feldspars:&lt;br /&gt;   Orthoclase, Kaya akan Kalium ( K )  &lt;br /&gt;  Plagioclase,  Kaya akan Kalsium  ( Ca ) dan Natrium ( Na )&lt;br /&gt; Sheet silicates&lt;br /&gt;Micas&lt;br /&gt; Muscovite, kaya akan Alumunium ( Al ) dan berwarna cerah&lt;br /&gt; Biotite, kaya akan Besi ( Fe ) dan berwarna gelap&lt;br /&gt; Chain silicates&lt;br /&gt; Pyroxenes, berantai tunggal&lt;br /&gt;  Amphiboles, berantai ganda&lt;br /&gt; Single tetrahedron&lt;br /&gt;Olivine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oxides &lt;br /&gt;  Tersusun dari Oksigen ( O ) dan logam atau ion-ion lain.&lt;br /&gt;Hematite (Fe2O3) &lt;br /&gt;Magnetite (Fe3O4) &lt;br /&gt;Corundum  (Al2O3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Carbonates&lt;br /&gt;  Tersusun dari ion inti ( CO3 )2 , yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Terdapat kurang lebih 80 jenis mineral karbonat, tetapi yang paling umum adalah :&lt;br /&gt; Calcite&lt;br /&gt;Aragonite&lt;br /&gt;Dolomite&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Sulfides&lt;br /&gt;  Merupakan kombinasi atau gabungan satu atau lebih logam dengan sulfur ( S ). Contohnya adalah :&lt;br /&gt; Galena (PbS)&lt;br /&gt;Pyrite  (FeS2)   Kalkopirit  (CuFeO2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sulfates&lt;br /&gt;Penyusun utamanya adalah ion Sulfat ( SO4 ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :&lt;br /&gt; Gypsum  (Ca SO4 2 H2O ) &lt;br /&gt; Anhydrite   (Ca SO4) &lt;br /&gt; Barite  (Ba SO4 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Posphates&lt;br /&gt;Penyusun utamanya adalah ion Fosfat ( PO4  ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :&lt;br /&gt; Apatite  (2(Ca5 PO4)3 F )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Native elements&lt;br /&gt;  Contoh mineralnya adalah :&lt;br /&gt; Logam :&lt;br /&gt;Gold  (Au)&lt;br /&gt;Silver  (Ag)&lt;br /&gt;Platinum  (Pt)&lt;br /&gt;Non-Logam :&lt;br /&gt; Diamond (C)&lt;br /&gt;Graphite (C)&lt;br /&gt;Sulfur   (S)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.4 Mineral utama pembentuk batuan beku&lt;br /&gt; Kelompok Olivin  (ortorombik) :&lt;br /&gt; Forsterit  (Mg2 SiO4)&lt;br /&gt; Olivin (Mg Fe SiO4)&lt;br /&gt; Fayalit  (Fe SiO4)&lt;br /&gt; Kelompok piroksen:&lt;br /&gt; Klinopiroksen (monoklin) :&lt;br /&gt;  Augit    (Ca,Fe,Mg,Al SiO3)&lt;br /&gt;  Diopsid  (Ca,Fe,Mg,Al SiO3)&lt;br /&gt; Ortopiroksen (ortorombik) :&lt;br /&gt;  Enstatite  (MgSiO3)&lt;br /&gt;  Hyperstene  (Mg,Fe SiO3)&lt;br /&gt; Kelompok amfibol  Ca2(Mg,Fe)2 Si8O22(OH)2 :&lt;br /&gt; Hornblende (monoklin)&lt;br /&gt; Actinolite&lt;br /&gt; Tremolite&lt;br /&gt; Glaucophane&lt;br /&gt; Kelompok mineral mika  (H2K Al3SiO4)3 : &lt;br /&gt; Biotit (monoklin)&lt;br /&gt; Muskovit (monoklin)&lt;br /&gt; Kelompok K Felspar  (K Al Si3O8) :&lt;br /&gt; Ortoklas (monoklin)&lt;br /&gt; Sanidine (monoklin)&lt;br /&gt; Mikroklin (triklin)&lt;br /&gt; Kelompok plagioklas  (Ca – Na)AlSi3O8  :&lt;br /&gt;  Monoklin - triklin&lt;br /&gt; Kuarsa  (SiO2)&lt;br /&gt;  hexagonal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.5 Sifat Fisik Mineral&lt;br /&gt;III. 5. 1   Kilap ( Lustre )&lt;br /&gt; Gejala ini terjadi apabila pada mineral dijatuhkan cahaya refleksi dan kilap suatu mineral sangat penting untuk diketahui. Beberapa kilap yang sering digunakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt; Kilap Logam ( Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral-mineral logam, seperti Galena, Grafit, Hematit, Kalkopirit, Magnetit, Pirit.&lt;br /&gt; Kilap Sub Logam ( Sub Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral hasil alterasi mineral sebelumnya, seperti Ilmenit ( FeO. TiO2)&lt;br /&gt; Kilap Non Logam (Non Metallic Lustre), &lt;br /&gt;~  Kilap Intan (Adamantin Lustre), kilap sangat cemerlang seperti pada intan permata, seperti  Intan.&lt;br /&gt;~  Kilap Kaca (Vitreous Lustre), kilap seperti pada pecahan kaca, seperti  Kalsit, Kwarsa.&lt;br /&gt;~  Kilap Sutera (Silky Lustre), kilap seperti sutera, biasanya terlihat pada mineral-mineral yang menyerat, seperti  Aktinolit, Asbes, Gipsum&lt;br /&gt;~  Kilap Damar (Resinous Lustre), kilap seperti damar, seperti  Sphalerit, Monasit&lt;br /&gt;~  Kilap Mutiara (Pearly Lustre), kilap seperti mutiara, biasanya terlihat pada bidang-bidang belah dasar mineral, seperti Nefelin, Opal, Serpentin, Brukit.&lt;br /&gt;~  Kilap Tanah (Limonit Lustre) atau kilap guram ( Dull ), biasanya terlihat pada mineral-mineral yang kempal, seperti  Bauxit, Kaolin, Limonit&lt;br /&gt;~  Kilap Lemak ( Greasy Lustre ), kilap seperti lemak, seakan-akan terlapis oleh lemak, seperti Nefelin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 2   Warna ( Colour )&lt;br /&gt;   Mineral seperti Magnetite dan Galena mempunyai warna tetap, tetapi ada beberapa mineral akan mempunyai warna yang bervariasi. Warna-warna dari mineral antara lain :&lt;br /&gt; Putih : Kaolin ( Al2O3.2SiO2.2H2O ), Gypsum ( CaSO4.H2O ), Milky Kwartz (Kwarsa Susu) ( SiO2 )&lt;br /&gt; Kuning : Belerang ( S )&lt;br /&gt; Emas : Pirit ( FeS2 ), Kalkopirit ( CuFeS2 ), Ema ( Au )&lt;br /&gt; Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit ( Cu CO3Cu(OH)2 )&lt;br /&gt; Biru : Azurit ( 2CuCO3 .Cu (OH)2), Beril ( Be3 Al2 (Si6O18))&lt;br /&gt; Merah : Jasper, Hematit ( Fe2O3 )&lt;br /&gt; Coklat : Garnet, Limonite ( Fe2O3)&lt;br /&gt; Abu-abu : Galena ( PbS ) &lt;br /&gt; Hitam : Biotit ( K2 (MgFe)2 (OH)2 (AlSi3O10)), Grafit ( C ), Augit&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 3   Kekerasan (Hardness)&lt;br /&gt;  Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan relatif dari suatu mineral tertentu dengan suatu urutan mineral yang dipakai sebagai standart kekerasan. Mineral yang mempunyai kekerasan lebih kecil akan mempunyai bekas goresan pada tubuh mineral tersebut. Untuk standart kekerasan biasa yang dipakai adalah skala kekerasan dari “MOHS” yang mempunyai 10 pembagian skala, dimulai dari skala untuk mineral yang terlunak dan skala 10 untuk mineral yang terkeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala kekerasan Mineral “MOHS”&lt;br /&gt;Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia&lt;br /&gt;1 Talc H2Mg3 (SiO3)4&lt;br /&gt;2 Gypsum CaSO4. 2H2O&lt;br /&gt;3 Calcite CaCO3&lt;br /&gt;4 Fluorite CaF2&lt;br /&gt;5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2&lt;br /&gt;6 Orthoklase K Al Si3 O8&lt;br /&gt;7 Quartz SiO2&lt;br /&gt;8 Topaz Al2SiO3O8&lt;br /&gt;9 Corundum Al2O3&lt;br /&gt;10 Diamond C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebagai perbandingan dari skala tersebut diatas, maka dibawah ini akan disajikan beberapa alat penguji standart kekerasan, yaitu :&lt;br /&gt; Kuku jari tangan  2,5 &lt;br /&gt; Kawat tembaga   3&lt;br /&gt; Pecahan kaca   5,5 - 6&lt;br /&gt; Kikir Baja/ jarum baja  6,6 – 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 4   Cerat (Streak)&lt;br /&gt;  Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran/ serbuk. Hal ini dapat diperoleh bila mineral digoreskan pada keping porselin kasar, atau dengan membubuk mineral, kemudian warna bubuk itu dilihat.&lt;br /&gt;  Cerat tersebut sama dengan warna mineralnya, tetapi dapat juga berbeda dengan dengan warna mineralnya. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :&lt;br /&gt; Pirit  : berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.&lt;br /&gt; Hematite : berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.&lt;br /&gt; Augite  : Ceratnya abu-abu kehijauan&lt;br /&gt; Biotite  : Ceratnya tidak berwarna&lt;br /&gt; Orthoklase : Ceratnya putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 5   Belahan (Cleavage )&lt;br /&gt;  Belahan merupakan kecendrungan mineral untuk membelah diri pada suatu arah atau lebih yang dikontrol oleh struktur atom.&lt;br /&gt;  Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata, karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal.&lt;br /&gt;  Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian kristal yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata.&lt;br /&gt;  Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt; Sempurna ( Perfect )&lt;br /&gt;Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.&lt;br /&gt;Contoh : Calcite&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Muscovite&lt;br /&gt;    Galena&lt;br /&gt;                 Halite&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baik ( Good )&lt;br /&gt;Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah.&lt;br /&gt;Contoh : Apatite&lt;br /&gt;    Cassiterite&lt;br /&gt;    Native Sulphur&lt;br /&gt; Jelas (Distinct)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak Jelas (Indistinct)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan banyaknya belahan pada mineral, belahan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt; Belahan 1 arah, contohnya : Muskovit&lt;br /&gt; Belahan 2 arah ( 60O/120O ), contohnya : Feldspar&lt;br /&gt; Belahan 3 arah ( 90O ), contohnya : Halit, Galena&lt;br /&gt; Belahan 3 arah ( 60O/90O ), contohnya : Kalsit&lt;br /&gt; Belahan 4 arah, contohnya   : Fluorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 6   Pecahan (Fracture)&lt;br /&gt;  Merupakan kecendrungan mineral untuk terpisah dalam arah yang tidak teratur. Tidak dikontrol kuat oleh struktur atom. Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampaui batas plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.&lt;br /&gt;  Pecahan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt; Choncoidal : Pecahan yang memperlihatkan gelombang yang melengkung dipermukaannya, seperti kenampakan pada botol pecah. Contohnya : Quartz ( Kwarsa )&lt;br /&gt; Hackly : Pecahan dimana permukaannya tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Native Metals ( Cu, Ag )&lt;br /&gt; Even : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan masih mendekati bidang datar. Contohnya : Limonit, Muscovite, Talc, Biotite, Mineral Lempung.&lt;br /&gt; Uneven : pecahan yang kasar dengan permukaan yang tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Garnet, Hematite, Kalkopirit, Magnetit.&lt;br /&gt; Splintery : pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam menyerupai benang atau berserabut. Contohnya : Augit, Hipersten, Anhydrite, Serpentine.&lt;br /&gt; Earthy : pecahan mineral yang hancur seperti tanah. Contohnya : Kaoline,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 7   Bentuk ( Form )&lt;br /&gt;Apabila dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan apapun, maka mineral akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk sempurna ini jarang didapatkan karena di alam gangguan-gangguan tersebut selalu ada. Mineral yang dijumpai di alam srering bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokan mineral kedalam sistem kristalografi.&lt;br /&gt;Sebagai gantinya dipakai istilah perawakan kristal ( crystal habit ), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut. &lt;br /&gt;Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :&lt;br /&gt; Perawakan memanjang ( Elongated Habits )&lt;br /&gt; Meniang ( Columnar )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal prismatik yang menyerupai bentuk tiang. Contohnya : Tourmaline, Pyrolusite, Wollastonite.&lt;br /&gt; Menyerat ( Fibrous )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang menyerupai serat-serat kecil. Contohnya : Asbestos, Gypsum, Silimanite, Tremolite, Pyrophillite.&lt;br /&gt; Menjarum ( Acicular )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang menyerupai jarum-jarum kecil. Contohnya : Natrolite, Glaucophane.&lt;br /&gt; Menjaring ( Reticulate )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang kecil panjang yang tersusun menyerupai jaring. Contohnya : Rutile, Cerussite.&lt;br /&gt; Membenang ( Filliform )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal kecil-kecil yang menyerupai benang. Contohnya : Silver&lt;br /&gt; Merabut ( Cappilery )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang kecil-kecil menyerupai rambut. Contohnya : Cuprite, Bysolite.&lt;br /&gt; Mondok ( Stout, Stubby, Equant )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal pendek, gemuk sering terdapat pada kristal-kristal dengan sumbu c lebih pendek dari sumbu lainnya. Contohnya : Zircon.&lt;br /&gt; Membintang ( Stellated )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bintang. Contohnya : Pirofilit.&lt;br /&gt; Menjari ( Radiated )&lt;br /&gt;  Bentuk-bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk jari-jari. Contohnya : Markasit, Natrolit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perawakan Mendatar ( Flattened Habit )&lt;br /&gt; Membilah ( Bladed )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang panjang dan tipis menyerupai bilah kayu, dengan perbandingan antara lebar dengan tebal sangat jauh. Contohnya : Kyanite, Glaucophane, Kalaverit.&lt;br /&gt; Memapan ( Tabular )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal pipih menyerupai bentuk papan, dimana lebar dengan tebal tidak terlalu jauh. Contohnya : Barite, Hematite, Hypersthene.&lt;br /&gt; Membata ( Blocky )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal tebal menyerupai bentuk bata, dengan perbandingan antara tebal dan lebar hampir sama. Contohnya : Microline.&lt;br /&gt; Mendaun ( Foliated )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal pipih dengan melapis ( lamellar ) perlapisan yang nudah dikupas/dipisahkan. Contohnya : Mica, Talk, Chlorite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memencar ( Divergent )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuki kipas terbuka. Contohnya : Gypsum, Millerite.&lt;br /&gt; Membulu ( Plumose )&lt;br /&gt;  Bentuk kristal yang tersusun membentuk tumpukan bulu. Contohnya : Mica&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perawakan Berkelompok ( Rounded Habits )&lt;br /&gt; Mendada ( Mamillary)&lt;br /&gt;Bentuk kristal bulat-bulat menyerupai buah dada ( breast like ). Contohnya : Malachite, Opal, Hemimorphite.&lt;br /&gt; Membulat ( Colloform )&lt;br /&gt;Bentuk kristal yang menunjukan permukaan yang bulat-bulat. Contohnya : Glauconite, Cobaltite, Bismuth, Geothite, Franklinite, Smallite.&lt;br /&gt; Membulat jari ( Colloform Radial )&lt;br /&gt;Bentuk kristal yang membulat dengan struktur dalam memencar menyerupai bentuk jari. Contohnya : Pyrolorphyte.&lt;br /&gt; Membutir ( Granular )&lt;br /&gt;Kelompok kristal kecil yang berbentuk butiran. Contohnya : Olivine, Anhydrite, Chromite, Sodalite, Alunite.&lt;br /&gt; Memisolit ( Pisolitin )&lt;br /&gt;Kelompok kristal lonjong sebesar krikil, seperti kacang tanah. Contohnya : Gibbsite, Pisolitic Limestone.&lt;br /&gt; Stalaktit ( Stalactitic )&lt;br /&gt;Bentuk kristal yang membulat dengan litologi gamping. Contohnya : Geothite.&lt;br /&gt; Mengginjal ( Reniform )&lt;br /&gt;Bentuk kristal yang menyerupai bentuk ginjal. Contohnya : Hematite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 8   Berat Jenis (Specific Gravity)&lt;br /&gt;  Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral dibandingkan dengan berat air pada volume yang sama.&lt;br /&gt;  Cara yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Rumus perhitungan berat jenis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat Jenis  =    (Berat di Luar Air)/(Berat di Luar Air-Berat Dalam Air)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5. 9   Sifat Dalam&lt;br /&gt;sifat mineral kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan atau mengiris.Yang termasuk sifat ini adalah&lt;br /&gt; Rapuh (brittle) : mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh : kwarsa, orthoklas, kalsit, pirit.&lt;br /&gt; Mudah ditempa (malleable) : dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti : emas, tembaga.&lt;br /&gt; Dapat diiris (secitile) : dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh : gypsum.&lt;br /&gt; Fleksible : mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh : mineral talk, selenit.&lt;br /&gt; Blastik : mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh : muskovit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.10  Kemagnetan&lt;br /&gt;Merupakan sifat mineral terhadap gaya magnet. Dikatakan sebagai feromagnetik bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti magnetic, phirhotit. Mineral-mineral yang menolak gaya magnet disebut diamagnetic, dan yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetic atau tidak kita gantungkan pada seutas tali/benang sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti mineral tersebut magnetic. Kuat tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat dengan benang tersebut dengan garis vertikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.11  Kelistrikan&lt;br /&gt;Sifat listrik mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar arus atau londuktor dan idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada lagi istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat sebagai konduktor dalam batas-batas tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.12  Daya Lebur&lt;br /&gt;Daya lebur mineral yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan dengan membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam derajat keleburan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.13  Transparansi&lt;br /&gt;Sifat transparan dari suatu mineral tergantung kepada kemampuan mineral tersebut men-transmit sinar cahaya ( berkas sinar ). Sesuai dengan itu, variasi jenis mineral dapat dibedakan menjadi :&lt;br /&gt; Tembus (Transparant), contohnya : Kalsit, Kuarsa&lt;br /&gt; Agak Tebus/Setengah Tembus (Translucens), contohnya : Opal&lt;br /&gt; Tidak Tembus (Opaq), contohnya : Feldspar, Piroksen, Hornblende&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.14  Bau&lt;br /&gt;Melalui gesekan dan penghilangan dari beberapa zat yang bersifat volitatile melalui pemanasan atau melalui penambahan suatu asam, maka kadang-kadang bau ( Odour ) akan menjadi cirri-ciri yang khas dari suatu mineral.&lt;br /&gt; Alliaceous : Bau seperti bawang&lt;br /&gt; Horse Radish Odour : Bau dari lobak kuda yang menjadi busuk&lt;br /&gt; Sulphurous : bau belerang yang sangat menyengat&lt;br /&gt; Bituminous : bau seperti bau aspal&lt;br /&gt; Fetid  : bau seperti telur busuk&lt;br /&gt; Argillaceous : bau seperti lempung basah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.15  Rasa&lt;br /&gt;Rasa hanya dipunyai oleh mineral-mineral yang bersifat cair :&lt;br /&gt; Astringet : rasa yang umumnya dimiliki oleh sejenis logam&lt;br /&gt; Sweetist Astringet : rasa seperti pada tawas&lt;br /&gt; Saline  : rasa yang dimiliki garam&lt;br /&gt; Alkaline : rasa seperti pada soda&lt;br /&gt; Bitter  : rasa seperti rasa garam pahit&lt;br /&gt; Cooling : rasa seperti rasa sendawa&lt;br /&gt; Sour : rasa seperti asam belerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 5.16  Rabaan&lt;br /&gt;Kadang-kadang raba merupakan karakter yang penting. Misalnya, permukaan kristal yang bila diraba serasa menyentuh permukaan benda tertentu, ex: Mengusap talk serasa menyentuh permukaan sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. 6 Sifat- sifat optik dari mineral - mineral &lt;br /&gt;Sifat – sifat optik dari minera dapat diamati dengan menggunakan mikroskop dengan metode tanpa nikol (nikol sejajar) maupun dengan nikol (nikol bersilang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.6.1 Pengamatan Tanpa Nikol (Nikol Sejajar) &lt;br /&gt;Sifat-sifat optik yang dapat diamati adalah ketembusan cahaya, inklusi, ukuran, bentuk, belahan dan pecahan, indeks bias dan relief, warna, dan pleokroisme. &lt;br /&gt; Ketembusan Cahaya&lt;br /&gt;Berdasar atas sifatnya terhadap cahaya, mineral dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu mineral yang tembus cahaya/transparent dan mineral tidak tembus cahaya /mineral opak/mineral kedap cahaya.&lt;br /&gt;Di bawah ortoskop semua mineral kedap cahaya tampak sebagai butiran yang gelap/hitam. Mineral jenis ini tidak dapat dideskripsikan dengan mikroskop polarisasi, dan dapat dipelajari lebih lanjut dengan mikroskop pantulan. Mineral tembus cahaya dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu mineral berwarna dan mineral tidak berwarna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Inklusi&lt;br /&gt;Pada kristal tertentu, selama proses kristalisasi sebagian material asing yang terkumpul pada permukaan bidang pertumbuhannya akan terperangkap dalam kristal, dan seterusnya menjadi bagian dari kristal tersebut. Material tersebut dapat berupa kristal yang lebih kecil dari mineral yang berbeda jenisnya, atau berupa kotoran/impurities pada magma, dapat juga berupa fluida baik cairan ataupun gas. Kungkungan dapat dikenali di bawah mikroskop tanpa nikol apabila terdapat perbedaan antara bahan inklusi dengan kristal yang mengungkungnya, misalnya pada ketembusannya, relief maupun perbedaan warna. Bidang batas antara inklusi dengan mineral yang mengungkungnya dapat bersifat seperti batas bidang kristal biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ukuran mineral &lt;br /&gt;Ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm dan sebagainya. Pengukuran lebar dan panjang atau diameter mineral dapat dilakukan dengan bantuan lensa okuler yang berskala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bentuk mineral &lt;br /&gt;Pengamatan bentuk mineral dilakukan dengan melihat atau mengamati bidang batas/garis batas mineral tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kristal tumbuh secara bebas di dalam media cair atau gas, ataukah pertumbuhan tersebut terhalang oleh butir-butir mineral yang tumbuh di sekitarnya, hal ini akan memberikan kenampakan bidang batas yang relatif berbeda. &lt;br /&gt; - Apabila kristal tersebut dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk euhedral .&lt;br /&gt; - Apabila kristal tersebut dibatasi oleh hanya sebagian bidang kristalnya sendiri maka kristal disebut mempunyai bentuk subhedral .&lt;br /&gt; - Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk anhedral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter lain untuk menyatakan bentuk adalah jumlah dan perbandingan panjang bidang-bidang batas kristal, terutama untuk kristal-kristal yang euhedral. Istilah yang sering digunakan antara lain: prismatik, tabular, granular, lathlike, fibrous, foliated, radiated, dan sebagainya. Untuk kristal yang dalam pertumbuhannya terhalang oleh kristal yang lain atau juga terhalang magma yang kental, sering menghasilkan bentuk “incipient crystals”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Belahan&lt;br /&gt;Belahan dalam sayatan mineral bisa terlihat dalam bentuk garis-garis yang teratur sepanjang bidang belahannya, di mana kenampakannya bisa sangat baik, baik, buruk atau tidak ada. Dalam hal tertentu sebaiknya orientasi belahan inii ditentukan kedudukannya terhadap sumbu kristalnya. Belahan merupakan sifat fisikyang tetap pada satu jenis mineral yang menunjukkan sifat khas dari struktur atom di dalamnya.&lt;br /&gt; Belahan satu arah &lt;br /&gt;Beberapa mineral dicirikan oleh adanya belahan pada satu arah saja, misalnya pada semua mineral mika. Bidang-bidang belahan akan nampak sebagai garis lurus yang sejajar satu dengan yang lain pada sayatan yang dipotong miring atau sejajar terhadap sumbu kristal atau memotong arah bidang belahan. Sedangkan sayatan yang tegaklurus sumbu kristal atau sejajar bidang belahan, maka belahan tidak akan nampak sama sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pecahan&lt;br /&gt;Pecahan atau fracture adalah kecenderungan dari suatu mineral untuk pecah dengan cara tertentu yang tidak dikontrol oleh struktur atom seperti halnya belahan. Jenis-jenis pecahan yang khas antara lain pecahan seperti gelas (subconchoidal fracture) pada kuarsa, pecahan memotong pada olivin, ortopiroksen dan nefelin. &lt;br /&gt; Indeks Bias dan Relief&lt;br /&gt;Relief adalah ekspresi dari cahaya yang keluar dari suatu media kemudian masuk ke dalam media yang lain yang mempunyai harga indeks bias yang berbeda, sehingga cahaya tersebut mengalami pembiasan pada batas kontak kedua media tersebut. Semakin besar perbedaan harga indeks bias antara kedua media, maka semakin jelas bidang batas natara keduanya. Sebaliknya semakin kecil perbedaan harga indeks bias, maka kenampakan bidang batas antar mineral akan semakin kabur. Untuk mempermudah pengamatan relief di bawah ortoskop, maka sayatan mineral/batuan dilekatkan pada kaca dengan menggunakan media balsam kanada yang mempunyai relief nol (sebagai standar) dengan n = 1.537.&lt;br /&gt;Dalam pengamatan dan penilaian relief mineral secara relatif, maka harga relief mineral harus dibandingkan dengan relief standar balsam kanada (n = 1.537) atau relief kuarsa (n = 1.544). setiap mineral yang mempunyai indeks bias kurang dari relief standar disebut memiliki relief negatif, sedangkan mineral yang memiliki indeks bias lebih besar dari standar disebut memiliki relief positif. Cara untuk membedakan jenis relief adalah dengan menggunakan metode garis Becke. Selain penilaian relief positif/negatif, harga relief suatu mineral juga dinilai berdasar tingkatan perbedaan harga indeks bias dengan n standar. Setiap mineral yang mempunyai n relatif dekat dengan n standar yaitu antara 1.545 – 1.599 maka disebut memiliki relief positif rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Warna dan pleokroisme&lt;br /&gt;Warna yang tampak pada mikroskop polarisasi adalah warna yang dihasilkan oleh oleh sifat cahaya yang bergetar searah dengan arah polarisator. Pada mineral yang bersifat isotropik hanya terdapat satu warna saja yang tidak berubah sama sekali walaupun meja objek diputar, sedangkan pada mineral yang bersifat anisotropik, dapat terjadi dua atau tiga warna yang berbeda tergantung pada arah sayatan mana yang diamati.&lt;br /&gt;Seluruh mineral yang menampakkan lebih dari satu warna disebut pleokroik, yang dicirikan oleh dua warna disebut dikroik, dan tiga warna  disebut trikroik. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme, mineral anisotropik sumbu satu akan memiliki pleokroisme dikroik (apabila disayat tidak tegak lurus sumbu optik) dan tanpa pleokroisme (apabila disayat tegak lurus sumbu optik), dan mineral anisotropik sumbu dua akan bersifat trikroik, dikroik, maupun tanpa pleokroisme, tergantung sudut sayatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.6.2 Pengamatan Dengan Nikol (Nikol Bersilang) &lt;br /&gt;Pengamatan ortoskopik nikol bersilang (crossed polarized light) dimaksudkan bahwa dalam pengamatannya digunakan analisator bersilangan dengan polarisator (sinar diserap dalam dua arah yang saling tegak lurus). Sifat yang dapat diamati adalah sifat optik yang berhubungan dengan kedudukan dan jumlah sumbu optik. Sifat optik yang diamati antara lain warna interferensi, gelapan dan kedudukan gelapan serta kembaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Warna Interferensi&lt;br /&gt;Warna interferensi adalah sifat optik yang sangat penting, namun penjelasannya cukup rumit, sehingga kita harus memahami konsep dasarnya secara bertahap.&lt;br /&gt;Pada posisi sumbu sinar sembarang terhadap arah getar polarisator inilah, komponen sinar lambat dan cepat tidak diserap oleh analisator, sehingga dapat diteruskan hingga mata pengamat. Karena perbedaan kecepatan rambat sinar cepat dan lambat inilah, maka terjadi yang disebut sebagai beda fase atau retardasi. Semakin besar selisih indeks bias, semakin besar beda fase/retardasinya.&lt;br /&gt;Warna interferensi dapat ditentukan dengan memutar meja objek yang terdapat sayatan mineral hingga diperoleh terang maksimal. Warna terang tersebut dicocokkan dengan tabel interferensi Michel – Levy Chart.&lt;br /&gt;-  polariser + analyser&lt;br /&gt;-  polariser + isotropic mineral + analyser&lt;br /&gt;-  polariser + anisotropic mineral + analyser (position perpendicular to the   optic axis)&lt;br /&gt;- polariser + anisotropic mineral + analyser. Specific position: extinction position&lt;br /&gt;- polariser + anisotropic mineral + analyser. General position: interference colour &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanda rentang optik &lt;br /&gt;Tanda rentang optik adalah istilah untuk menunjukkan hubungan antara sumbu kristalografi (terutama arah memanjangnya kristal) dengan sumbu sinar cepat (x) dan lambat (z).&lt;br /&gt;Tujuannya adalah menentukan sumbu sinar mana (x atau z) yang kedudukannya berimpit atau dekat (menyudut lancip) dengan sumbu panjang kristal. Dengan demikian, TRO hanya dimiliki oleh mineral yang memiliki belahan satu arah atau arah memanjangnya mineral (sumbu c). Jenis tanda rentang optik yaitu : &lt;br /&gt; Length slow (+) = sumbu c berimpit /menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat (sumbu z). Keadaan ini dinamakan Addisi yaitu penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan.&lt;br /&gt; Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut lancip dengan arah getar sinar cepat (sumbu x). Keadaan ini dinamakan Substraksi yaitu pengurangan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan.&lt;br /&gt;Penentuan tanda rentang optik dilakukan dengan pengamatan nikol bersilang dengan menggunakan kompensator (keping gips/baji kuarsa). Cara menentukan orientasi optik dan sudut gelapan antara lain:&lt;br /&gt; Letakkan mineral pada posisi sumbu panjang (c) sejajar PP (vertikal)&lt;br /&gt; Putar meja objek sehingga pada terang max&lt;br /&gt; Catat warna interferensinya, orde…&lt;br /&gt; Masukkan keping kompensator, perhatikan gejala yang terjadi, addisi atau subtraksi&lt;br /&gt; Jika subtraksi = z kompensator tegak lurus z indikatriks mineral, à length fast, TRO negatif&lt;br /&gt; Jika addisi = z kompensator sejajar z indikatriks mineral, à length slow, TRO positif&lt;br /&gt; Putar meja ke kiri hingga gelap maks, pada kedudukan ini z atau g sejajar atau tegaklurus PP, catat kedudukan ini Ao&lt;br /&gt; Putar kembali meja objek hingga sumbu panjang kristal sejajar PP, catat kedudukannya Bo&lt;br /&gt; Sudut gelapannya = A-B&lt;br /&gt; Kembaran &lt;br /&gt;Selama pertumbuhan kristal atau pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi, dua atau lebih kristal intergrown dapat terbentuk secara simetri.  Simetri intergrown inilah yang dikenal sebagai kembaran.&lt;br /&gt;Kembaran hanya dapat diamati pada nikol bersilang karena kedudukan kisi pada dua lembar kembaran yang berdampingan saling berlawanan, sehingga kedudukan gelapan dan warna interferensi maksimalnya berlainan.&lt;br /&gt;Secara genesa, kembaran dapat terbentuk dalam tiga proses yang berbeda yaitu kembaran tumbuh, transformasi, dan deformasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembaran tumbuh/Growth Twins&lt;br /&gt;Kembaran ini terbentuk bersamaan pada saat kristalisasi atau pertumbuhan kristal, di mana dua unit kristal berbagi dan tumbuh dari satu kisi yang sama dengan orientasi berlawananJenis kembaran ini terbagi atas kembaran kontak dan kembaran penetrasi. Contoh jenis kembaran ini adalah kembaran carlsbad pada ortoklas dan kembaran albit pada plagioklas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembaran transformasi&lt;br /&gt;Kembaran ini dapat terjadi karena kristal mengalami transformasi karena perubahan P dan T terutama karena perubahan T. Hal ini hanya dapat terjadi pada kristal yang mempunyai struktur dan simetri yang berbeda pada kondisi P dan T yang berbeda. Pada saat P&amp;T berubah, bagian tertentu dari kristal ada yang stabil ada yang mengalami perubahan orientasi kisi, sehingga terjadi perbedaan orientasi pada bagian berbeda dari kristal. Contoh: kembaran dauphin dan kembaran brazil pada kuarsa terbentuk karena penurunan T. Contoh lain adalah kembaran periklin yang terjadi pada saat sanidin (monoklin, high T) berubah menjadi mikroklin (triklin, low T).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kembaran Deformasi/Deformation Twins&lt;br /&gt;Kembaran ini terjadi setelah kristalisasi, pada saat kristal telah padat. Karena deformasi (perubahan P) atom pada kristal dapat terdorong dari posisi semula. Apabila perubahan posisi ini terjadi pada susunan yang simetri, akan menghasilkan kembaran. Contoh kembaran jenis ini adalah polisintetik pada kalsit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis kembaran :&lt;br /&gt;Gelapan dan kedudukan gelapan&lt;br /&gt;Pada pengamatan nikol bersilang, gelapan (keadaan di mana mineral gelap maksimal) dapat terjadi karena tidak ada cahaya yang diteruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Pada zat anisotropik syarat terjadinya gelapan adalah kedudukan sumbu sinar berimpit dengan arah getar polarisator dan/atau analisator. Sumbu sinar = sinar cepat (x) dan sinar lambat (z). Sehingga dalam putaran 360o akan ada empat kedudukan gelapan. Sebaliknya kedudukan terang maksimal (warna interferensi maksimal) terjadi pada saat sumbu sinar membuat sudut 45o terhadap arah getar PP dan AA. &lt;br /&gt; Gelapan sejajar/paralel&lt;br /&gt;Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal (sumbu c) sejajar dengan arah getar PP dan/atau AA. Sehingga dapat dikatakan sumbu optik berimpit dengan sumbu kristalografi.&lt;br /&gt; Gelapan miring&lt;br /&gt;Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal (sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP dan/atau AA. Sehingga dapat dikatakan sumbu optik menyudut terhadap sumbu kristalografi&lt;br /&gt; Gelapan bergelombang&lt;br /&gt;Terjadi pada mineral yang mengalami tegangan/distorsi sehingga orientasi sebagian kisi kristal mengalami perubahan berangsur, dan kedudukan gelapan masing2 bagian agak berbeda.&lt;br /&gt; Gelapan bintik/mottled extinction&lt;br /&gt;Umumnya terjadi pada mineral silikat berlapis (mika), hal ini terjadi karena perubahan orientasi kisi kristal secara lokal, sehingga tidak seluruh bagian kristal sumbu sinarnya berorientasi sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Optik &lt;br /&gt;Rock Forming Minerals&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; KUARSA&lt;br /&gt; Colorless, relief rendah &lt;br /&gt; Bentuk tak beraturan, dalam batuan umumnya anhedral &lt;br /&gt; Tidak punya belahan &lt;br /&gt; Gelapan bergelombang &lt;br /&gt; Warna interferensi abu2 orde1&lt;br /&gt; TO sumbu I (+)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ORTOKLAS&lt;br /&gt; Colorles tapi agak keruh, relief rendah &lt;br /&gt; Pada sayatan 001 terlihat kembaran carlsbad &lt;br /&gt; WI abu2 terang orde I&lt;br /&gt; TO sumbu 2 (-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PLAGIOKLAS&lt;br /&gt; Colorles tapi agak keruh, relief rendah-sedang &lt;br /&gt; kembaran albit atau carlsbad-albit &lt;br /&gt; WI abu2 terang orde I&lt;br /&gt; TO sumbu 2 (-) dan (+)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; OLIVIN&lt;br /&gt; Abu2 agak kehijauan-transparan &lt;br /&gt; Relief tinggi &lt;br /&gt; Bentuk poligonal/prismatik &lt;br /&gt; Pecahan tak beraturan, tanpa belahan &lt;br /&gt; WI orde II&lt;br /&gt; Pada bidang pecahan/rekahan sering teralterasi menjadi serpentin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. KLINO PIROKSEN (AUGIT, DIOPSID)&lt;br /&gt; Warna bening, abu-abu kecoklatan, prismatik, sayatan//c belahan 1arah, sayatan tegak lurus c belahan 2 arah 90o&lt;br /&gt; Gelapan miring, augit 45-54o diopsid 37-44o&lt;br /&gt; TO (+) sb2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ORTOPIROKSEN (ENSTANTIN, HIPERSTEN)&lt;br /&gt; Sifat optik sama dengan klinopiroksen &lt;br /&gt; Yang membedakan adalah gelapannya sejajar (klino=miring)&lt;br /&gt; TO sumbu 2 (-) àhipersten (+) à enstatit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; HORNBLENDE&lt;br /&gt; Warna kehijauan/kecoklatan, &lt;br /&gt; relief tinggi, &lt;br /&gt; pleokroisme kuat (dikroik/trikroik), &lt;br /&gt; belahan 1 arah atau 2 arah 120o, &lt;br /&gt; bentuk prismatik (biasanya memanjang), &lt;br /&gt; gelapan miring 12-30o&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BIOTIT&lt;br /&gt; Warna coklat, kemerahan, kehitaman &lt;br /&gt; Bentuk berlembar &lt;br /&gt; Pleokroisme kuat &lt;br /&gt; Gelapan sejajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MUSCOVIT&lt;br /&gt; Bentuk dan sifat optik lain mirip biotit, warna colorless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; KALSIT&lt;br /&gt; Colorless&lt;br /&gt; Belahan sempurna tiga arah &lt;br /&gt; Biasganda sangat tinggi &lt;br /&gt; TO I (-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; TREMOLIT – AKTINOLIT &lt;br /&gt; Warna colorless-agak kehijauan, bentuk prismatik memanjang/kolumnar, pleokroisme lemah, gelapan miring 10-20o&lt;br /&gt;Untuk bentuk dan sifat optik yang sama, warna kebiruan dengan sudut gelapan 4-6o =glaukofan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-1444554344703527211?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/1444554344703527211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/mineral.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1444554344703527211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1444554344703527211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/mineral.html' title='MINERAL'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-3275034590769048631</id><published>2009-11-16T07:12:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T07:33:50.069-08:00</updated><title type='text'>MIKROSKOP POLARISASI</title><content type='html'>MIKROSKOP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mikroskop yang dipergunakan untuk pengamatan sayatan tipis dari batuan, pada prinsipnya sama dengan mikroskop yang biasa dipergunakan dalam pengamatan biologi. Keutamaan dari mikroskop ini adalah cahaya (sinar) yang dipergunakan harus sinar terpolarisasi. Karena dengan sinar itu beberapa sifat dari kristal akan nampak jelas sekali. Salah satu faktor yang paling penting adalah warna dari setiap mineral, karena setiap mineral mempunyai warna yang khusus.&lt;br /&gt;Untuk mencapai daya guna yang maksimal dari mikroskop polarisasi maka perlu difahami benar bagian-bagiannya serta fungsinya di dalam penelitian. Setiap bagian adalah sangat peka dan karenanya haruslah dijaga baik-baik. Kalau mikroskop tidak dipergunakan sebaiknya ditutup dengan kerudung plastik. Bagian-bagian optik haruslah selalu dilindungi dari debu, minyak dan kotoran lainnya. Perlu kiranya diingat bahwa buttr debu yang betapapun kecilnya akan dapat dibesarkan berlipat ganda sehingga akan mengganggu jalannya pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1 Definisi Mikroskop Polarisasi&lt;br /&gt;  Mikroskop polarisasi ini berbeda dengan mikroskop biasa yang dipakai pada bidang biologi, kedokteran, atau bidang lainnya, di mana mikroskop hanya memperbesar benda yang diamati. Mikroskop polarisasi menggunakan cahaya yang terbias/ dibelokkan, bukan cahaya terpantul. Selain itu, perbedaannya pada beberapa komponen khusus yang hanya terdapat pada mikroskop ini, antara lain keping analisator, polarisator, kompensator, dan lensa amici bertrand. Jenis/tipe dari mikroskop ini cukup beragam, ada beberapa tipe yang biasa digunakan misalnya tipe Olympus, Bausch &amp; Lomb, dan Reichert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2 Bagian-bagian mikroskop polarisasi dan fungsinya&lt;br /&gt;a. Kaki Mikroskop&lt;br /&gt; Merupakan tempat tumpuan dari seluruh bagian mikroskop, bentuknya ada yang bulat dan ada yang seperti tapal kuda (U). Pada mikroskop tipe Bausch &amp; Lomb, kaki mikroskop juga digunakan untuk menempatkan cermin.&lt;br /&gt; Pada tipe olympus yang akan kita gunakan, kaki mikroskop sebagai tempat lampu halogen sebagai sumber cahaya pengganti cermin.&lt;br /&gt;b. Substage Unit&lt;br /&gt; Polarisator atau ” lower nicol ”&lt;br /&gt; Merupakan suatu bagian yang terdiri dari suatu lembaran polaroid.&lt;br /&gt; Berfungsi untuk menyerap cahaya secara terpilih (selective absorbtion), sehingga hanya cahaya yang bergetar pada satu arah bidang getar saja yang bisa diteruskan. Dalam mikroskop lembaran ini diletakkan sedemikian hingga arah getaran sinarnya sejajar dengan salah satu benang silang pada arah N-S atau E-W.&lt;br /&gt; Diafragma Iris&lt;br /&gt; Terdapat di atas polarisator, alat ini berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang diteruskan dengan cara mengurangi atau menambah besarnya apertur/bukaan diafragma. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan intensitas cahaya yang diterima oleh mata pengamat, karena kemampuan akomodasi mata tiap-tiap orang relatif berbeda.&lt;br /&gt; Fungsi penting lainnya adalah untuk menetapkan besarnya daerah pada peraga yang ingin diterangi, juga dalam penentuan relief, di mana cahaya harus dikurangi sekecil mungkin untuk pengamatan “garis becke”.&lt;br /&gt; Kondensor&lt;br /&gt; Terletak pada bagian paling atas dari “substage unit”. Kondensor berupa lensa cembung yang berfungsi untuk memberikan cahaya memusat yang datang dari cermin di bawahnya. Lensa kondensor dapat diputar/diayun keluar dari jalan cahaya apabila tidak digunakan/difungsikan. Fungsi kondensor lebih lanjut akan dibahas pada bab konoskop.&lt;br /&gt; Meja Objek&lt;br /&gt; Bentuknya berupa piringan yang berlubang di bagian tengahnya sebagai jalan masuknya cahaya. Meja objek ini berfungsi sebagai tempat menjepit preparat/peraga. Meja objek ini dapat berputar pada sumbunya yang vertikal, dan dilengkapi dengan skala sudut dalam derajat dari 0 sampai 360o&lt;br /&gt; Pada bagian tepi meja terdapat tiga buah sekerup pemusat untuk memusatkan perputaran meja pada sumbunya (centering).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tubus Mikroskop&lt;br /&gt; Bagian ini terletak di atas meja objek dan berfungsi sebagai unit teropong.&lt;br /&gt; Terdiri atas beberapa bagian antara lain :&lt;br /&gt; Lensa Objektif&lt;br /&gt;• Merupakan bagian paling bawah dari tubus mikroskop, berfungsi untuk menangkap dan memperbesar bayangan sayatan mineral dari meja objek. &lt;br /&gt;• Biasanya pada mikroskop polarisasi terdapat tiga buah lensa objektif dengan perbesaran yang berbeda, tergantung keinginan pengamat, dan biasanya perbesaran yang digunakan adalah 4x, 10x dan 40x, kadang ada yang 100x.&lt;br /&gt; Lubang Kompensator&lt;br /&gt;• Adalah suatu lubang pipih pada tubus sebagai tempat memasukkan kompensator, suatu bagian yang digunakan untuk menentukan warna interferensi &lt;br /&gt;• Kompensator berupa baji kuarsa atau gips yang menipis ke arah depan, sehingga pada saat dimasukkan lubang akan menghasilkan perubahan warna interferensi pada mineral&lt;br /&gt; Analisator&lt;br /&gt;• Adalah bagian dari mikroskop yang fungsinya hampir sama dengan polarisator, dan terbuat dari bahan yang sama juga, hanya saja arah getarannya bisa dibuat searah getaran polarisator (nikol sejajar) dan tegak lurus arah getaran polarisator (nikol bersilang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lensa Amici Bertrand&lt;br /&gt;• lensa ini difungsikan dalam pengamatan konoskopik saja, untuk memperbesar gambar interferensi yang terbentuk pada bidang fokus balik (back focal plane) pada lensa objektif, dan memfokuskan pada lensa okuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lensa Okuler&lt;br /&gt;• Terdapat pada bagian paling atas dari tubus mikroskop, berfungsi untuk memperbesar bayangan objek dan sebagai tempat kita mengamati medan pandang. Pada lensa ini biasanya terdapat benang silang, sebagai pemandu dalam pengamatan dan pemusatan objek pengamatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-3275034590769048631?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/3275034590769048631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/mikroskop-polarisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3275034590769048631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/3275034590769048631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/mikroskop-polarisasi.html' title='MIKROSKOP POLARISASI'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-269219868824220000</id><published>2009-11-16T07:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T07:11:41.977-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BENTUK TUBUH BATUAN BEKU'/><title type='text'>BENTUK TUBUH BATUAN BEKU</title><content type='html'>BENTUK TUBUH BATUAN BEKU DALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan beku dapat digolongkan berdasarkan tempat pembekuan magma yakni batuan beku dalam (batuan beku plutonik) dan batuan beku luar (batuan beku ekstrusive. Pembahasan dalam paper kali ini adalah mengenai batuan beku dalam beserta bentuk tubuh batuan beku tersebut.&lt;br /&gt;Batuan beku dalam terbentuk oleh magma yang membeku di bawah permukaan bumi, yang kemudian mengalami pendinginan yang  sangat lambat sehingga memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive atau batuan beku plutonik. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya.&lt;br /&gt;Bentuk tubuh batuan beku dapat dibedakan menjadi dua yakni bentuk yang memotong struktur batuan disekitarnya dan bentuk batuan beku yang sejajar dengan struktur batuan disekitarnya. Bentuk tubuh batuan beku yang memotong struktur batuan disekitarnya disebut diskordan yang meliputi dike, batholit, dan stock.&lt;br /&gt;a. Dike&lt;br /&gt;Dike adalah bentuk tubuh batuan beku yang memotong struktur batuan disekitarnya yang memiliki bentuk tabular dengan kedua sisinya sejajar. Dike berasal dari intruksi magma yang telah membeku. Dike memiliki ukuran dimensi lebar yang bervariasi mulai dari centimeter sampai beberapa meter dengan dimensi panjangnya atau lateralnya sampai beberapa kilometer. Dimensi dike lebih kecil dari dimensi batholit. Karena dike memotong batuan beku disekitarnya, dapat dianalisis bahwasannya umur dari dike lebih muda dari batuan yang dipotongnya yang mana manganut hukum cross-cutting relationship. Dike biasanya memotong batuan sekitarnya secara vertikal atau cenderung vertikal, akan tetapi akibat dari aktivitas tektonisme, rangkaian atau urutan dari lapisan dike dan batuan sekitarnya yang dipotong berubah menjadi horizontal.&lt;br /&gt;Tekstur dan komposisi dari dike dapat berubah dari basa ke granitik yang berarti cenderung ke asam, akan tetapi secara umum komposisi dari dike adalah basa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Batholit&lt;br /&gt; Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batholit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batholit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang berada diatasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap fragmen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.&lt;br /&gt; Sebagian batholit juga dapat muncul ke permukaan bumi dengan luasnya yang lebih dari 100 kilometer persegi. Proses yang menyebabkan batholit dapat muncul ke permukaan adalah proses erosi yang dipercepat dengan proses uplift dari lempeng benua tempat batholit tersebut terbentuk degnan kisaran waktu puluhan sampai ratusan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Stock&lt;br /&gt;Stock, seperti batholit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.&lt;br /&gt;Bentuk tubuh batuan beku yang lain adalah yang sejajar dengan batuan yang ada disekitarnya yang meliputi sill, lakolit, dan lopolit.&lt;br /&gt;a) Sill&lt;br /&gt;Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar. Proses terbentuknya sill berhubungan erat dengan terbentuknya dike dimana dike yang terkena aktivitas tektonik dapat berubah orientasinya menjadi horizontal, begitu pula sebaliknya pada sill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Lakolit&lt;br /&gt;Lakolit, sejenis dengan sill yakni batuan beku yang menerobos diantara batuan sedimen. Yang membedakan adalah bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Pembentukan lakolit yang seperti kubah tersebut berkaitan dengan tingginya tekanan dari magma yang berada dibawahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Lopolit&lt;br /&gt;Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian atas dan bawahnya cekung ke atas.&lt;br /&gt;Berikut gambar dari perbedaan beberapa macam bentuk tubuh batuan beku secara keseluruhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-269219868824220000?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/269219868824220000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/bentuk-tubuh-batuan-beku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/269219868824220000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/269219868824220000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/bentuk-tubuh-batuan-beku.html' title='BENTUK TUBUH BATUAN BEKU'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-5330963519165042666</id><published>2009-11-16T06:46:00.001-08:00</published><updated>2009-11-16T07:02:33.720-08:00</updated><title type='text'>BATUAN SEDIMEN</title><content type='html'>BATUAN SEDIMEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.&lt;br /&gt;        ( Pettjohn, 1975 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen. Disbanding dengan batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya 5% dari seluruh batuan – batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5% ini,batu lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu gamping kira  - kira 80%.&lt;br /&gt;Berdasarka ada tidaknya proses transportasi dari batuan sedimen dapat dibedakan menjadi 2 macam :&lt;br /&gt;1. Batuan Sedimen Klastik &lt;br /&gt;Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari hancuran batuan lain. Kemudian tertransportasi dan terdeposisi yang selanjutnya mengalami diagenesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Batuan Sedimen Non Klastik&lt;br /&gt;Yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami proses transportasi. Pembentukannya adalah kimiawi dan organis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sifat – sifat utama batuan sedimen :&lt;br /&gt;1. Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan adanya proses sedimentasi.&lt;br /&gt;2. Sifat klastik yang menandakan bahwa butir – butir pernah lepas, terutama pada golongan detritus.&lt;br /&gt;3. Sifat jejak adanya bekas – bekas tanda kehidupan (fosil).&lt;br /&gt;4. Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya : gypsum, kalsit, dolomite dan rijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya mengandung 5% yang diketahui di litofera dengan ketebalan 10 mil di luar tepian benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%. Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan – batuan sedimen menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku sebesar 25% saja. Batuan sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali sampai yang tebal sekali. Ketebalan batuan sedimen antara 0 sampai 13 kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang tersingkap dibagian benua. Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan memiliki ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari pantai ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari yang lebih tipis darim0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer, sedangkan ketebalan rata – rata sekitar 1 kilometer.&lt;br /&gt;Total volume dan massa dari batuan – batuan sedimen di bumi memiliki perkiraan yang berbeda – beda, termasuk juga jalan untuk mengetahui jumlah yang tepat. Beberapa ahli dalam bidangnya telah mencoba untuk mengetahui ketebalan rata – rata dari lapisan batuan sedimen di seluruh muka bumi. Clarke (1924) pertama sekali memperkirakan ketebalan sedimen di paparan benua adalah 0,5 kilometer. Di dalam cekungan yang dalam, ketebalan ini lebih tinggi, lapisan tersebut selalu bertambah ketebalannya dari hasil alterasi dari batuan beku, oksidasi, karonasi dan hidrasi. Ketebalan tersebut akan bertambah dari hasil rombakan di benua sehinngga ketebalan akan mencapai 2.200 meter. Volume batuan sedimen hasil perhitungan dari Clarke adalah 3,7 x 108  kilometer kubik.&lt;br /&gt;      ( Danang Endarto, 2005 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Penggolongan Dan Penamaan Batuan Sedimen &lt;br /&gt;Berbagai penggolongan dan penamaan batuan sedimen telah dikemukakan oleh para ahli, baik berdasarkan genetis maupun deskriptif. Secara genetik disimpulkan dua golongan &lt;br /&gt;    ( Pettjohn, 1975 dan W.T. Huang, 1962 ) &lt;br /&gt;1. Batuan Sedimen Klastik&lt;br /&gt; Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri.&lt;br /&gt;Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian ini berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat maupun dilingkungan laut. Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan batuan batupasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus kasar. Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau, serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai laut dalam.&lt;br /&gt;Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan. &lt;br /&gt;Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalmi diagenesa yakni, proses proses – proses yang berlangsung pada temperatur rendah di dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras.&lt;br /&gt;Proses diagenesa antara lain :&lt;br /&gt;A. Kompaksi Sedimen&lt;br /&gt;Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sementasi&lt;br /&gt;Yaitu turunnya material – material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir – butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rekristalisasi&lt;br /&gt;Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan batuan karbonat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Autiqenesis&lt;br /&gt;Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorita, gypsum dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Metasomatisme&lt;br /&gt;Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Batuan Sedimen Non Klastik&lt;br /&gt;Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik.&lt;br /&gt;Menurut R.P. Koesoemadinata, 1980 batuan sedimen dibedakan menjadi enam golongan yaitu :&lt;br /&gt;A. Golongan Detritus Kasar&lt;br /&gt;Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir. Lingkungan tempat pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan danau atau laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Golongan Detritus Halus&lt;br /&gt;Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini adalah batu lanau, serpih, batu lempung dan Nepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Golongan Karbonat&lt;br /&gt;Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya tergantung pada material penyusunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Golongan Silika&lt;br /&gt;Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang (chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya hanya sedikit dan terbatas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Golongan Evaporit&lt;br /&gt;Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat  memungkinkan terjadi pengayaan unsur – unsur tertentu. Dan faktor yang penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu endapan dari larutan tersebut. Batuan – batuan yang termasuk kedalam batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Golongan Batubara&lt;br /&gt;Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur – unsur organik yaitu dari tumbuh – tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.&lt;br /&gt;      ( Danang Endarto, 2005 )&lt;br /&gt;II.3 Tekstur Batuan Sedimen&lt;br /&gt;Berdasarkan kejadiannya, batuan sedimen dibedakan menjadi batuan sediment klastik dan non klastik. Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari material – material hasil rombakan batuan yang telah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;Tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya. Butiran tersusun atau terikat oleh semen dan masih adanya rongga di antara butirnya. Pembentukannya di kontrol oleh media dan cara transportasinya. Pembahasan tekstur meliputi :&lt;br /&gt;1. Ukuran Butir (Grain Size)&lt;br /&gt; 1.1 Pemilahan ukuran butir didasarkan pada skala Wenworth, 1922&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO Nama Butir  Besar Butir (mm)&lt;br /&gt;1 Bongkah                256&lt;br /&gt;2 Berangkal       256 - 64&lt;br /&gt;3 Kerakal                64 - 4&lt;br /&gt;4 Pasir Sangat Kasar 4 – 2&lt;br /&gt;5 Pasir Kasar         2 – 1&lt;br /&gt;6 Pasir Sedang         1 – ½&lt;br /&gt;7 Pasir Halus         ½ - ¼&lt;br /&gt;8 Pasir Sangat Halus ¼ - 1/8&lt;br /&gt;9 Lanau                 1/16 – 1/256&lt;br /&gt;10 Lempung &lt; 1/256&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemilahan (Sorting)&lt;br /&gt;Adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan sedimen, artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar butirnya maka pemilahan semakin baik. Ada 3 macam pemilahan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; A. Well sorted : terpilah baik&lt;br /&gt; B. Medium sorted : terpilah sedang&lt;br /&gt; C. Poor sorted : terpilah buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebundaran&lt;br /&gt;Adalah nilai membulat atau meruncingnya butiran dimana sifat ini hanya bisa di amati pada batuan sedimen klastik kasar. Kebundaran dapat dilihat dari bentuk batuan yang terdapat dari batuan tersebut. Tentunya terdapat banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk mudahnya dipakai perbandingan sebagai berikut :&lt;br /&gt; 1. Wellrounded (membundar baik)&lt;br /&gt;          Semua permukaan konveks, hamper equidimensional, sferoidal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        2. Rounded (membundar)&lt;br /&gt; Pada umumnya permukaan – permukaan bundar, ujung – ujung dan tepi – tepi    butiran bundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        3. Subrounded (membundar tanggung)&lt;br /&gt; Permukaan umumnya datar dengan ujung – ujung yang membundar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        4. Subangular (menyudut tanggung)&lt;br /&gt; Permukaan umumnya datar dengan ujung – ujung yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        5. Angular (menyudut)&lt;br /&gt; Permukaan konkaf dengan ujungnya yang tajam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        4.Shape&lt;br /&gt;        Adalah bentuk daripada butiran itu sendiri dan dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu :&lt;br /&gt; A. Oblate / labular&lt;br /&gt; B. Equent / equiaxial&lt;br /&gt; C. Bladed / traxial&lt;br /&gt; D. Prolate / rod shaped&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       5.Porositas&lt;br /&gt;Adalah perbandingan seluruh permukaan pori dengan volume dari batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      6.Permeabilitas&lt;br /&gt;Permeabilitas sukar ditentukan tetapi dapat dikira – kira melalui porositas. Salah satu metoda pendekatan untuk mengetahui permeabilitas adalah dengan menempatkan setetes air pada sekeping yang kering dan mengamati kecepatan air merembes. Istilah yang biasa dipergunakan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; - Fair  : 1 – 10 md&lt;br /&gt; - Good : 10 – 100 md&lt;br /&gt; - Very good : 100 – 1000 md&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      7. Matrix&lt;br /&gt;Adalah semacam butir (klastik), tetapi sangat halus sehingga aspek geometri tak begitu penting, terdapat di antara butiran sebagai massa dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      8. Semen&lt;br /&gt;Adalah bukan butir, tapi material pengisi rongga antar butir, biasanya dalam bentuk amorf atau kristalin. Bahan – bahan semen yang lazim adalah :&lt;br /&gt;- Klasit  - oksida&lt;br /&gt;- Solomit  - silika&lt;br /&gt;- Sulfat  - Siderit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      9. Kemas (fabric)&lt;br /&gt;Di dalam batuan sedimen klastik dikenal 2 macam kemas, yaitu :&lt;br /&gt; A. kemas terbuka : Butiran tidak saling bersentuhan.&lt;br /&gt; B. kemas tertutup : Butiran saling bersentuhan.&lt;br /&gt;      ( Danang Endarto, 2005 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Batuan Sedimen&lt;br /&gt;Struktur sedimen merupakan suatu kelainan darim perlapisan normal batuan sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya. Pembentuknya dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah proses pengendapan. Dengan kata lain, struktur sedimen adalah kenampakan batuan sedimen dalam dimensi yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Struktur sedimen berdasarkan asalnya &lt;br /&gt;Berdasarkan asalnya struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompokan menjadi 3 macam: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Struktur sedimen primer&lt;br /&gt;Terbentuk karena proses sedimentasi dengan demikian dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya.&lt;br /&gt;B. Struktur sedimen sekunder&lt;br /&gt;Terbentuk sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa. Juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapannya.&lt;br /&gt;C. Struktur organik&lt;br /&gt;Terbentuk oleh keadaan organisme seperti molusca, cacing atau bintang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur batuan sedimen tidak banyak yang dapat dilihat dari contoh – contoh batuan di laboratorium. Macam – macam struktur batuan sedimen yang penting antara lain adalah struktur perlapisan dimana struktur ini merupakan sifat utama dari batuan sedimen klastik yang mengahasilkan bidang – bidang sejajar sebagai hasil dari pross pengendapan.&lt;br /&gt;Faktor – faktor yang mempengaruhi kenampakan adanya struktur perlapisan adalah :&lt;br /&gt;1. Adanya perbedaan warna mineral.&lt;br /&gt;2. Adanya perbedaan ukuran besar butir.&lt;br /&gt;3. Adanya perbedaan warna komposisi mineral.&lt;br /&gt;4. Adanya perbedaan macam batuan.&lt;br /&gt;5. Adanya perbedaan struktur sedimen.&lt;br /&gt;6. Adanya perbedaan kekompakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Struktur sedimen berdasdarkan saat terjadinya.&lt;br /&gt;Secara garis besar struktur dapat dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;A. Struktur sygnetik &lt;br /&gt; 1) Karena proses fisik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a. External structure&lt;br /&gt;  Contoh : bentuk lembaran, lensa, lidah, delta dan shoestring.&lt;br /&gt;b. Internal structure&lt;br /&gt;  1) Perlapisan dan laminasi&lt;br /&gt;- Normal current bedding yaitu perlapisan karena arus normal, missal perlapisan sejajar. Berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi :&lt;br /&gt; a. laminasi : bila tebal lapisan kurang dari 1 cm.&lt;br /&gt; b. stratum : bila tebal lapisan lebih dari 1 cm.&lt;br /&gt; c. beds : kumpulan dari beberapa laminar dan strath.&lt;br /&gt;- Cross bedding yaitu perlapisan silang siur yang terjadi akibat adanya perubahan arus.&lt;br /&gt;- Graded bedding yaitu perlapisan tersusun yang terjadi karena adanya pemilihan ukuran butir dari halus ke kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Features of bedding planes yaitu bentuk dari permukaan lapisan selama proses sedimentasi.&lt;br /&gt;- Ripplemarke yaitu bentuk permukaan bergelombang karena adanya proses satu arah.&lt;br /&gt;- Mud crack yaitu bentuk – bentuk retak – retak pada lapisan lumpur, biasanya berbentuk segi lima.&lt;br /&gt;- Flute cast yaitu bentuk gerusan pada permukaan lapisan yang bentuknya seperti seruling.&lt;br /&gt;- Load cast yaitu lekukan pada batas perlapisan yang diakibatkan oleh gaya tekan dari muatan yang ada di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)  Deformation structure&lt;br /&gt; Yaitu terjadinya perubahan struktur batuan pada saat sedimen terendapkan karena adanya tekanan.&lt;br /&gt;- Post deposisional blump features yaitu struktur luncura yang terjadi akibat adanya desakan yang tinggi.&lt;br /&gt;- Intraformational konglomerat yaitu struktur hancuran yang menyerupai konglomerat karena adanya pergerakan pada sedimen sebelum mengalami litifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Karena proses biologi&lt;br /&gt; a. External structure&lt;br /&gt;- Biostromes yaitu struktur batu gamping yang berlapis&lt;br /&gt;- Biohern yaitu panggul buklit yang mempunyai penyebaran terbatas.&lt;br /&gt;b. Internal structure&lt;br /&gt;   - Misalnya fosil dalam batuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Struktur epigenetic&lt;br /&gt; 1) Karena proses fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a. External structure&lt;br /&gt;   - Batas antar tiap lapisan :&lt;br /&gt;o Batas tegas atau gradual&lt;br /&gt;o Batas selaras&lt;br /&gt;o Lipatan dan sesar&lt;br /&gt;b. Internal structure&lt;br /&gt; - Clastic dike yaitu trjadi karena adanya tekanan hidrostatika yang kuat sehingga material seperti di injeksikan.&lt;br /&gt;2) Karena proses kimia atau organisme&lt;br /&gt; - Corrosion zone&lt;br /&gt; - Concretions&lt;br /&gt; - Stilotites&lt;br /&gt; - Cone in cone&lt;br /&gt; - Cristal mold and cast&lt;br /&gt; - seins and dike&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Genesa Struktur – struktur Batuan Sedimen&lt;br /&gt; A. Massif&lt;br /&gt;Batuan massif bila tidak menunjukan struktur dalam atau ketebalan lebih dari 120 cm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Graded Bedding&lt;br /&gt;Lapisan yang dicirakan oleh perubahan yang granual dari ukuran butir penyusunnya bila bagian bawah kasar dan keatas semakin halus disebut normal grading.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Laminasi&lt;br /&gt;Perlapisan dan struktur sedimen yang mempunyai ketebalan kurang dari 1 cm terbentuk bila pola pengendapannya dengan energi yang konstan.biasanya terbentuk dari suspensi tanpa energi mekanis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Cross lamination &lt;br /&gt; 1) Cross lamination &lt;br /&gt; Secara umum dipakai untuk lapisan miring dengan ketebalan kuranmg dari 5 cm, dengan fareset ketebalannya lebih dari 5 cm, merupakan struktur sedimentasi yang tunggal yang terdiri dari urut – urutan sistematik.&lt;br /&gt;2) Cross bedding&lt;br /&gt; Secara umum bentuk fisik cross lamination, yang membedakan hanyalah ketebalannya, yaitu lebih dari 5 cm untuk cross bedding.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Clastic Imbrication&lt;br /&gt;Adalah suatu struktur sedimentasi yang dicirikan oleh fragmen – fragmen tabular yang overlapping dan menunjukan arus ke atas pada daerah yang berbatu – batu atau pada daerah yang miring. Biasanya pada daerah fluvial.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;F. Primary current kination&lt;br /&gt;Adalah struktur sdimentasi yang berbentuk garis pada di dalam batuan yang terbentuk oleh arus utama,sering diterapkan pada batuan sedimen yang biasanya menunjukan pelurusan suatu garis tunggal dari kumpulan cangkang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;G. Fosil orientation&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang menunjukan orientasi tertentu dari kumpulan fosil yang menunjukan arah arus sedimentasi yang di akibatkan oleh pengenangan yang energi transportasinya berkurang, sedangkan fosilnya sendiri mempunyai bentuk – bentuk yang dapat berorientasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Load cast&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yanq terbentuk akibat tubuh sedimen yang mengalami pembebanan oleh material sedimen lain di atasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I. Flute cast&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang berupa celah dan terputus – putus serta berbentuk kantong, dengan ukuran 2 – 10 cm, struktur ini terbentuk pada batuan dasar akibat pengaruh aliran turbulen dari air merupakan gerusan dari media transportasi yang membawa material kemudian material – material tersebut mengisinya yang biasanya berupa pasir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;J. Mud cracks&lt;br /&gt;adalah struktur sedimen yang berupa retakan – retakan pada tubuh sedimen bagian permukaan, biasanya pada tubuh campur yang berkembang sifat kohesinya. Hal ini akibat perubahan suhu dan pengerutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;K. Tool marks&lt;br /&gt;Adalah material – material pasir yang terbawa arus menggerus permukaan lumpur dan meninggalkan jejak yang menjadi tempat berkumpul material pasir tersebut dan gerakan merupakan tonjolan lapisan pasir ke bawah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;L. Rain print&lt;br /&gt;Adalah suatu lubang lingkaran atau elips kecil yang terbentuk di atas lumpur yang masih basah oleh air hujan yang kemudian setelah lumpur itu kering di atasnya terendapkan lapisan batupasir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;M. Flame structure&lt;br /&gt;Adalah structure sedimen yang berupa bentukan dari lumpir yang licin dan memisahkan ke bawah membesar membentuk load cast dari pasir pada kontak antara lempung dan pasir. Kenampakan structure ini menyala pada cross section dari shale yang memasuki batupasir akibat tekanan lateral.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;N. Ball, pillow or pseudonodule structure&lt;br /&gt;Adalah suatu bentuk akibat gaya beban dari atas pada shale oleh batupasir dimana shale tersebut belum dapat benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;O. Convolute bedding&lt;br /&gt;Adalah struktur deformasi dari suatu lapisan yang membentuk perlapisan meliuk – liuk dengan ketebalan lapisan 2 – 25 cm.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;P. Scours&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang terbentuk pada tubuh sedimen di mana terbentuknya lebih awal yang kemudian tergerus oleh arus berikutnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q. Channels&lt;br /&gt;Struktur sedimen yang mempunyai ciri erosional yang kelok – kelok dan merupakan bagian dari sistem transportasi yang mempunyai energi penggerusan cukup besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;R. Dish and pillow structure&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang terbentuk oleh bantal dan mangkok yang terbentuk oleh sedimen pasir yang belum terkonsilidasi telah tertimbun sedimen lain di atasnya sehingga mengalami penekanan ke bawah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;S. Low relief erosion surface&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang terbentuk relief rendah pada permukaan tubuh sedimenakibat proses erosi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;T. Syndepositional fold and slumps&lt;br /&gt;Adalah suatu bentukan lipatan kecil pada batupasir yang terjadi karena perlapisan batupasir tersebut belum terkonsilidasi benar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;U. Hard ground mass&lt;br /&gt;Adalah struktur sedimen yang terbentuk akibat dari akumulasi material sedimen yang khas di dalam tubuh sedimen lain yang relatif lunak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     ( Danang Endarto, 2005 )&lt;br /&gt;3. Batuan Sedimen Non Klastik Kimiawi&lt;br /&gt;a. Batuan – batuan Sedimen Evaporit&lt;br /&gt; Nama batuan adalah nama mineral penyusunnya yang bersifat monomineral, yaitu dikenal sebagai mineral garam. Sebetulnya telah dikenal 30 mineral garam di endapan evaporit di Strassfurt, Jerman, tetapi hanya 3 mineral (batuan) yang terdapat paling banyak dan yang lainnya sangat sedikit. Ketiga mineral tersebut adalah, gip (CaSO4 2H2O), anhidrit (CaSO4), dan halit (NaCl).&lt;br /&gt; Batuan evaporit biasanya terdapat dalam keadaan murni dan berlapis – lapis. Anhidrit sering memperlihatkan perlapisan yang rumit, karena batuan ini bersifat kristalin tetapi air dalam pori – porinya memperlihatkan struktur aliran.&lt;br /&gt; Evaporit terdapat berinterklasi dengan sedimen biasa, terutama serpih merah dan dolomit umumnya dengan sedimen merah. Banyak pula terdapat diatas atau interklasi dengan karbonat terutama dolomit, juga sering berasosiasi dengan bitumina.&lt;br /&gt; Evaporit belum pernah didapatkan secara meyakinkan di Indonesia. Paling banyak terdapat di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah (Iran).&lt;br /&gt; Pada umunya anhidrit dan gip ini mendominir endapan evaporit, malah kebanyakan evaporit tidak memperlihatkan adanya halit. Ketebalan keseluruhannya dapat berkisar 8 sampai 1.500 meter (di New Mexico, Perm), 300 – 500 meter terdiri anhidrit, berlaminasi yang diinterpretasikan sebgai varva.&lt;br /&gt; Walaupun diduga keras evaporit berasal dari penguapan air laut, namun ada beberapa persoalan seperti :  &lt;br /&gt;• Bagaimana terjadi pengendapan dari air laut itu yang memberikan lebih banyak anhidrit daripada halit.&lt;br /&gt;• Apakah yang diendapkan itu gip atau anhidrit.&lt;br /&gt;• Bagaimana mekanisme pengkonsentrasian serta penguapan air asin itu menjadi evaporit.&lt;br /&gt;Beberapa batuan sedimen non klastik kimiawi jenis evaporit yang utama :&lt;br /&gt;1) Batuan Gip&lt;br /&gt;Batuan ini terdapat secara kristalin kasar sampai halus granular. Batu gip dapat pula masif, dan sering terdapat sebagai kristal – kristal yang kasar tetapi yang demikian biasanya terdapat sebagai urat atau kristal nodul dalam lumpur atau pasir. Batuan ini memperlihatkan struktur pseudo porphyritic dengan kristal selenit sebagai fenokrisnya.  &lt;br /&gt;2) Batuan Anhidrit&lt;br /&gt;Batuan ini lebih banyak terdapat daripada gip, juga berlapis tetapi kadang – kadang masif, tebal dan meluas. Struktur sedimennya memperlihatkan laminasi yang keriput, pada umumnya granular halus, tetapi di bawah mikroskop kristal kasar, tetapi juga serabut dengan massa kristalin kasar. Kenampakan porfiritik disebabkan penyabaran kristal gip diantaranya. &lt;br /&gt;3) Halit (batugaram)&lt;br /&gt;Batuan ini terdapat secara masif dan secara kristalin kasar, kadang – kadang berlaminasi. Sering berinterlaminasi (beberapa cm) denga sisipam tipis (seperti kertas) oleh anhidrit atau dolomit. Juga garam hitam sering berinterklasi denga garam putih berbentuk kristal kubus. Halit sering menjadi terobosan – terobosan yang membentuk saltdome (kubah garam). Hal ini disebabkan berat jenis yang lebih rendah dibandingkan batuan sekeliling dan sifat mudah mengalir pada temperatur dan tekanan rendah.&lt;br /&gt;b. Batuan –batuan Sedimen Silika&lt;br /&gt;    Batuan yang termasuk kedalam golongan ini adalah batuan yang bersifat monomineral, dan banyak serta langka terdapat sebagai batuan, seperti :&lt;br /&gt;• Rijang (Chert)&lt;br /&gt;Komposisi dari rijang adalah opal, kalsedon, kuarsa, kristobalit, dan sedikit mengandung kalsit dan dolomit. Tekstur batuan ini seperti mikrokristalin kuarsa dan kalsedon euhedral sampai poli-hedral.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel. Komposisi Kimia dari Rijang&lt;br /&gt;Senyawa Rijang Batupaneker Nodul Rijang Serpih Diatomea Rijang Hijau&lt;br /&gt;SiO2 93.54 98.93 70.78 73.71 85.78&lt;br /&gt;TiO2   0.03 0.50 &lt;br /&gt;Al2O3 2.26 0.14 0.45 7.25 5.68&lt;br /&gt;Fe2O3 0.48 0.06 0.02 2.63 2.92&lt;br /&gt;FeO  0.08 0.30 0.44 2.09&lt;br /&gt;MnO 0.79 0.01 0.02  &lt;br /&gt;MgO 0.23 0.02 1.88 1.47 0.25&lt;br /&gt;CaO 0.66 0.04 12.90 1.72 0.48&lt;br /&gt;Na2O 0.37  0.05 1.19 0.68&lt;br /&gt;K2O 0.51  0.06 1.00 0.36&lt;br /&gt;H2O+ 0.72 0.17 0.32 6.94 &lt;br /&gt;H2O- 0.21 0.27 0.48 2.88 1.88&lt;br /&gt;P2O5-   0.16 0.24 &lt;br /&gt;CO2  0.02 12.04  &lt;br /&gt;SO3    0.16 &lt;br /&gt;C  0.18 0.33  &lt;br /&gt;Total 99.86 99.92 100.14 100.13 100.13&lt;br /&gt;  (Koesoemadinata, 1981)&lt;br /&gt;  Tabel diatas menunjukan kandungan dan jumlah setiap senyawa kimia, tetapi jumlah SiO2 biasanya antara 82,69 – 99,49 %.&lt;br /&gt;Batuan rijang terdapat secara berlapis – lapis, berasosiasi dengan serpih dan bijih besi atau sebgai nodul - nodul dalam gamping.&lt;br /&gt;Rijang yang berlapis biasanya berasosiasi dengan endapan geosinklin (subdunction zone), denga ketebalan ratusan meter dengan sisipan serpih hitam juga berasosiasi denga arus turbidit dan lumpur silika, mengandung diatomea atau radiolaria, kedalaman laut adalah 120 - 200 meter.&lt;br /&gt;Rijang yang berlapis dapat berasal dari organik dengan pertolongan radiolaria dan diatomea, atau berasal dari kimia.&lt;br /&gt;Rijang yang berupa nodul, pada umumnya sebagai replacement dari gamping, ada yang menyatakan silika diendapkan bersama dengan gamping.mungkin secara biokimiawi silika diambil dari air laut. Kadang – kadang membentuk jaringan dan dapat menyerupai rijang berlapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Batuan Sedimen Non Klastik Biologis (Organik)&lt;br /&gt;Batuan Karbonat&lt;br /&gt;  Semua batuan terdiri dari garam karbonat, dalam praktiknya gamping (limestone) dan dolomit lebih utama. Kata karbonat dewasa ini lebih sering dipakai dalam industri minyak  bumi.&lt;br /&gt;Karbonat mempunyai keistimewaan dalam cara pembentukannya, yaitu hanya dari larutan, praktis tidak ada sebagai detritus daratan. Pembentukan secara kimiawi, tetapi yang penting adalah turut sertanya organisme.&lt;br /&gt;Hal yang lain adalah terbentuknya klastik sebagai fragmentasi atau pembentukan sekunder sebagai contoh colitik, dan pengendapan menyarupai detritus.&lt;br /&gt;Komposisi kimia dan mineral&lt;br /&gt;Tidak memperlihatkan lingkunganpengendapan, tetapi penting sebagai derajat diagenesa rekristalisasi dan penggantian kalsium karbonat.&lt;br /&gt;a. Aragonit : CaCO3 (Ortorombik)&lt;br /&gt;Bentuk yang paling tidak stabil, sering dalam bentuk serabut. Jarum – jarum aragonit biasanya diendapkan secara kimiawi, dari prespitasi langsung dari air laut. Diagenesanya berubah menjadi kalsit, juga organisme membuat rumah (test) dari aragonit seperti moluska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kalsit : CaCO3 (Heksagonal)&lt;br /&gt;Mineral ini lebih stabil, dan biasanya merupakan hablur yang baik. Terdapat sebagai rekristalisasi dari aragonit, sering merupakan cavity filling atau semen, dalam bentuk kristal – kristal yang jelas. Kebanyakan gamping terdiri dari kalsit.&lt;br /&gt;c. Dolomit : CaMg (CO3)2&lt;br /&gt;Juga merupakan mineral penting, terutama sebagai batuan reservoir, kristal sama dengan kalsit berbedanya pada bidang refraksi dari kalsit. Terjadi secara primer (precipitasi langsung dari air laut), tetapi kebanyakan hasil dolomotisasi dari kalsit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. High Magnesium Kalsit&lt;br /&gt;Larutan padat dari MgCO3  dalam kalsit. Tidak begitu banyak terdapat, sering merupakan batuan dolomit Ls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Magnesit : MgCO3 &lt;br /&gt;Biasanya berasosiasi denga evapori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tekstur Batuan Sedimen Non Klastik&lt;br /&gt;Tekstur dapat dibedakan menjadi dua macam :&lt;br /&gt;f. Kristalin &lt;br /&gt;Tekstur ini terdiri dari kristal – kristal yang interlocking yaitu kristal – kristal yang saling mengunci satu denga yang lain. Pemerian dapat memakai skala Wenworth denga modifikasi sebagai berikut : &lt;br /&gt;Nama Butir Besar Butir (mm)&lt;br /&gt;Berbutir Kasar 2&lt;br /&gt;Berbutir Sedang 1/16&lt;br /&gt;Berbutir Halus 1/256&lt;br /&gt;Berbutir Sangat Halus &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;g. Amorf&lt;br /&gt;Tekstur ini terdiri dari mineral yang tidak membentuk kristal – kristal atau amorf (non klastik), umumnya berukuran lempung atau koloid, contoh : rijang masif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Struktur Batuan Sedimen Non Klastik&lt;br /&gt;Struktur batuan sedimen non klastik terbentuk dari proses reaksi kimia ataupun kegiatan organik.&lt;br /&gt;Macamnya antara lain yang penting :&lt;br /&gt;Fosilliforous&lt;br /&gt;Struktur yang ditunjukan oleh adanya fosil atau komposisi terdiri dari fosil (sedimen organik).&lt;br /&gt;Oolitik&lt;br /&gt;Struktur dimana suatu fragmen klastik diselubungi oleh mineral non klastik, bersifat konsentris dengan diameter berukuran lebih kecil 2 mm (0,25 – 2 mm) kristal – kristal berbentuk bulat atau elipsoid, seperti telur ikan. Contoh : batugamping oolit.&lt;br /&gt;Pisolitik&lt;br /&gt;Sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya lebih besar dari 2 mm. contoh : batugamping pisolitik.&lt;br /&gt;Konkresi&lt;br /&gt;Kenampakan struktur ini sama dengan struktur oolitik tetapi tidak menunjukan adanya sifat konsentris.&lt;br /&gt;Cone in cone&lt;br /&gt;Struktur pada batugamping kristalin yang menunjukan pertumbuhan kerucut perkerucut.&lt;br /&gt;Bioherm&lt;br /&gt;Tersusun oleh organisme murni dan bersifat insitu&lt;br /&gt;Blostrome&lt;br /&gt;Seperti bioherm tetapi bersifat klastik. Bioherm dan biostrome merupakan struktur luar yang hanya tampak dilapangan.&lt;br /&gt;Septaria&lt;br /&gt;Sejenis konkresi tetapi mempunyai komposisi lempung . ciri khasnya adanya rekahan – rekahan yang tidak teratur akibat penyusutan bahan – bahan lempungan tersebut karena proses dehidrasi yang kemudian celah – celah yang terbentuk terisi oleh kristal – kristal karbonat yang kasar.&lt;br /&gt;Geode&lt;br /&gt;Banyak dijumpai pada batuan gamping, berupa rongga-rongga yang terisi oleh kristal-kristal yang tumbuh ke arah pusat rongga tersebut. Kristal bisa kalsit ataupun kuarsa.&lt;br /&gt;Styolit&lt;br /&gt;Styolit ini merupakan hubungan antar butir yang bergengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Komposisi mineral batuan sedimen non klastik cukup penting dalam menentukan penamaan batuan. Pada batuan sedimen jenis non klastik biasanya komposisi mineralnya sederhana yaitu bila terdiri dari satu atau dua macam mineral. Sebagai berikut :&lt;br /&gt; Batugamping  : Kalsit dolomit&lt;br /&gt; Chert   : Kalsedon&lt;br /&gt; Gypsum  : Mineral gypsum&lt;br /&gt; Anhidrit  : Mineral anhidrit      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Batuan Karbonat&lt;br /&gt;Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan komposisi yang dominan (&gt; 50 %) terdiri dari mineral – mineral atau garam – garam karbonat, yang dalam prakteknya secara umum meliputi batugamping dan dolomit.&lt;br /&gt;Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan tekstur yang beraneka ragam, struktur serta fosil. Hal tersebut dapat memberikan informasi yang penting mengenai lingkungan laut purba, kondisi paleoekologi serta evolusi bentuk dari organisme laut.&lt;br /&gt;Proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu berasal dari larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia dimana organisme turut berperan, dapat terjadi dari butiran rombakan yang mengalami transportasi secara mekanik dan diendapkan di tempat lain.&lt;br /&gt;Seluruh proses tersebut berlangsung pada lingkungan air laut, jadi praktis bebas dan detritus asal darat.&lt;br /&gt;Batugamping klastik adalah batugamping yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus batugamping asal.&lt;br /&gt; Contoh : Kalsirudit : butiran berukuran rudit (granule)&lt;br /&gt;   Kalkarenit : butiran berukuran arenit (sand)&lt;br /&gt;   Kalsilutit : butiran berukuran lutit (clay)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batugamping non klastik adalah batugamping yang terbentuk dari proses-proses kimiawi maupun organis. Umumnya bersifat monomineral.&lt;br /&gt; Dapat dibedakan :&lt;br /&gt;• Hasil biokimia  : bioherm, biostrom&lt;br /&gt;• Hasil larutan kimia : travertin, tufa&lt;br /&gt;• Hasil replacement : batugamping fosfat, batugamping dolomit, batugamping silikat dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tekstur Batuan Karbonat&lt;br /&gt;Dewasa ini tekstur batuan karbonat lebih dipentingkan pada susunan mineralogi. Tekstur ini berhubungan dengan sifat reservoir dalam bentuk minyak dan juga dari segi sedimentasi.&lt;br /&gt;1) Besar Butir&lt;br /&gt;Sering ukuran tersendiri, tetapi hal ini tidak dianjurkan. Lebih baik dipergunakan skala Wentworth seperti dianjurkan oleh Leighton dan Pendexter (1962).&lt;br /&gt;Mulai 0,0625 mm ke bawah maka tipe butir dan juga penelitian di bawah mikroskop menjadi mikrit (micrite) atau berupa lumpur (mud) atau berbutir halus (aphanitik). Secara makroskopis kurang dari 1 mm, tipe butir sudah sukar ditentukan sehingga istilh grain atau klas dapat dipakai. &lt;br /&gt;2) Bentuk Butir&lt;br /&gt;Bentuk butir juga penting dalam mempelajari gamping terutama dalam memperlihatkan energi di lingkungan pengendapan.&lt;br /&gt;Dalam bioklast, derajat dari abrasi dan peristilahan seperti pada detritus dipergunakan untuk fragmen-fragmen pada umumnya. Bioklast dapat dibedakan menjadi cangkang – cangkang yang utuh atau fragmen kerangkan yang utuh atau bekas pecahan jelas dan yang kedua yang telah terabrasi atau bundar. Non fragmen, istilah kebundaran seperti diartikan oleh abrasi atau transport yang jauh. Dan bentuk-bentuk yang lebih cocok ialah spherudal dan ovoid. Di antara kerangka atau butir sering diisi oleh matriks atau semen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Semen&lt;br /&gt;Biasanya terdiri dari hablur-hablur kalsit yang jelas atau disebut juga spari kalsit (spray calcite) atau spar. Semen dapat di amati di bawah mikroskop dan semen ini terjadi pada waktu diagenesa pengisian rongga-rongga oleh larutan yang mengendapkan kalsit sebagai hablur yang jelas. Kadang-kadang sukar untuk membedakannya denga kalsit sebagai hasil rekristalisasi yang biasanya lebih halus da disebut mikrospar. &lt;br /&gt;4) Matrik&lt;br /&gt;Matrik adalah butir-butir karbonat yang mengisi rongga-rongga dan terbentuk pada waktu sedimentasi. Biasanya halus sekali dari bentuk-bentuk kristal tidak dapat di identifikasi, hampir opak di bawah mikroskop.&lt;br /&gt;Hasil dari matrik ini dapat berupa :&lt;br /&gt;a) Pengendapan langsung sebagai jarum (aragonit) secara kimiawi / biokimiawi, yang kemudian berubah menjadi kalsit.&lt;br /&gt;b) Merupakan hasil abrasi, gampimg yang telah dibentuk misalnya koral, alga dan sebagainya dierosi dan abrasi kembali oleh pukulan-pukulan gelombang dan merupakan tepung kalsit. Tepung kalsit ini membentuk lumpur apu, dan diendapkan terutama di daerah-daerah yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Struktur Batuan Karbonat&lt;br /&gt;Pemeriannya hampir sama denga pemerian batuan sedimen klastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Komposisi Batuan Karbonat&lt;br /&gt;Pada komponen batuan karbonat juga terdapat pemerian fragmen, matrik, semen, hanya berbeda istilahnya saja, komposisi meliputi allochem.&lt;br /&gt;Allochem merupakan fragmen yang tersusun oleh kerangka atau butir-butir klastik dari hasil abrasi batugamping yang sebelumnya ada.&lt;br /&gt;Macam-macam Allochem :&lt;br /&gt;1) Kerangka Organisme (skeletal) : merupakan fragmen yang terdiri atas cangkang – cangkang binatang atau kerangka hasil pertumbuhan.&lt;br /&gt;2) Interclast : merupakan fragmen yang terdiri atas butiran-butiran dari hasil abrasi batugamping yang sebelumnya telah ada.&lt;br /&gt;3) Pisolit : merupakan butiran – butiran colit denga ukuran lebih besar dari 2 mm.&lt;br /&gt;4) Pellet : merupakan fragmen yang mempunyai colit tetapi tidak menunjukkan adanya struktur konsentris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikrit&lt;br /&gt;Mikrit merupakan agregat halus berukuran 1 – 4 mikron, merupakan kristal-kristal karbonat yang terbentuk secara biokimia atau kimiawi dari prespitasi air laut dengan mengisi rongga antar butir.   &lt;br /&gt;Sparit&lt;br /&gt;Sparit merupakan semen yang mengisi ruang antar butir dan rekahan, berukuran butir halus (0,02 – 0,1 mm) dapat terbentuk langsung dari semen secara insitu atau rekristalisasi mikrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tipe – tipe gamping utama&lt;br /&gt;Tipe gamping ini berdasarkan kenampakan di lapangan, dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt;1) Tipe gamping kristalin&lt;br /&gt;Gamping kristalin kasar tidak dibentuk secara langsung dari pengendapan, tetapi biasanya dari hasil rekristalisasi dari gamping yang lain, dari gamping klastik ataupun gamping terumbu ataupun afanitik. Proses ini terjadi pada diagenesa dapat disebut neomorphisme. Gamping kristalin kasar mungkin juga diendapkan secara langsung dalam asosiasi dengan pengendapan evaporit.&lt;br /&gt;Dolomit terbentuknya batuan ini terbagi menjadi tiga, yaitu pertama pengendapan langsung dalam supratidal atau evaporit. Kedua dalam pengendapan pori-pori gamping klastik di daerah supratidal sabkha, sebagai hablur kemudian partikel kalsit terlarut. Ketiga proses ubahan (replacement) suatu terumbu yang terangkat ke daerah supratidal denga proses seepage reflux.&lt;br /&gt;Pada pembentukan dolomit harus memenuhi syarat dimana konsentrasi Mg / Ca ratio = 5 : 1, sehingga diperlukan penguapan yang luar biasa. Hal ini dapat terjadi di daerah gurun atau daerah tropis yang kering. &lt;br /&gt;2) Tipe gamping afanitik&lt;br /&gt;Terdiri dari butir-butir lebih kecil dari 0,005 mm. Tipe ini tidak dapat diketahui apakah terdiri dari fragmen-fragmen halus (pecahan gamping) atau kristal-kristal halus. Beberapa nama untuk istilah batuan ini adalah micrite, mudstone, calcilutite, lithographic, dan  sublithographic.&lt;br /&gt;Batuan ini memiliki beberapa cara terbentuknya, seperti yang pertama penggerusan gamping yang telah ada, misalnya penghancuran terumbu oleh gelombang. Kedua dari pengendapan langsung secara kimiawi dari air laut yang telah kelewat jenuh akan CaCO3, sebagai jarum-jarum aragonit. Dan ketiga dari pengendapan dengan bantuan ganggang hijau (chlorophycae) sebagai jarum-jarum aragonit.&lt;br /&gt;Lingkungan pembentukan batugamping ini yaitu diendapkan di daerah dangkal yang terlindung lagoon di belakang terumbu, penguapan yang kuat dan dengan bantuan ganggang. Biasanya kaya akan zat organis dan diacak – acak oleh binatang, sehingga tidak memperlihatkan perlapisan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;3) Tipe gamping klastik&lt;br /&gt;Batuan ini masih dapat dibagi lagi menjadi, bioklastik, interclast ? fragmenter dan klastik non fragmenter. Berdasarkan besar butirnya batuan ini terbagi menjadi :&lt;br /&gt;• Lebih besar dari 2 mm&lt;br /&gt;Jika terdiri dari cangkang – cangkang / kerangka, disebut Cocquina, jika terdiri dari moluska dan fragmen koral.&lt;br /&gt;• Jika lebih kecil dari 0,25 mm&lt;br /&gt;Sukar untuk membedakan partikel – pertikel pembentuk, maka sering dipergunakan istilah seperti, micrograned atau  microgranular.&lt;br /&gt;• Jika sudah tidak dapat di identifikasi, maka istilah – istilah yang biasa dipergunakan adalah kalkarenit terutama jika tekstur jelas menyerupai pasir, granular limestone, clastic limestone, dan fragmental limestone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Tipe gamping kerangka&lt;br /&gt;Tipe gamping ini terdapat paling banyak dalam Tersier di Indonesia. Tipe ini sering membentuk terjal pada singkapan, masif tidak berlapis atau perlapisan buruk yang hanya kelihatan dari jauh.&lt;br /&gt;Komponen utama dari batuan ini adalah suatu kerangka yang utuh seperti dalam keadaan aslinya. Bentuk serta jaringan kerangka bergantung pada jenis organisme yang membentuknya. Endapan gamping kerangka diklasifikasi menurut unsur-unsur fauna atau flora yang bertanggung jawab atas pembentukannya. Terumbu (reef) misalnya didasarkan atas tipe organisme yang membentuk kerangka. Jika unsur-unsur flora atau fauna tak dapat diidentifikasikan secara positif pada tingkatan spesies, maka istilah-istilah umum seperti gamping alga koral (koral-ganggang) atau gamping kerangka moluska dapat digunakan. Pada umumnya ganggang merupakan penyekat pengikat atau mengisi dari kerangka organisme, sehingga merupakan suatu bangunan yang kukuh, yang tahan gelombang. Sering berupa kerak dan mempunyai struktur berlaminasi halus yang bergelombang.&lt;br /&gt;Komponen lainnya yang biasa terdapat ialah bioclast, ataupun fragmen-fragmen lainnya dapat ikut terikorporasi di dalamnya. Komponen yang penting seperti foraminifera terutama foram besar, moluska sering terdapat kadang-kadang merupakan kerangka tersendiri.    &lt;br /&gt;e. Proses Pembentukan Batuan Karbonat&lt;br /&gt;Terdapat tiga jenis proses pengubahan yang menyebabkan sedimen karbonat berubah menjadi batuan karbonat.&lt;br /&gt;Ketiga proses itu adalah :&lt;br /&gt;1) Litifikasi sedimen karbonat&lt;br /&gt;Kebanyakan batuan karbonat terbentuk karena proses litifikasi sedimen karbonat. Litifikasi tersebut akan melibatkan pelarutan mineral-mineral karbonat yang tidak stabil, pengendapan mineral-mineral karbonat yang stabil dan rekristalisasi. Semua proses tersebut termasuk di dalam suatu proses yang luas yaitu diagenesa. Dalam pengertian yang luas, diagenesa meliputi perubahan mineralogi, tekstur, kemas dan geokimia sedimen dan temperatur dan tekanan yang rendah.&lt;br /&gt;Litifikasi sedimen karbonat dapat terjadi pada sedimen yang tersingkap, maupun yang masih berada di dalam laut. Pada sedimen karbonat yang tersingkap terjadi perubahan mineralogi dan tekstur endapan asli, yang disebabkan kerja air tawar, atau air meteorit. Perubahan mineralogi yang terjadi adalah terbentuknya mineral-mineral stabil dari mineral-mineral yang tidak stabil, dan tekstur endapan asli berubah menjadi tidak jelas atau kabur, tetapi dapat pula tidak mengalami apa-apa.&lt;br /&gt;Proses perubahan sedimen karbonat menjadi batuan karbonat berlangsung perlahan-lahan dan bertingkat-tingkat, dimana batas antara masing-masing tingkat tidak jelas, bahkan dapat saling melingkup. Tingkat tersebut ialah :&lt;br /&gt;• Penyemenan,&lt;br /&gt;• Pelarutan – pengendapan, dan&lt;br /&gt;• Perubahan mineralogi butir-butir dan rekristalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengkristalan Kalsium Karbonat yang semua dalam Keadaan Membatu&lt;br /&gt;Batuan karbonat ini berasal dari rekristalisasi kalsium karbonat yang menyerupai bahan batu / keras (stony material) di mana kalsium karbonatnya dapat berasal dari kimiafisik (anorganik) maupun biokimia (organik), atau kombinasi keduanya.&lt;br /&gt;Contoh batuan karbonat yang terbentuk dari rekristalisasi endapan karbonat berasal dari kimiafisik ialah calcrete, caliche, dan nari. Ketiganya adalah endapan yang dihasilkan dari rekristalisasi karena penguapan.&lt;br /&gt;Adapun batua karbonat yang terbentuk dari rekristalisasi endapan karbonat berasal dari biokimia adalah terumbu karang, dan biogenik pembentuk kerak keras. Endapan jenis ini memang sudah dalam keadaan padat dan melekat, hal ini disebabkan oleh penyemenan kalsium karbonat biokimia atau kimiafisik.&lt;br /&gt;Dalam terumbu-terumbum, koral, ganggang dan foraminifera adalah organisme utama yang mengendapkan batugamping padat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Penggantian Materi-materi lain oleh Kalsium Karbonat&lt;br /&gt;Beberapa batuan karbonat dapat terbentuk dari penggantian materi-materi lain, terutama kalsium sulfat dan butir-butir kuarsa oleh kalsium karbonat. Batuan karbonat jenis ini tidak umum, tetapi cukup penting karena genesisnya yang sangat berbeda dengan batuan karbonat jenis lain. Terdapat dua proses penggantian yang umum, yaitu pertama perubahan kalsium sulfat menjadi kalsit oleh kegiatan bakteri, kedua penggantian butir-butir kuarsa oleh karbonat karena proses korosi.&lt;br /&gt;5. Penamaan Klasifikasi&lt;br /&gt;Penamaan batuan sedimen klastik ditentukan terutama oleh ukuran butir dan bentuk butir serta tekstur. Selain itu juga dibantu dengan komposisi kimia dan struktur. Ukuran butir dalam batuan sedimen klastik bisa seragam bisa tidak seragam.&lt;br /&gt;Penamaa batuan sedimen non klastik lebih ditentukan oleh komposisi mineralnya atau kimianya.&lt;br /&gt;a. Batuan Sedimen Klastik&lt;br /&gt;Penamaan batuan sedimen klastik lebih ditekankan pada ukuran dan bentuk butir, denga perincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Untuk butiran yang sama atau lebih kecil dari pasir&lt;br /&gt;Batupasir : butiran yang berukuran pasir&lt;br /&gt;Batulempung : butiran yang berukuran lebih halus dari pasir&lt;br /&gt;Serpih : batulempung yang menunjukkan struktur fasility (sifat belah)&lt;br /&gt;2) Untuk butiran yang lebih besar dari pasir dan melibatkan bentuk butir&lt;br /&gt;Konglomerat : jika butirannya berbentuk membulat&lt;br /&gt;Breksi  : jika butirannya berbentuk runcing&lt;br /&gt;3) Untuk butiran dan komposisi&lt;br /&gt;Batupasir Kuarsa : batupasir yang banyak mengandung kuarsa.&lt;br /&gt;Batulempung Gampingan : batulempung yang mengandung mineral-mineral karbonat.&lt;br /&gt;4) Ukuran butir dan struktur&lt;br /&gt;“Shale” (serpih) : batulempung, berlaminasi&lt;br /&gt;5) Batugamping klastik&lt;br /&gt;Kalsirudit : bila berukuran butir &gt; pasir&lt;br /&gt;Kalkaresit : bila butiran berukuran pasir&lt;br /&gt;Kalsilutit  : bila butiran berukuran lempung&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;b. Batuan Sedimen Non Klastik&lt;br /&gt;Penamaan batuan sedimen non klastik sangat tergantung oleh jenis mineral penyusunnya, dan karena pembentukannya disebabkan oleh larutan kimia maupun organis maka sedimen non klastik ini bersifat monomineral.&lt;br /&gt;1) Batuan Sedimen Non Klastik Kimiawi&lt;br /&gt;Batugips : jika tersusun oleh mineral gypsum&lt;br /&gt;Rijang  : jika tersusun oleh mineral kalsedon&lt;br /&gt;Batubara : jika tersusun oleh mineral karbon&lt;br /&gt;2) Batuan Sedimen Non Klastik Biologis / Organis&lt;br /&gt;Contoh penamaan berdasarkan komposisi :&lt;br /&gt;Batugamping Kristalin : bila tersusun oleh kristal-kristal kalsit&lt;br /&gt;Batugamping koral : bila tersusun oleh koral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Langkah-langkah penentuan nama batuan sedimen&lt;br /&gt;1) Amati contoh batuan baik-baik&lt;br /&gt;2) Tentukan teksturnya : klastik atau non klastik. Bila klastik tentukan ukuran butirnya (bila tidak seragam tentukan ukuran fragmen dan matrik), bila non klastik tentukan macam teksturnya.&lt;br /&gt;3) Tentukan strukturnya&lt;br /&gt;4) Tentukan komposisinya, untuk mengetahui kandungan karbonat, batuan ditetesi HCl, bila bereaksi berarti mengandung karbonat.&lt;br /&gt;5) Tentukan nama batuan berdasarkan kenampakan yang dominan. Misal, bila yang tampak dominan adalah ukuran butirnya maka penamaan berdasarkan ukuran butirnya.&lt;br /&gt;( Danang Endarto, 2005 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Klasifikasi &lt;br /&gt;6.1 Klasifikasi Grabau (1904)&lt;br /&gt;Menurut Grabau, batugamping dapat dibagi menjadi lima berdasarkan ukuran dan teksturnya, yaitu :&lt;br /&gt;-Kalsidurit, yaitu batugamping yang berukuran butirnya &gt; 2 mm atau lebih besar dari ukuran pasir.&lt;br /&gt;-Kalkarenit, yaitu batugamping dengan ukuran butir sama dengan ukuran pasir (1/16 – 2 mm).&lt;br /&gt;-Kalsilutit, yaitu batugamping yang ukurannya (ukuran butir) lebih kecil dari ukuran pasir.&lt;br /&gt;-Kalsipuluerit, yaitu batugamping hasilpresipitasi kimiawi, sifatnya kristalin.&lt;br /&gt;-Batugamping organic, yaitu hasil pertumbuhan organisme secara insitu, misalnya terumbu dan stromabolity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.1. Klasifikasi Folk (1959)&lt;br /&gt;Folk mengklasifikasikan batuan karbonat berdasarkan tekstur, pengendapan dan perbandingan fraksi komponen penyusunnya, yaitu butiran/allochem, mikrit, dan sparit (ortochem). &lt;br /&gt;Berdasarkan perbandingan relief antara allochem, mikrit, dan sparit serta jenis allochem yang dominant, maka Folk membagi batugamping menjadi 4 Famili&lt;br /&gt;Batugamping tipe I analog dengan batupasir/konglomerat yang tersortasi baik dan terbentuk pada high energy zone, batugamping tipe II analog dengan batupasir lempungan atau konglomerat lempungan dan terbentuk pada low energy zone dan batu gamping tipe III analog dengan batulempung dan terbentuk pada kondisi yang tenag (lagoon)&lt;br /&gt;-Intaclast; suatu endapan yang berupa gel Lumpur karbonat , belum memadat, semi plastis, lalu ada erosi yang membentuk tubuh (discret body)&lt;br /&gt;-Pellet; suatu butiran yang strukturnya microcritalinne (warnanya gelap),kalau mengandung kotoran binatang maka disebut (facialpellet). Sedangkan jikamempunyaiukuran yang agak besar disebut lump.&lt;br /&gt;-Oolit; suatu butiran yang intinya dilapisi oleh unsur karbonat, intinya berfosil dan apabila disayat maka mempunyai bentukkonsentris.&lt;br /&gt;-Fossil; termasuk kedalamallochemical, karena mengalami transportasi ditempat tersebut, misalnya Globigerina yang hidup secara plankton.&lt;br /&gt;Penggambaran skematik komponen penyusun batuan karbonat yang menjadi dasar klasifikasi batuan karbonat menurut Folk (1959).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.2. Klasifikasi Dunham (1962)&lt;br /&gt;Dunham membuat klasifikasi batuan karbonat berdasarkan tekstur pengendapan, meliputi ukuran butir dan pemilahan/sortasi. Hal ini yang perlu diperhatikan dalam klasifikasiin antara lain:&lt;br /&gt;-Derajat perubahan tekstur pengendapan&lt;br /&gt;-Komponen asli terikat dan tidak terikat selama proses deposisi&lt;br /&gt;-Tingkat kelimpahan antara butiran (grain) dengan Lumpur karbonat.&lt;br /&gt;Berdasarkan ketiga hal tersebut di atas, maka Dunham membuat klasifisikasi :&lt;br /&gt;-Boundstone : hubungan antar komponen tertutup yang berhubungan dengan rapat (oolite).&lt;br /&gt;-Grainstone : hubungan antara komponen-komponen tanpa Lumpur.&lt;br /&gt;-Packstone : ada lumpur, tetapi yang banyak adalah komponen betolit.&lt;br /&gt;-Mudstone : Lumpur wackestone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1.3 Lingkungan Pembentukan Batuan Karbonat dan Fasies&lt;br /&gt; Terumbu lingkungan pembentukan karbonat dapat terjadi mulai zona supratidal sampai dengan cekungan yang lebih dalam, paparan cekungan dangkal, yang meliputi middle shelt outer shelf. Cekungan pembentukan karbonat ini disebut sebagai subtidal carbonate factory.&lt;br /&gt;Endapan-endapan ini akan terakumulasikan pada shelf, sebagian mengalami transportasi ke daratn (tidal flat) oleh gelembung dan pasang surut. Sebagian lagi mengalami transportasi kea rah laut (cekungan yang lebih dalam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasies Terumbu&lt;br /&gt;Meskipun lingkungan pengendapan karbinat dapat terjadi mulai dari zona supratidal sampai cekungan yang lebih dalam di luar shelf, paparan cekungan dangkal (shallow basin plattorm) yang meliputi middle shelf dan outer shelf adalah tempat produksi endapan karbonat yang utama dan kemudian tempat ini disebut sebagai subtidal carbonate factory.&lt;br /&gt;(N.P.James,1983 dalam Boggs : 1987)&lt;br /&gt;Endapan-endapan karbonat yang dihasilkan akan terakumulasi  pada shelf, sebagian mengalami transportasi kea rah daratan, yaitu ke tidalflat, pantai, atau logoon, sedangkan sebagian lagi mengalami transportasi kearah laut yaitu ke cekungan yang lebih dalam. Pada lingkungan laut  yang dalam jarang terbentuk endapan karbonat, kecuali merupakan hasil dari jatuhan plankton yang mengsekresikan kalsium karbonat dan hidup di air permukaan.&lt;br /&gt;Terumbu adalah suatu timbulan karbonat yang dibentuk oleh pertumbuhan organisme koloni yang insitu, mempunyai potensi untuk berdiri tegar membentuk struktur topografi yang tahan gelombang James (1979) membagi fasies terumbu masa kini secara fisiografi menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;-Fasies inti terumbu (reef core facies)&lt;br /&gt;Fasies ini tersusun oleh batugamping yang massif dan tidak berlapis. Berdasrkan litologi dan biota penyusunnya, fasies ini dapat dibagi menjadi 4 susfasies, yaitu :&lt;br /&gt;-Subfasies puncak terumbu (reff-crest)&lt;br /&gt;Litologi berupa framestone dan bindstone, sebagi hasil hasil pertumbuhan biota jenis kubah dan mengerak serta merupakan key high energy zone.&lt;br /&gt;-Subfasies datarn terumbu (reef-flat)&lt;br /&gt;Litologi berupa lidstone, grainstone, dan rosule dari ganggang karbonatan dan merupakan daerah berenergi sedang dan tempat akumulasi rombakan terumbu.&lt;br /&gt;-Subfasies terumbu depan (reef-front)&lt;br /&gt;Litologi berupa bafflestone, bidstone dan framestone dan merupakan daerah berenergi lemah-sedang.&lt;br /&gt;-Subfasies terumbu belakang (back-reef)&lt;br /&gt;Litologi berupa bafflestone dan flocetstone dan merupakan daerah berenergi lemah dan relative tenag.&lt;br /&gt;-Fasies deoan terumbu (fore reef facies)&lt;br /&gt;litologi berupa grainstone dan sudstone serta merupakan lingkungan yang mempunyai kedalaman &gt;30 m dengan lereng 45-60 m, semakin jauh dari inti terumbu (kearah laut), litologi berubah menjadi packstone, wackstone,dan mudstone.&lt;br /&gt;-Fasies belakang terumbu (back reef facies)&lt;br /&gt;Fasies ini sering disebut juga fasies logoon dan meliputi zona laut dangkal (&lt;30 m) dan tidak berhubungan dengan laut terbuka. Kondisi airnya tenang, sirkulasi air terbatas, dan banyak biota penggali yang hidup di dasar. Litologi berupa wackstone dan mudstone serta banyak dijumpai struktur jejak dan bioturbasi, baik horizontal maupun vertikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Graha, 1987)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-5330963519165042666?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/5330963519165042666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-sedimen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/5330963519165042666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/5330963519165042666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-sedimen.html' title='BATUAN SEDIMEN'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-4523894458003013333</id><published>2009-11-16T06:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T06:44:54.461-08:00</updated><title type='text'>BATUAN PIROKLASTIK</title><content type='html'>BATUAN PIROKLASTIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Batuan yang tersusun atas fragmen-fragmen hasil erupsi volkanik secara eksplosif. (Williams, Turner &amp; Gilber, 1954)&lt;br /&gt;Bahan rombakan yang diletuskan dari lubang volkanik, diangkut melalui udara sebagai bahan maupun awan pijar dan diendapkan di atas tanah atau dalam tubuh air. (Hienrich, 1956) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsolidasi-litififkasi bahan-bahan lepas yang dilemparkan dari pusat volkanik selama erupsi yang bersifat eksplosif. Bahan-bahan lepas tersebut bergerak dari pusat volkanik dalam medium gas, air atau angin. Segera terendapkan di atas tanah kering atau dalam tubuh air. Erupsi bawah laut - bahan piroklastik segera terendapkan melalui tubuh air ke dalam dasar samodra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATUAN BEKU FRAGMENTAL&lt;br /&gt;Batuan beku ini juga dikenal dengan nama batuan piroklastik yang merupakan bagian dari batuan vulkanik. Batuan fragmental secara khusus terbentuk oleh proses vulkanik yang eksplosif (letusan). Bahan-bahan yang diletuskan dari erupsi kemudian mengalami lithifikasi sebelum atau sesudah mengalami perombakan oleh air atau es.&lt;br /&gt;Secara genetic batuan beku fragmental dapat di bagi menjadi 4 tipe utama,yaitu :&lt;br /&gt;• endapan jatuhan piroklastik &lt;br /&gt;piroklast terlontar ke athmosfir dan jatuh ke bawah &lt;br /&gt;• endapan aliaran piroklastik&lt;br /&gt;konsentrasi partikel relatif tinggi yang bergerak di dasar/lereng volkan &lt;br /&gt;• pyroclastic surge deposits&lt;br /&gt;konsentrasi partikel relatif rendah yang bergerak menuruni dasar/lereng volkan &lt;br /&gt;• lahar                        &lt;br /&gt;(Indriyani dkk, 2007)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;KLASIFIKASI GENETIK ENDAPAN VOLKANIKLASTIK &lt;br /&gt;Klasifikasikan endapan volkaniklastik didasarkan pada proses pembentukan dan transportasi klastika, dan proses pengendapan. &lt;br /&gt;Prinsip gentik pengelompokkannya sbb : &lt;br /&gt;1. AUTOKLASTIK - non-eksplosiv, fragmentasi dari lava atau magma yang bergerak (autobrecctiotion &amp; quench fragmentation) &lt;br /&gt;2. PIROKLASTIK - dihasilkan dari erupsi eksplosiv dan terendapkan oleh aktifita  volkanik primer (jatuhan, aliran, surge)&lt;br /&gt;3. RESEDIMENTED SYN-ERUPTIVE VOLKANIKLASTIK - pengendapan kembali segera dari partikel erupsi piroklastik atau autoklastik &lt;br /&gt;4. SEDIMENT ASAL VOLKANIK - kumpulan volkaniklastik berisikan partikel-partikel berasal hasil pengerjaan atau erosi endapan volkanik dan diendapkan lama setelah erupsi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERUPSI EKSPLOSIV &lt;br /&gt;ERUPSI MAGMATIK EKSPLOSIV (EKSPLOSIVE MAGMATIC) / MAGMATIK HIDROTHERMAL) &lt;br /&gt;- Exsolution  dan ekspansi gas/uap yang berasal dari magma&lt;br /&gt;- Relatif erupsi kering - kontribusi air dari luar sedikit &lt;br /&gt;FREATOMAGMATIK (PHREATOMAGMATIC) &lt;br /&gt;- Uap dihasilkan dari interaksi magma (lava) dengan air berasal dari luar (groundwater) &lt;br /&gt;FREATIK (PHREATIC)&lt;br /&gt;- Letusan akibat uap air panas &lt;br /&gt;FREATOMAGMATIK (PHREATOMAGMATIC) &amp; FREATIK (PHREATIC)&lt;br /&gt; -    erupsi hidrovolkanik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Stuktur Batuan &lt;br /&gt; Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang berbeda. Pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan dilapangan. Pada batuan pyroclastic struktur yang sering ditemukan adalah :&lt;br /&gt;• Vesikuler&lt;br /&gt;Dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu:&lt;br /&gt;a. Skoriaan, bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.&lt;br /&gt;b. Pumisan, bila lubang-lubang gas saling berhubungan.&lt;br /&gt;c. Aliran, bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal maupun lubang-lubang gas&lt;br /&gt;• Amigdaloidal&lt;br /&gt;Bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder.&lt;br /&gt; (Indriyani dkk, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Klasifikasi Batuan Fragmental&lt;br /&gt;1. Ukuran Butir&lt;br /&gt;Batas kisaran butir dan peristilahannya tersaji dalam tabel berikut ini:&lt;br /&gt;256 Coarse Fine Block &amp; Bomb&lt;br /&gt;64 Lapili&lt;br /&gt;2 Coarse &lt;br /&gt;1/16 Fine Ash&lt;br /&gt;(Indriyani dkk, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Komposisi Fragmen Piroklastik&lt;br /&gt;Komponen – komponen dalam endapan piroklastik lebih mudah dikenali pada endapan muda atau sedikit terlitifikasi. Pada material piroklastik berukuran halus dan telah terlitifikasi, identifikasi sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tingkatan dan Tipe Welding&lt;br /&gt;Jika material piroklastik khususnya yang berbutir halus terdeposisikan saat masih panas, maka butiran – butiran itu seakan – akan terelaskan atau terpateri satu sama lain. Peristiwa ini disebut welding. Welding pada umumnya dijumpai pada piroklastik aliran namun kadang – kadang juga dijumpai pada endapan jatuhan.&lt;br /&gt;(Indriyani dkk, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CAMPURAN PIROKLASTIK DAN EPIKLASTIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi Tuf (Tuff/Ash)&lt;br /&gt;SECARA PEMERIAN &lt;br /&gt; Berdasarkan ukuran butir &lt;br /&gt; Tuf kasar - berukuran butir pasir (2 - 1/16 mm)&lt;br /&gt; Tuf halus - berukuran butir lanau-lempung (&lt;1/16 mm) &lt;br /&gt; Berdasarkan komposisi butiran&lt;br /&gt; vitric tuffs - tuf gelas&lt;br /&gt; cystall tuffs- tuf kristal&lt;br /&gt; lithic tuffs - tuf batu&lt;br /&gt; crystall vitric tuffs - tuf gelas kristal&lt;br /&gt; lithic crystall tuffs - tuf kristal batu &lt;br /&gt; Berdasarkan komposisi (mineral/kimia) batuan&lt;br /&gt; rhyolitic tuffs - tuf riolitik&lt;br /&gt; dasitc tuffs - tuf dasit&lt;br /&gt; andesitic tuffs - tuf andesitik&lt;br /&gt; andesit basaltic tuffs - tuf andesitik basaltik&lt;br /&gt; basaltic tuffs - tuf basalt&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Berdasarkan komposisi dominansi pumis atau skoria &lt;br /&gt; pomiceous tuffs - tuf pumis : basaltik-andesitik -------- erupsi strombolian&lt;br /&gt; scoriaceous tuffs - tuf skoria : dasitik-riolitik -------------- erupsi plinian,stratovolcano &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;lithic tuff -  tuf didominasi oleh fragmen batuan&lt;br /&gt;vitric tuff - tuf didominasi oleh pumis dan fragmen glas vulkanik &lt;br /&gt;crystal tuff - tuf didominasi oleh fragmen kristal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BREKSI GUNUNGAPI (VOLCANIC BRECCIAS) &lt;br /&gt;- Breksi Andesit - fragmen penyusun utama batuan andesit &lt;br /&gt;- Breksi Pumis - fragmen penyusun utama pumis &lt;br /&gt;- Breksi Skoria - fragmet penyusun utama skoria &lt;br /&gt;- Breksi Obsidian - fragmen penyusun utama obsidian&lt;br /&gt;- Breksi Hialoklastik - fragmen penyusun utama hialoklastik &lt;br /&gt;- BREKSI TUF - fragmen penyusun utama tuf prosentase fragmen dan matrik didominasi oleh tuf &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGLOMERAT DAN KONGLOMERAT GUNUNGAPI &lt;br /&gt;- Konglomerat gunung api (volcanic conglomerates) &lt;br /&gt;batuan klastika gunungapi, dimana fragmennya berbentuk bulat karena proses abrasi, transportasi dan proses-proses pengerjaan kembali lainnya. &lt;br /&gt;- Aglomerat (aglomerates) &lt;br /&gt;batuan klastika gunungapi yang didominasi oleh bom gunungapi hasil lontaran erupsi eksplosif gunungapi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-4523894458003013333?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/4523894458003013333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-piroklastik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/4523894458003013333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/4523894458003013333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-piroklastik.html' title='BATUAN PIROKLASTIK'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-8168631407719470164</id><published>2009-11-16T06:13:00.001-08:00</published><updated>2009-11-16T06:29:35.034-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batuan beku'/><title type='text'>BATUAN BEKU</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ch312u%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ch312u%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Ch312u%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;    &lt;w:usefelayout/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:modern; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho"; 	mso-fareast-language:JA;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:165370193; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1359255408 591676946 904963102 -1733666850 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-text:"II\.3\.%1\."; 	mso-level-tab-stop:102.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:102.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Arial","sans-serif";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 	{mso-level-text:"II\.4\.%3\."; 	mso-level-tab-stop:117.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:117.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:788816722; 	mso-list-template-ids:-14133168;} @list l1:level1 	{mso-level-text:"II\.%1"; 	mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 	{mso-level-text:"1\.%1\.%2\."; 	mso-level-tab-stop:39.6pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:39.6pt; 	text-indent:-21.6pt;} @list l1:level3 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\."; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:61.2pt; 	text-indent:-25.2pt;} @list l1:level4 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\."; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:86.4pt; 	text-indent:-32.4pt;} @list l1:level5 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\."; 	mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:111.6pt; 	text-indent:-39.6pt;} @list l1:level6 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\."; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:136.8pt; 	text-indent:-46.8pt;} @list l1:level7 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\."; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-54.0pt;} @list l1:level8 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\."; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:187.2pt; 	text-indent:-61.2pt;} @list l1:level9 	{mso-level-text:"%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9\."; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:216.0pt; 	text-indent:-72.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:961108008; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:2142390644 -872668692 -1931022912 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} @list l2:level2 	{mso-level-text:"III\.3\.%2\."; 	mso-level-tab-stop:60.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:60.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:1022822417; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1651573410 -1811379946 1066553486 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-text:"II\.2\.%1\."; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 	{mso-level-text:"II\.2\.%2\."; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4 	{mso-list-id:1663192630; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1802740116 -342303002 67698693 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l4:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:1942639351; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:585661930 67698693 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings;} @list l5:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:180.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: center; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;BATUAN BEKU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Poses Pembentukan batuan beku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku adalah batuan yang terbentuk langsung dari proses pembekuaan magma baik secara ekstrusif ( membeku di luar permukaan bumi) maupun secara intrusif ( membeku di dalam permukaan bumi ), yaitu proses perubahan fase dari fase cair menjadi fase padat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(Bates dan Jakson, 1990)&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pembagian batuan beku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berdasarkan genetik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku berdasarkan genesa dapat dibedakan menjadi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku intrusif adalah batuan yang membeku di bawah permukaan bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku ekstusif adalah batuan yang membeku permukaan bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Disamping itu batuan beku dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku volkanik yang merupakan hasil proses volkanisme &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuaan beku hipabisal yang merupakan produk intrusi minor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;batuan beku plutonik yang terbentuk jauh didalam bmi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Komposisi kimia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berdasarkan kandungan silika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;batuan beku asam mengandung silika &gt; 66%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;batuan beku intermediet menganndung silika 52- 66%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;batuan beku basa mengandung silika 45- 66%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;batuan beku ultra basa &lt;&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 2cm; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berdasarkan kandungan mineral mafik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;leucocratik mengandung mineral mafik 0- 33%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;mesocratic mengandung mineral mafik 34- 66%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;melanocratic mengandung mineral mafik 67- 100%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Faktor- faktor yang diperhatikan dalam deskripsi batuan beku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Warna&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Warna batuan beku berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya, sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai gelasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku yang bewarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik misalnya: kuarsa, potas felspar, muskovit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku yang bewarna gelap sampai hitam umumnya adalah batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dam mafiknya hampir sama banyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku yang bewarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Batuan beku yang bewarna hijau kelam dan biasanya monomineralik disebut batuan beku ultrabasa dengan komposisi hampir seluruhnya mineral mafik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Struktur&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Struktur adalah kenampakan hubungannya antar bagian-bagian batuan yang berbeda. Pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;masif yaitu bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;jointing yaitu bila batuan tampak mempunyai retakan-retakan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;vesikuler yaitu dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;skoriaan yaitu bila lubang lubang gas tidak saling berhubungan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;pumisan yaitu bila lubang-lubang gas saling berhubungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;aliran yaitu bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristalnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;amigdaloidal yaitu bila lubng-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tekstur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tekstur adalah kenampakan butir-butir mineral di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukran butir, bentuk butir, granularitas dan hubungan antar butir (fabric). Pengamatan tekstur meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tingkat kristalisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;holokristalin yaitu bila seluruh batuan tersusun atas kristal-kristal mineral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;hypokristalin yaitu bila batuan beku terdiri dari sebagian kristal dan sebagian gelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 96pt; text-align: justify; text-indent: -16.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;holohyalin yaitu bila seluruh batuan tersusun atas gelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;ukuran kristal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;halus&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;sedang&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;1-5mm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;kasar&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;5-30mm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;sangat kasar&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&gt;30mm&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;granularitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;equigranular yaitu apabila memiliki ukuran kristal yang seragam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;- &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;fanerik granular yaitu apabila kristal mineral dapat dibedakan dengan mata telanjang dan berukuran seragam. Contoh: granit dan gabro&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;- &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;afanitik yaitu apabila kristal mineral sangat halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Contoh : basalt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;inequigranular&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.75pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;- &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;faneroporfiritik yaitu bila kristal mineral yang besar (fenokris) dikelilingi kristal mineral yang lebih kecil (masa dasar) dan dapat dikenal dengan mata telanjang. Contoh : diorit porfir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 107.75pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;- &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;porfiroafanitik yaiyu bila fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik. Contoh : andesit porfir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;gelasan (glassy)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Yaitu semua tersusun atas gelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;bentuk kristal &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;euhedral adalah apabila bentuk kristal sempurna dan dibatasi oleh bidang-bidang kristal yang jelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 96pt; text-align: justify; text-indent: -16.6pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;subhedral adalah apabila bentuk kristal tidak sempurna dan hanya sebagian saja yang di batasi oleh bidang-bidang kristal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 93.6pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;anhedral adalah apabila batas bidang kristal tidak jelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Komposisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; Mineral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;kelompok granit-riolit, berasal dari magma yang bersifat asam, terutama tersusun oleh mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas Na, kadang terdapat hornblende, biotit, muskovit dalam jumlah kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;kelompok diorit andesit berasal dari magma yang bersifat dari intermediet, terutama tersusun atas mineral-mineral plagoklas, hornblende, piroksen dan kuarsa biotit, ortoklas dalam jumlah kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;kelompok gabro-basalt, tersusun dari magma asal yang bersifat basa dan terdiri dari mineral-mineal olivin, plagioklas Ca, piroksen dan hornblende&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;kelompok uktra basa terutamatersusun oleh olivin, piroksen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Klasifikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;b style=""&gt;Batuan&lt;/b&gt; &lt;b style=""&gt;Beku&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;non fragmental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku non fragmental berupa batuan beku intrusif ataupun aliran lava yang tersusun atas kristal-kristal mineral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 62.35pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku fragmental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;batuan beku fragmental juga dikenal sebagai batuan piroklastik yang merupakan bagian batuan volkanik. Batuan fragmental ni secara khusus terbentuk oleh proses volkanik yang eksplosif ( letusan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.2pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Secara genetik batuan fragmental dapat dibagi menjadi empat tipe utama yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;endapan jatuhan piroklastik (pyroclastik fall deposits)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Endapan ini di hasilkan dari erupsi eksplosif yang melemparkan material-material volkanik ke atmosfer dan jatuh di sekitar pusat erupsi. Ciri yang nampak dari endapan ini adalah sortasi ( pemilahan yang baik) dan beberapa struktur yang mirip dengan struktur pada strata sedimen, anatara lain kenampakan gradasi normal pada oumis maupun lithic fragments&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;endapan aliran piroklastik ( pyroclastic flow deposits)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Endapan ini dihasilkan dari gerakan material piroklastik kearah lateral berupa aliran gas atau material setengah padat berkonsentrasi tinggi diatas permukaan tanah. Ciri yang dijumpai sortasi yang jelek dan jika ada perlapisan maka pada lithic fragments dijumpai gradasi normal sedangkan pada pumis dijumpai gradasi yang berlawanan (reverse grading)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;pyroclastic surge deposits&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mirip dengan flow deposits namun material piroklastik berada dalam media gas atau padatan berkonsentrasi rendah. Struktur yang mencirikan endapan ini antara lain : perlapisan silang siur, dune, anti dune, laminasi planar, baji dan bergelombang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 79.4pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;lahar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lahar adalah media pembawa berupa air denga suhu rendah maka terbentuk semacam aliran lumpur. Istilah lahar ini berasal dari bahasa indonesia yang digunakan secara internasional&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-8168631407719470164?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/8168631407719470164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-beku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8168631407719470164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8168631407719470164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/11/batuan-beku.html' title='BATUAN BEKU'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-8066688725276039268</id><published>2009-07-31T05:16:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T05:37:00.223-07:00</updated><title type='text'>SNMPTN 2009</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;IKAMMI SEMARANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan Mahasiswa Minang Semarang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;Merupakan sebuah wadah tempat berkumpulnya mahasiswa minag yang berkuliah di kota semarang.&lt;br /&gt;Mahasiswa Minang Semarang sebagai bagian integral masyarakat Minang membutuhkan wadah untuk aktualisasi dan pengembangan diri di tengah - tengah kehidupan masyarakat yang terikat dengan nilai - nilai normatif serta fungsi - fungsi sosial dalam kehidupan sehari - hari. Disamping itu dengan bertambahnya jumlah mahasiswa Minang yang berada di Semarang dan juga keinginan dari angggota diadakanlah reorientasi organisasi, maka dibentuklah Ikatan Mahasiswa Minang Semarang disingkat dengan IKAMMI Semarang pada tanggal 15 Desember 1994.&lt;br /&gt;     Awalnya hanya sebagai tempat berkumpul "malapeh taragak" akhirnya berkembang menjadi sebuah organisasi dengan visi dan tujuan yang dijabarkan&lt;br /&gt;dalam program kerja. Semua itu dapat dicapai berkat rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu&lt;br /&gt;kami mencari teman-teman dari ranah minang yang pada kesempatan kali ini lulus di Undip dan Univ lainnya di kota Semarang&lt;br /&gt;untuk bergabung di IKAMMI Semarang&lt;br /&gt;untuk nantinya akan dibantu dalam hal :&lt;br /&gt;1.penjemputan&lt;br /&gt;2.pencarian kost&lt;br /&gt;3.registrasi&lt;br /&gt;4.proses adaptasi di kota semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk itu mohon menghubungi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru Haryadi : 081363209676&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk melihat hasil pengumuman SNMPTN 2009 ini bisa melihat di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;snmptn.undip.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;snmptn.ui.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;snmptn.itb.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;snmptn.its.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditunggu di semarang yo kawan-kawan !!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam dari dunsanak di semarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-8066688725276039268?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/8066688725276039268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/07/snmptn-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8066688725276039268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/8066688725276039268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/07/snmptn-2009.html' title='SNMPTN 2009'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1453440756386153566.post-1093339195066589072</id><published>2009-07-20T03:29:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T03:31:58.661-07:00</updated><title type='text'>goresan hidup</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Gores demi gores tinta hidupku tertulis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Terangkai dalam kata demi kata yang beruntai dalam kumpulan penuh makna&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Yang bahkan raga ini pun belum bisa memaknainya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Dalam setiap desah nafas yang`ada&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Meski kucoba mengikuti setiap aksara itu dengan penuh&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Eja ku eja, tetap tak terucap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Lafasnya meski kukenal tapi begitu asing terasa&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Hingga tetesan keringat terakhirku mengering&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Tetap tiada satu katapun terucap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Apa diriku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Dalam dilema dunia..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Hingga kulupa semua&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Meski membayangi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Tapi tak jelas olehku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Apa diriku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Bagaimana?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Dari mana?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Akan kemana?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;Ingin kujawab dengan ribuan rangkai kata&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;tiada celah tak terbantah…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;dan yang terucap&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;apa diriku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                &lt;/span&gt;Semarang 01.24 WIB Sabtu 11 juli 2009 Heru Haryadi&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; font-family: lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1453440756386153566-1093339195066589072?l=heruharyadi27.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/feeds/1093339195066589072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/07/goresan-hidup.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1093339195066589072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1453440756386153566/posts/default/1093339195066589072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://heruharyadi27.blogspot.com/2009/07/goresan-hidup.html' title='goresan hidup'/><author><name>Heru Haryadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05859685810520522927</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-YR2l4JpQTQA/TezsaQoI5fI/AAAAAAAAABs/aYmnu1nsL0k/s220/IMG_6055.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
